Kebebasan Memang Bisa Bikin Bahagia, Asal Dompet Tebal

Kebebasan memilih hanya akan memberikan kebahagiaan maksimal jika kebutuhan dasar finansial seseorang sudah terpenuhi dengan baik.


Kebebasan memilih hanya akan memberikan kebahagiaan maksimal jika kebutuhan dasar finansial seseorang sudah terpenuhi dengan baik.Ilustrasi: benxoix/Freepik


Ringkasan

  • Sebuah studi global terhadap 100.000 orang di 66 negara menemukan bahwa otonomi pribadi (kebebasan memilih) meningkatkan kebahagiaan di hampir seluruh dunia.
  • Hubungan antara kebebasan dan kebahagiaan jauh lebih kuat di negara maju dibandingkan negara berkembang karena faktor keamanan finansial.
  • Di negara miskin, kebutuhan dasar untuk bertahan hidup lebih diprioritaskan daripada nilai-nilai kebebasan berekspresi atau pilihan hidup.


SIAPA yang tidak ingin bebas menentukan jalan hidupnya sendiri. Kita semua sepakat bahwa punya kontrol atas pilihan hidup adalah kunci menuju kebahagiaan. 


Namun, sebuah penelitian besar yang diterbitkan dalam jurnal Social Indicators Research baru-baru ini mengungkap fakta menarik.


Menurut temuan peneliti, ternyata dampak "kebebasan" terhadap kebahagiaan sangat bergantung pada seberapa tebal dompet negara tempat tinggal kita.


Para peneliti menganalisis data dari hampir 100.000 orang di 66 negara melalui World Values Survey. Hasilnya mengejutkan sekaligus masuk akal. 


Kekayaan nasional sebuah negara menyumbang 38% perbedaan tentang bagaimana kebebasan memengaruhi kebahagiaan. 


Singkatnya, di negara kaya, kebebasan individu bikin orang jauh lebih bahagia. Sementara di negara yang lebih miskin, efeknya tidak sekuat itu.


Mengapa hal ini terjadi? Para peneliti menjelaskan bahwa ketika hidup masih merupakan perjuangan keras hanya untuk sekadar makan, orang cenderung tidak terlalu mementingkan nilai-nilai otonomi atau kebebasan memilih. 


"Saat Anda khawatir tentang bagaimana cara menaruh makanan di atas meja, memiliki kebebasan untuk memilih jalur karier atau hobi menjadi kurang relevan," tulis laporan tersebut.


Menariknya, pola ini tetap berlaku bahkan setelah para peneliti memperhitungkan faktor usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pendapatan pribadi. 


Di negara-negara makmur, pergeseran budaya terjadi. Ketika kelangsungan hidup bukan lagi masalah utama, orang-orang mulai beralih ke nilai-nilai ekspresi diri. 


Itulah yang membuat "hadiah psikologis" dari sebuah kebebasan terasa lebih manis.


Meski tingkat kekayaan berpengaruh, studi ini juga membuktikan bahwa kebebasan memilih tetap menjadi prediktor kebahagiaan terkuat di hampir semua tempat. 


Dari 66 negara yang diteliti, 64 negara menunjukkan hubungan positif antara otonomi dan kebahagiaan. 


Hanya Nigeria, Lebanon, dan Irak yang menunjukkan anomali, di mana hubungan ini tidak terlalu signifikan karena situasi konflik atau ketidakstabilan ekonomi yang ekstrem.


Penelitian ini juga diperkuat oleh materi relevan dari Laporan Kebahagiaan Dunia (World Happiness Report) yang rutin dirilis PBB. 


Mengutip dari World Happiness Report 2024, negara-negara Nordik seperti Finlandia dan Denmark secara konsisten menempati urutan teratas.


Hal itu bukan hanya karena pendapatan per kapita yang tinggi, tetapi karena adanya sistem dukungan sosial yang memberikan rasa aman bagi warganya untuk berani mengambil pilihan hidup (kebebasan).


Temuan ini memberikan pesan penting bagi para pembuat kebijakan. Di negara maju, kebijakan yang mendukung otonomi individu sangatlah krusial. 


Namun, di negara dengan pendapatan rendah, prioritas utama tetaplah menjamin keamanan material dan kebutuhan dasar warga. Tanpa perut yang kenyang, narasi tentang kebebasan sulit untuk dikonversi menjadi kebahagiaan yang nyata.


Pada akhirnya, uang mungkin tidak bisa membeli kebahagiaan secara langsung, tetapi uang, dalam skala nasional, menciptakan landasan yang memungkinkan kebebasan kita untuk benar-benar bersinar.


Disadur dari StudyFinds - Money Shapes How Much Freedom Matters for Happiness, Global Study Finds. 




Post a Comment

أحدث أقدم