Sekelompok ilmuwan lintas negara kini tengah mengembangkan metode ilmiah untuk mengukur rasa gembira pada hewan guna memahami sisi emosional mereka.
Ringkasan
- Setelah puluhan tahun fokus pada rasa sakit dan stres, ilmuwan kini mulai serius meneliti emosi positif (kegembiraan) pada hewan.
- Proyek "Joy-o-meter" dikembangkan untuk mengukur kebahagiaan melalui suara, perilaku optimistis, hingga perubahan hormon pada kera, burung kea, dan lumba-lumba.
- Penelitian ini penting untuk meningkatkan kesejahteraan hewan di penangkaran dan memahami akar kebahagiaan pada manusia.
PERNAHKAH kamu melihat kucing mengejar ekor temannya dengan penuh semangat, atau anjing yang melompat kegirangan saat kamu pulang?
Bagi pemilik hewan peliharaan, jawabannya jelas bahwa hewan pasti bisa merasa bahagia. Namun, di dunia sains, membuktikan "kegembiraan" atau positive affect jauh lebih rumit daripada sekadar melihat ekor yang bergoyang.
Selama puluhan tahun, para peneliti cenderung menghindari topik perasaan hewan karena dianggap terlalu subjektif atau "sok manusia" (anthropomorphism).
Ilmu pengetahuan lebih banyak menghabiskan waktu meneliti rasa takut, stres, dan penderitaan.
Mengapa? Karena mengukur hewan yang membeku ketakutan jauh lebih mudah daripada mengukur kepuasan batin seekor burung yang sedang bermain salju.
Kini, tren tersebut mulai berbalik. Erica Cartmill dari Indiana University Bloomington bersama rekan-rekannya sedang menjalankan misi ambisius, menciptakan "Joy-o-meter" atau metrik kebahagiaan universal.
Mereka tidak hanya meneliti primata, tapi juga lumba-lumba dan burung paruh bengkok kea yang cerdas.
"Tujuan utamanya adalah membangun pendekatan ilmiah serius terhadap emosi positif hewan yang selama ini sangat terabaikan," ujar Cartmill.
Di Senegal dan berbagai kebun binatang, tim peneliti mulai menemukan petunjuk.
Simpanse liar tertangkap kamera sedang berpelukan, berciuman, hingga bergulingan sambil mengeluarkan suara napas pendek yang mirip tawa manusia.
Di laboratorium, primatolog Sasha Winkler melakukan eksperimen menarik pada bonobo. Ia menggunakan tes yang biasa dipakai untuk mendeteksi depresi pada manusia.
Bonobo dilatih untuk bereksperimen dengan kotak abu-abu yang bisa jadi berisi anggur lezat (hadiah) atau kosong.
Hasilnya? Setelah mendengarkan rekaman suara tawa bayi bonobo, kera-kera ini menjadi lebih "optimis" dan lebih sering memeriksa kotak tersebut, berharap ada hadiah di dalamnya.
Ini membuktikan bahwa suasana hati mereka membaik setelah mendengar suara keceriaan sesamanya.
Beralih ke Selandia Baru, ada burung kea yang sangat nakal namun cerdas. Peneliti Ximena Nelson mengamati burung-burung ini membuat bola salju dan meluncur di atap pondok ski hanya untuk bersenang-senang.
Burung kea juga punya "panggilan perang" unik yang bersifat menular, mirip seperti tawa manusia yang memancing orang lain ikut tertawa.
Untuk mengukurnya secara objektif, para peneliti bahkan sampai mengumpulkan sampel kotoran burung kea setelah mereka bermain salju untuk mengecek kadar hormon oksitosin (hormon kasih sayang) dan kortisol (hormon stres).
Lain lagi dengan lumba-lumba. Meski wajah mereka selalu terlihat "tersenyum", itu hanyalah struktur anatomi.
Untuk mengetahui kebahagiaan aslinya, peneliti memantau victory squeal atau pekikan kemenangan. Suara ini biasanya muncul saat mereka berhasil menangkap ikan atau mendapat kejutan hadiah.
Menariknya, lumba-lumba akan memekik lebih sering jika pelatih mereka juga menunjukkan ekspresi kegirangan yang sama.
Melansir dari National Geographic dan Psychology Today, memahami emosi positif bukan sekadar soal rasa penasaran. Hal ini sangat krusial bagi kesejahteraan hewan di kebun binatang atau pusat rehabilitasi.
Hewan yang hanya "bebas dari rasa sakit" belum tentu memiliki kehidupan yang berkualitas. Mereka butuh stimulasi yang memicu kegembiraan.
Pada akhirnya, meneliti kebahagiaan hewan juga memberikan cermin bagi kita sendiri.
Seperti yang diungkapkan oleh pakar perilaku hewan Marc Bekoff, dengan memahami apa yang membuat hewan bahagia, kita mungkin akan mendapatkan petunjuk tentang apa sebenarnya yang membuat hidup kita sendiri menjadi lebih bermakna.
Disadur dari Science News - Animals experience joy. Scientists want to measure it.
.jpg)
إرسال تعليق