Sisi Kelam Si Manipulatif, Berakar dari Luka Masa Kecil dan Rasa Tidak Aman

Sifat kepribadian manipulatif dan sinis ternyata berakar dari rasa tidak aman yang mendalam dalam hubungan sosial sejak masa kanak-kanak.


Sifat kepribadian manipulatif dan sinis ternyata berakar dari rasa tidak aman yang mendalam dalam hubungan sosial sejak masa kanak-kanak.Ilustrasi: Freepik


Ringkasan

  • Keterikatan emosional yang tidak aman berkorelasi positif dengan sifat Machiavellian.
  • Pola disorganized dan fearful-avoidant menunjukkan hubungan terkuat dengan manipulasi.
  • Machiavellianism dapat berfungsi sebagai mekanisme pertahanan akibat relasi awal yang rapuh.


KAMU mungkin pernah bertemu seseorang yang sangat lihai memanipulasi keadaan, cenderung dingin, dan menganggap orang lain hanyalah alat untuk mencapai tujuannya.


Dalam dunia psikologi, karakter seperti ini disebut sebagai Machiavellianism. Nama ini diambil dari Niccolò Machiavelli, tokoh politik yang terkenal dengan prinsip "tujuan menghalalkan segala cara."


Riset yang diterbitkan dalam Journal of Social and Personal Relationships menunjukkan bahwa orang-orang yang tampak "dingin" dan manipulatif ini sebenarnya tidak lahir begitu saja. 


Sebuah analisis data besar mengungkapkan bahwa sifat Machiavellian kemungkinan besar adalah tameng pelindung bagi mereka yang memiliki insecure attachment atau gaya kelekatan yang tidak aman.


Psikologi mengenal Attachment Theory yang dikembangkan oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth


Teori ini menjelaskan bahwa cara pengasuh (orang tua) merespons kita saat kecil menjadi "cetak biru" bagi semua hubungan kita di masa depan. 


Jika orang tua selalu ada dan suportif, kita akan tumbuh menjadi pribadi yang secure (aman), percaya diri dan percaya pada orang lain.


Sebaliknya, jika pengasuhan tidak konsisten atau penuh pengabaian, anak akan mengembangkan insecure attachment. 


Mereka tumbuh dengan ketakutan akan penolakan atau justru merasa tidak nyaman dengan keintiman. Di sinilah celah sifat Machiavellian muncul. 


Ketika seseorang tidak percaya bahwa orang lain bisa diandalkan, mereka mulai menggunakan strategi manipulasi sebagai cara untuk bertahan hidup secara sosial.


Tim peneliti yang dipimpin oleh Yihan Zhang dari University of Macau melakukan meta-analisis terhadap 27 artikel ilmiah dengan total responden lebih dari 13.000 orang. 


Hasilnya konsisten, semakin tinggi tingkat ketidakamanan seseorang dalam menjalin hubungan, semakin tinggi pula kecenderungan mereka berperilaku Machiavellian.


Penelitian ini menemukan bahwa tipe disorganized dan fearful-avoidant memiliki kaitan paling kuat dengan sifat manipulatif. 


Orang-orang dalam kategori ini biasanya pernah mengalami trauma atau pengasuhan yang menakutkan. Akibatnya, mereka merasa tidak layak dicintai dan menganggap dunia penuh dengan ancaman. 


"Lebih baik memanipulasi daripada dimanipulasi" menjadi semboyan bawah sadar mereka untuk melindungi diri.


Penting untuk diingat bahwa Machiavellianism merupakan bagian dari Dark Triad (Tiga Serangkai Gelap) dalam psikologi, bersama dengan narsisme dan psikopati. 


Mengutip dari Psychology Today, individu dengan skor Machiavellian tinggi sering kali memiliki tingkat empati yang rendah namun memiliki kecerdasan sosial yang tinggi untuk membaca kelemahan orang lain.


Studi dari Personality and Individual Differences juga mencatat bahwa lingkungan rumah yang kompetitif dan keras sering kali mendorong anak untuk mengadopsi taktik manipulatif agar kebutuhan dasar mereka terpenuhi. 


Ini memperkuat gagasan bahwa perilaku ini adalah hasil dari lingkungan yang tidak memberikan rasa aman emosional.


Kabar baiknya, penelitian ini memberikan sudut pandang baru bagi kesehatan mental. Sifat manipulatif bukan sekadar "pilihan sadar" untuk menjadi jahat, melainkan luka yang belum sembuh. 


Jika seorang terapis mampu membantu pasien memperbaiki gaya kelekatannya dan menyembuhkan rasa takut akan pengkhianatan, maka kebutuhan untuk memanipulasi orang lain secara otomatis akan berkurang.


Ternyata, di balik topeng yang dingin dan penuh tipu daya, sering kali ada sosok anak kecil yang hanya merasa takut dan tidak tahu cara untuk benar-benar terhubung dengan orang lain.


Disadur dari PsyPost - Insecure attachment is linked to Machiavellian personality traits.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama