Gelombang panas lembap makin sering terjadi secara global, mendorong kondisi cuaca mendekati batas aman fisiologis manusia.
Ringkasan
- Panas lembap ekstrem makin sering terjadi dan bisa mendekati batas aman fisiologis manusia.
- Timur Tengah, Afrika Utara, dan kawasan tropis paling rentan terhadap lonjakan suhu bola basah.
- Data menunjukkan rekor panas lembap 2023 tak mungkin terjadi tanpa perubahan iklim.
SAAT ini, kita sering mendengar tentang rekor suhu terpanas yang pecah di berbagai belahan dunia. Namun, ada satu faktor lain yang sering terlupakan tapi tak kalah mematikan, kelembapan.
Panas yang menyengat mungkin terasa membakar, tetapi panas yang lembap bisa membuat tubuh manusia merasa seperti "direbus" karena keringat tidak bisa menguap untuk mendinginkan suhu tubuh.
Baru-baru ini, sebuah studi yang dipimpin oleh Raymond dkk. dan dipublikasikan melalui AGU Advances (2025), mencoba membedah fenomena panas lembap ini.
Menggunakan data dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ERA5), para peneliti memetakan titik-titik panas lembap paling intens di seluruh dunia.
Hasilnya cukup mengejutkan, kelembapan ekstrem kini sudah mendekati batas fisiologis yang mampu ditangani manusia dengan aman.
Penelitian ini menemukan bahwa jika dibandingkan dengan iklim lokal, panas lembap paling ekstrem terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara. Kawasan tropis, termasuk wilayah seperti Asia Tenggara, berada di urutan kedua.
Di wilayah-wilayah ini, suhu bola basah (wet-bulb temperature), ukuran yang menggabungkan panas dan kelembapan, bisa mencapai 4 hingga 5 standar deviasi di atas rata-rata musim panas.
Bahkan di Timur Tengah dan Afrika Utara, durasi panas lembap ini bisa bertahan sangat lama, terkadang mencapai 20 hari atau lebih secara berturut-turut.
Kondisi tanpa henti ini sangat berbahaya karena tidak memberikan waktu bagi tubuh manusia maupun infrastruktur (seperti jaringan listrik akibat penggunaan AC yang masif) untuk beristirahat.
Mengapa kelembapan ekstrem ini sering datang bertubi-tubi? Para peneliti mencatat bahwa di daerah tropis, hari-hari paling lembap cenderung berkelompok di tahun-tahun tertentu.
Penyebab utamanya adalah fenomena El Niño. Saat El Niño aktif, suhu atmosfer dan kadar kelembapan meningkat secara bersamaan, menciptakan "badai sempurna" bagi suhu panas lembap yang ekstrem.
Tahun 2023 menjadi bukti nyata betapa perubahan iklim telah mengubah peta cuaca kita. Sebanyak 23 wilayah berbeda di dunia mencatatkan rekor kelembapan baru di tahun tersebut.
Peneliti menekankan bahwa tanpa adanya perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia, rekor-rekor berbahaya ini kemungkinan besar tidak akan pernah tercipta.
Diketahui, ambang batas kritis suhu bola basah bagi manusia yang sehat biasanya dianggap berada pada angka 35°C.
Di atas angka ini, tubuh manusia tidak lagi bisa mendinginkan diri dengan berkeringat, bahkan jika kita duduk diam di depan kipas angin sambil minum air.
Menurut laporan dari Climate Central, peningkatan suhu global sebesar 1°C saja dapat meningkatkan kapasitas atmosfer untuk menahan uap air sebesar 7%, yang berarti udara akan terasa semakin "berat" dan menyesakkan di masa depan.
Kini, tantangan para ilmuwan bukan lagi sekadar memprediksi kapan suhu akan naik, tapi bagaimana mempersiapkan masyarakat menghadapi udara lembap yang bisa membahayakan nyawa.
Disadur dari Eos.org - Temperatures Are Rising, but What About Humidity?

Posting Komentar