Cara Bikin Suami Lebih Bahagia Bekerja, Kuncinya di Duit lagi

Pria ternyata bisa merasa lebih puas bekerja jika visi dan nilai uang yang dianut bersama pasangannya sejalan.


Pria ternyata bisa merasa lebih puas bekerja jika visi dan nilai uang yang dianut bersama pasangannya sejalan.Ilustrasi: stockking/Freepik


Ringkasan

  • Kepuasan kerja pria meningkat ketika nilai uang mereka selaras dengan pasangan.
  • Perbedaan nilai uang yang “setengah-setengah” justru paling merusak rasa puas kerja.
  • Norma budaya tentang peran pencari nafkah masih kuat memengaruhi psikologi pria.


ADA ungkapan bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Namun, nyatanya hal tersebut tidaklah berlaku, setidaknya berdasarkan hasil penelitian dari University of Cincinnati, Amerika Serikat.


Studi yang diterbitkan di Journal of Business and Psychology mengungkapkan bahwa uang bisa menentukan harmonis atau tidaknya sebuah hubungan, bahkan memengaruhi performa kerja.


Tim peneliti di bawah pimpinan Sharmeen Merchant membedah peran psikologis uang pada pasangan suami-istri yang keduanya bekerja (dual-income couples).


Fokusnya bukan pada seberapa besar nominal gaji yang dibawa pulang, melainkan bagaimana pasangan tersebut memaknai uang. Apakah uang dianggap sebagai simbol prestasi, alat untuk gaya hidup materialistis, atau jaminan keamanan?


"Ini tentang nilai-nilai uang dan bagaimana kita menyikapinya dalam kemitraan. Bukan sekadar jumlah dolar objektif yang Anda hasilkan," ujar Merchant sebagaimana dikutip dari laman Phys.org.


Temuan menarik dari studi terhadap hampir 200 pasangan ini adalah adanya perbedaan gender yang mencolok. 


Pria cenderung mengintegrasikan perspektif istri mereka ke dalam cara mereka mengevaluasi kesuksesan profesional mereka sendiri. 


Jika suami dan istri memiliki visi yang sama tentang makna uang, sang suami cenderung merasa lebih puas dan terpenuhi di tempat kerja.


Sebaliknya, jika terjadi ketidakselarasan visi, kepuasan kerja pria akan merosot. 


Uniknya, kepuasan pria berada di titik terendah ketika visi keuangan mereka "setengah matang" atau menggantung, bukan saat benar-benar bertolak belakang. 


Ketidakpastian ini menciptakan "area abu-abu" yang membuat pria sulit merasa percaya diri dengan pencapaiannya.


Menariknya, tren ini hampir tidak ditemukan pada wanita. Data menunjukkan bahwa opini suami mengenai uang tidak berdampak signifikan terhadap kepuasan kerja istri. 


Hal ini diduga karena ekspektasi budaya yang masih mengakar kuat bahwa pria adalah pencari nafkah utama (breadwinner), meskipun di era modern saat ini kedua pasangan sama-sama bekerja.


Scott Dust, profesor manajemen di UC, menekankan bahwa uang tidak dihasilkan di ruang hampa, melainkan di dalam rumah tangga. Oleh karena itu, pemilihan pasangan hidup sama pentingnya dengan pemilihan karier.


"Pilihan pekerjaan Anda pasti memengaruhi kepuasan kerja, tetapi pilihan pasangan dan apa nilai-nilai pasangan Anda juga memengaruhi perasaan Anda terhadap penghasilan Anda," jelas Dust.


Fenomena ini sejalan dengan teori Work-Family Enrichment


Mengutip dari studi lain di Journal of Occupational Health Psychology, dukungan emosional dan kesamaan tujuan di rumah bertindak sebagai "sumber daya psikologis" yang dibawa seseorang ke kantor. 


Ketika urusan domestik, termasuk visi keuangan, sudah selaras, energi tersebut berubah menjadi motivasi kerja yang lebih tinggi. Sebaliknya, konflik nilai di rumah hanya akan menguras energi mental.


Sebagai saran praktis, para peneliti menyarankan pasangan untuk mulai terbuka membicarakan filosofi uang sejak awal hubungan. 


Karena pada akhirnya, kebahagiaan Anda saat duduk di meja kantor mungkin ditentukan oleh obrolan di meja makan semalam sebelumnya.


Disadur dari Phys.org - Men's job satisfaction tied to shared money values in dual-income couples

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama