Sekitar 1.500 tahun lalu, masyarakat Korea kuno diduga mengorbankan seluruh keluarga demi menghormati elite penguasa.
Penggalian makam di kompleks pemakaman Joyeong di Gyeongsan, Korea Selatan. Ilustrasi diolah oleh AI berdasarkan foto dari Gyeongsan City via Live ScienceRingkasan
- Penelitian DNA mengungkap praktik pengorbanan manusia (sunjang) di Korea kuno, bahkan melibatkan seluruh keluarga.
- Ditemukan sistem kekerabatan erat dan perkawinan sedarah di kalangan elite maupun korban.
- Struktur keluarga berfokus pada garis ibu, berbeda dari banyak masyarakat kuno lainnya.
SEBUAH penelitian genetika terbaru mengungkap sisi gelap praktik sosial di Semenanjung Korea pada masa lampau.
Analisis DNA terhadap puluhan kerangka manusia menunjukkan, masyarakat kuno ini melakukan pengorbanan atau menumbalkan manusia.
Tak hanya itu, mereka juga memiliki sistem kekerabatan yang rapat, bahkan melibatkan perkawinan antar kerabat dekat.
Studi ini dipublikasikan pada April 2026 dalam jurnal ilmiah Science Advances, dan meneliti 78 kerangka dari kompleks pemakaman Imdang-Joyeong di wilayah Gyeongsan, Korea Selatan.
Situs ini berasal dari periode Tiga Kerajaan Korea, khususnya di bawah kekuasaan Kerajaan Silla.
Para peneliti menemukan hubungan keluarga yang sangat erat di antara individu-individu yang dimakamkan.
Terdapat 11 pasangan kerabat tingkat pertama, seperti orang tua dan anak atau saudara kandung, serta 23 pasangan kerabat tingkat kedua, seperti kakek-cucu atau bibi-keponakan.
Temuan ini menunjukkan bahwa orang-orang pada masa itu cenderung dimakamkan bersama keluarga dekat mereka.
Bahkan, melalui analisis genom, ilmuwan berhasil merekonstruksi 13 pohon keluarga yang saling terhubung selama lebih dari satu abad.
Menariknya, sistem kekerabatan ini tampaknya berfokus pada garis ibu, berbeda dari banyak masyarakat kuno lain yang umumnya patriarkal.
Namun, temuan paling mencolok adalah bukti praktik pengorbanan manusia yang dikenal sebagai sunjang. Dalam tradisi ini, pelayan atau pengikut setia dikorbankan dan dikubur bersama bangsawan atau pemilik makam.
Penelitian ini menemukan tiga kasus di mana orang tua dan anak mereka dikuburkan bersama sebagai korban pengorbanan.
Artinya, bukan hanya individu, tetapi seluruh keluarga bisa menjadi “persembahan” bagi elite.
Lebih mengejutkan lagi, ada indikasi bahwa praktik ini bersifat turun-temurun.
Beberapa keluarga tampaknya secara generasi menjadi kelompok yang “ditakdirkan” untuk dikorbankan, semacam kasta pengorbanan dalam masyarakat.
Selain itu, lima individu dalam studi ini, baik dari kalangan elite maupun korban, terbukti merupakan hasil dari hubungan antar kerabat dekat, termasuk sepupu pertama.
Ini mengonfirmasi bahwa praktik perkawinan sedarah (consanguineous marriage) tidak hanya terjadi di kalangan bangsawan, tetapi juga di antara mereka yang dikorbankan.
Praktik ini mungkin berkaitan dengan upaya menjaga kemurnian garis keturunan atau mempertahankan struktur sosial tertentu.
Menurut ahli yang tidak terlibat dalam penelitian ini, temuan tersebut sangat penting karena bukti kerangka dari periode ini sangat langka.
Studi ini membuka kemungkinan baru dalam memahami struktur sosial, kekerasan yang dilembagakan, serta mobilitas sosial di masa Kerajaan Silla.
Lebih jauh, temuan ini juga menantang asumsi lama bahwa masyarakat kuno Korea sepenuhnya berpusat pada garis keturunan laki-laki.
Sebaliknya, data menunjukkan adanya peran signifikan garis ibu dalam struktur keluarga.
Penelitian ini merupakan analisis genom skala penuh pertama dari periode Tiga Kerajaan Korea.
Para ilmuwan berharap studi lanjutan di kawasan Asia Timur dapat mengungkap lebih banyak tentang dinamika populasi dan sistem keluarga di masa lalu.
Temuan ini bukan hanya tentang masa lalu yang jauh, tetapi juga tentang bagaimana kekuasaan, tradisi, dan struktur sosial bisa membentuk, bahkan mengorbankan, kehidupan manusia.
Sumber: Live Science - Ancient Korean society practiced human sacrifice and high inbreeding, researchers find
إرسال تعليق