Jejak Karbon Tersembunyi di Balik Canggihnya Perangkat Kesehatan Pintar

Perangkat atau wearable kesehatan pintar menyimpan jejak karbon besar, yang berpotensi melonjak drastis seiring ledakan penggunaannya secara global.


Perangkat atau wearable kesehatan pintar menyimpan jejak karbon besar, yang berpotensi melonjak drastis seiring ledakan penggunaannya secara global.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Setiap wearable kesehatan menyumbang 1,1–6,1 kg CO₂ ekuivalen sepanjang siklus hidupnya.
  • Ledakan penggunaan hingga 2050 berpotensi menambah 3,4 juta ton emisi CO₂ per tahun.
  • Desain modular, substitusi logam kritis, dan energi terbarukan paling efektif menekan dampak lingkungan.


KITA mungkin merasa lebih sehat dan gaya dengan melingkarkan jam tangan pintar atau menempelkan sensor glukosa di lengan. Namun, sesuatu yang buruk mengintip.


Penelitian dari University of Chicago dan Cornell University mengungkap, satu perangkat pemantau glukosa ternyata memiliki jejak karbon setara dengan mengendarai mobil berbahan bakar bensin sejauh 8 kilometer.


Masalahnya bukan pada satu alat saja, melainkan skalanya. Para peneliti memprediksi konsumsi perangkat ini akan melonjak 42 kali lipat pada tahun 2050, mencapai hampir 2 miliar unit per tahun. 


Jika tidak ada perubahan, perangkat-perangkat kecil ini akan menyumbang 3,4 juta metrik ton emisi  setiap tahunnya, setara dengan seluruh jejak karbon sektor transportasi di kota besar seperti Chicago, AS.


Banyak orang mengira plastik adalah musuh utama lingkungan. Namun, studi ini menemukan bahwa lebih dari 95% dampak lingkungan berasal dari papan sirkuit cetak (PCB) dan semikonduktor di dalam perangkat. 


Emas, silikon, dan baterai membutuhkan energi yang sangat besar untuk dimurnikan dan diproses.


Lama penggunaan juga menjadi faktor kunci. Sensor glukosa, misalnya, sering kali hanya bertahan 14 hari sebelum dibuang dan diganti dengan yang baru. 


Siklus "pakai-buang" yang cepat ini menciptakan tumpukan limbah elektronik (e-waste) dan racun ekologi yang masif.


Para peneliti, dalam laporan mereka yang diterbitkan dalam jurnal Nature, tidak hanya memaparkan masalah, tetapi juga memodelkan beberapa solusi:


  1. Substitusi Logam: Mengganti emas dengan perak, tembaga, atau aluminium dalam sirkuit dapat memangkas dampak pemanasan global hingga 30%.
  2. Desain Modular: Ini adalah "juara" dalam solusi lingkungan. Dengan membuat desain di mana bagian sensor yang kotor bisa diganti namun sirkuit utamanya bisa dipakai ulang, emisi per penggunaan bisa ditekan hingga lebih dari 60%.
  3. Energi Terbarukan: Beralih ke listrik ramah lingkungan dalam proses manufaktur bisa mengurangi dampak karbon hingga setengahnya.


Menurut data dari Global E-waste Monitor, limbah elektronik adalah aliran limbah domestik dengan pertumbuhan tercepat di dunia. 


Penambahan materi dari laporan tersebut menunjukkan bahwa hanya sekitar 17,4% limbah elektronik global yang tercatat dikumpulkan dan didaur ulang secara resmi pada tahun-tahun terakhir. 


Tanpa inovasi desain yang lebih bertanggung jawab, perangkat kesehatan yang bertujuan memperpanjang umur manusia justru bisa memperpendek "umur" planet kita.


Jadi, inovasi kesehatan di masa depan tidak boleh hanya fokus pada akurasi medis, tetapi juga pada keberlanjutan bumi. 


Memilih perangkat yang mendukung desain modular dan daur ulang adalah langkah kecil yang bisa kita ambil sebagai konsumen yang sadar lingkungan.


Disadur dari Tech Xplore - The hidden carbon footprint of wearable health care. 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama