Menanam pohon bisa mendinginkan bumi, tetapi dampaknya sangat bergantung pada lokasi, bukan sekadar luas area reboisasi.
Ringkasan
- Lokasi reboisasi lebih menentukan dampak pendinginan global dibanding luas area penanaman.
- Menanam pohon di wilayah tropis lebih efektif daripada di daerah kutub atau bersalju.
- Reboisasi membantu, tetapi bukan solusi tunggal untuk mengatasi perubahan iklim.
SEBUAH studi mengungkap fakta yang cukup “menampar” asumsi lama tentang reboisasi, "lebih banyak pohon tidak selalu berarti hasil yang lebih baik."
Dalam konteks perubahan iklim, ternyata di mana pohon ditanam bisa jauh lebih penting daripada berapa banyak pohon yang ditanam.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Communications Earth and Environment ini dipimpin oleh Nora Fahrenbach dari ETH Zurich.
Ia dan timnya mencoba menjawab pertanyaan sederhana tapi krusial, apakah semua upaya reboisasi punya dampak pendinginan yang sama?
Jawabannya: tidak.
Selama ini, banyak kebijakan lingkungan global mengusung prinsip “lebih banyak lebih baik”, misalnya kampanye menanam triliunan pohon untuk menyerap karbon.
Namun, studi ini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut terlalu menyederhanakan persoalan.
Para peneliti membandingkan tiga skenario reboisasi global.
Skenario pertama menanam hutan di area sekitar 926 juta hektare, sebagian besar di wilayah tropis, dan menghasilkan penurunan suhu global sekitar 0,25°C pada tahun 2100.
Skenario kedua mencakup area hampir sama luasnya (894 juta hektare), tetapi mencakup wilayah lintang tinggi seperti Amerika Utara bagian utara dan wilayah kutub, hasilnya justru lebih kecil, hanya sekitar 0,13°C pendinginan.
Yang paling menarik, skenario ketiga hanya melibatkan sekitar 440 juta hektare (kurang dari setengah skenario lain), tetapi fokus di wilayah tropis dan subtropis.
Hasilnya? Pendinginan yang sama dengan skenario kedua, yakni sekitar 0,13°C.
Artinya, strategi yang tepat bisa menghasilkan dampak yang sama dengan usaha dua kali lebih besar.
Kenapa bisa begitu? Jawabannya ada pada dua mekanisme utama: efek biogeokimia dan biogeofisika.
Efek biogeokimia cukup familiar, pohon menyerap karbon dioksida dari atmosfer, sehingga membantu mengurangi pemanasan global. Inilah alasan utama mengapa reboisasi sering dipromosikan.
Namun, efek biogeofisika sering terabaikan. Ini berkaitan dengan perubahan fisik permukaan bumi.
Misalnya, menanam pohon di daerah bersalju seperti Siberia atau Alaska justru membuat permukaan bumi lebih gelap (menurunkan albedo), sehingga menyerap lebih banyak panas matahari.
Alih-alih mendinginkan, efek ini bisa menyebabkan pemanasan lokal yang bahkan berdampak global.
Menariknya lagi, dampak reboisasi tidak berhenti di lokasi penanaman.
Studi ini menemukan bahwa perubahan di satu wilayah bisa memengaruhi suhu di tempat lain, bahkan hingga ke Samudra Atlantik dan Hindia. Hal ini menunjukkan betapa terhubungnya sistem iklim bumi.
Sayangnya, banyak kebijakan global, termasuk dalam kerangka Paris Agreement dan program REDD+, masih terlalu fokus pada kemampuan pohon menyerap karbon, tanpa cukup mempertimbangkan efek biogeofisika ini.
Menurut Emilio Vilanova dari organisasi iklim Verra, pesan utama dari studi ini jelas, reboisasi bukan sekadar menanam pohon, tapi merancang lokasi penanaman secara strategis agar manfaatnya maksimal dan efek sampingnya minimal.
Meski demikian, penting juga untuk tidak terlalu overhope. Bahkan dalam skenario terbaik, reboisasi hanya mampu menurunkan suhu global sekitar 0,13 hingga 0,25°C pada akhir abad ini.
Angka ini memang berarti, tetapi tidak cukup untuk menjadi solusi tunggal perubahan iklim.
Penelitian lain juga mendukung pandangan ini.
Laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change menegaskan, solusi berbasis alam seperti reboisasi harus dikombinasikan dengan pengurangan emisi karbon secara signifikan dari sektor energi dan industri. Tanpa itu, dampaknya akan sangat terbatas.
Kesimpulannya sederhana tapi penting: menanam pohon tetap perlu, tetapi harus cerdas.
Fokus pada wilayah tropis dan subtropis, pertimbangkan dampak globalnya, dan jangan berharap reboisasi menjadi “obat ajaib” untuk krisis iklim.
Disadur dari Eos - Location, Location, Location: The “Where” of Reforestation May Matter More Than the Extent

إرسال تعليق