Cukup dengan Kedipan, Teknologi Pelacak Mata Futuristik Tanpa Baterai

Peneliti China memperkenalkan teknologi pelacak mata futuristik yang memanen energi dari kedipan mata, tanpa baterai eksternal.


Peneliti China memperkenalkan teknologi pelacak mata futuristik yang memanen energi dari kedipan mata, tanpa baterai eksternal.

Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan 

  • Peneliti China mengembangkan pelacak mata tanpa baterai yang memanen energi dari kedipan.
  • Teknologi berbasis triboelectric nanogenerator ini sangat presisi dan tetap akurat di kondisi ekstrem.
  • Berpotensi digunakan di bidang medis, VR, kendaraan cerdas, hingga eksplorasi luar angkasa.


TEKNOLOGI yang dulu hanya terasa mungkin di novel fiksi ilmiah kini mulai merambah laboratorium riset, seperti yang dilakukan oleh sekelompok peneliti dari Qingdao University, China.


Mereka mengumumkan pengembangan sistem eye-tracking (pelacak gerak mata) futuristik yang mampu menghasilkan energinya sendiri, cukup dari gesekan alami antara kelopak mata dan permukaan mata saat kita berkedip.


Inovasi ini dipublikasikan secara ilmiah dalam jurnal Cell Reports Physical Science


Sistem tersebut memanfaatkan prinsip triboelectric nanogenerators (TENG), teknologi yang mampu mengubah energi mekanik berskala sangat kecil menjadi listrik. 


Dalam hal ini, sumber energinya adalah aktivitas yang nyaris tak kita sadari, berkedip!


“Kami mengembangkan sistem pelacak mata mandiri energi yang memanen daya dari kedipan dan mampu mendeteksi gerakan mata dengan presisi tinggi,” ujar Yun-Ze Long, peneliti utama dari Qingdao University.


Di dunia nyata, teknologi pelacak mata memiliki peran besar, terutama bagi orang dengan keterbatasan mobilitas parah, seperti penderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS). 


Dengan teknologi ini, seseorang dapat mengendalikan kursi roda, mengetik, menjelajah internet, atau mengoperasikan perangkat Internet of Things (IoT) hanya dengan gerakan mata.


Namun, adopsi luas teknologi pelacak mata masih terhambat. Banyak perangkat yang ada saat ini berukuran besar, berat, membutuhkan daya listrik terus-menerus, serta performanya menurun di kondisi cahaya rendah. 


Penggunaan jangka panjang pun sering menimbulkan kelelahan mata.


Masalah-masalah inilah yang mendorong tim peneliti China tersebut merancang sistem yang lebih ringan, nyaman, berkelanjutan, dan, yang terpenting, tidak bergantung pada sumber daya eksternal.


Solusi mereka bertumpu pada teknologi TENG. Selama ini, TENG telah digunakan untuk memanen energi dari sumber yang sangat kecil, seperti tetesan hujan, keringat, atau uap air. 


Prinsipnya sederhana, gesekan antara dua material berbeda menghasilkan muatan listrik.


Dalam sistem ini, gesekan mikro antara kelopak mata dan permukaan mata saat berkedip menghasilkan cukup energi untuk menyalakan sensor pelacak mata. 


Untuk menguji konsep tersebut, para peneliti melakukan eksperimen pada mata kelinci di laboratorium.


Hasilnya, sistem tersebut mampu beroperasi sepenuhnya tanpa baterai eksternal. Bahkan, lapisan gesek yang digunakan terbukti mampu mempertahankan muatan listrik secara stabil di lingkungan biologis.


“Kami cukup terkejut melihat betapa baiknya lapisan gesek mempertahankan muatan pada mata kelinci,” kata Long.


Dari sisi kinerja, perangkat ini menunjukkan sensitivitas tinggi. Sistem pelacak mata mandiri energi tersebut mampu mendeteksi pergerakan mata sekecil dua derajat, dengan tingkat presisi mencapai 99 persen. 


Yang lebih mengesankan, akurasi ini tetap terjaga meski diuji dalam kondisi laboratorium yang penuh gangguan elektromagnetik.


Menurut Long, temuan ini membuktikan bahwa energi dari gerakan tubuh yang sangat halus, seperti berkedip, bisa dimanfaatkan secara nyata. 


“Teknologi ini dirancang ringan, nyaman, dan benar-benar membantu, terutama bagi mereka yang mengandalkan gerakan mata untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia,” ujarnya.


Selain aplikasi medis dan rehabilitasi, para peneliti melihat potensi besar teknologi ini di bidang lain. 


Dunia realitas virtual (VR) menjadi salah satu target, di mana pelacakan mata presisi tinggi dapat meningkatkan imersi dan kontrol pengguna. 


Bidang intelligent driving dan bahkan eksplorasi luar angkasa juga disebut sebagai aplikasi potensial, karena pemantauan gerak mata dapat memberikan informasi penting terkait fokus, kelelahan, dan keselamatan.


Keunggulan utama sistem ini adalah kemampuannya bekerja dalam gelap, tanpa sumber daya eksternal, serta desain yang ringan—bahkan digadang-gadang senyaman kacamata atau lensa kontak.


“Teknologi ini mengubah sesuatu yang sesederhana kedipan menjadi sumber energi dan kendali,” kata Long. Sebuah langkah kecil dari mata manusia, namun berpotensi besar bagi masa depan teknologi asistif.


Disadur dari The Debrief – Researchers Unveil Futuristic Eye-Tracking Technology That Sounds Like Something from Science Fiction.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama