Gelombang panas laut ekstrem tahun 2023 terbukti memperparah suhu panas dan kelembapan di daratan Asia Timur hingga mencapai 50 persen.
Ringkasan
- Gelombang panas laut 2023 memperparah panas dan kelembapan daratan Asia Timur hingga 50 persen.
- Pemanasan laut mengubah sirkulasi atmosfer dan memperpanjang durasi panas ekstrem.
- Temuan ini penting untuk meningkatkan prediksi cuaca dan kesiapsiagaan kesehatan masyarakat.
KAMU mungkin pernah merasa cuaca di luar rumah tidak hanya panas, tapi juga terasa sangat "sumpek" atau lembap. Fenomena ini bukan imajinasi belaka.
Sebuah studi yang dirilis oleh American Geophysical Union (AGU) mengungkapkan adanya hubungan erat antara suhu air laut yang memanas dengan cuaca ekstrem di daratan.
Para peneliti menemukan bahwa gelombang panas laut (marine heat waves) bertindak sebagai "mesin" yang memompa panas dan uap air tambahan ke wilayah daratan.
Tahun 2023 dicatat sebagai tahun terpanas di Bumi sejak 1850. Di wilayah Asia Timur, termasuk Jepang, musim panas terasa sangat menyiksa dengan suhu tinggi dan kelembapan yang mencekik.
Secara bersamaan, lautan di sekitar wilayah tersebut, khususnya di area perpanjangan arus Kuroshio-Oyashio, mengalami kenaikan suhu permukaan laut yang memecahkan rekor.
Tim peneliti mencoba membedah fenomena ini melalui pemodelan interaksi darat-laut. Mereka menggunakan data per jam mulai dari suhu, kelembapan, hingga kecepatan angin selama bulan Juli hingga September 2023.
Hasilnya mengejutkan, gelombang panas laut tersebut menyumbang sekitar 20% hingga 50% terhadap intensitas dan durasi cuaca panas lembap di darat.
Laut yang panas mengubah sirkulasi atmosfer dan memengaruhi cara awan serta uap air memantulkan panas kembali ke permukaan Bumi.
Mengapa temuan ini penting? Sebab, panas yang disertai kelembapan tinggi jauh lebih mematikan bagi manusia dibandingkan panas kering. Saat kelembapan tinggi, keringat sulit menguap dari kulit, sehingga suhu inti tubuh sulit mendingin secara alami.
Kondisi ini menjadi peringatan keras. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) melaporkan bahwa Asia memanas dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.
Tanpa persiapan yang matang, risiko kesehatan dan kematian akibat sengatan panas (heatstroke) akan terus meningkat di masa depan.
Penelitian lain yang terbit di jurnal Nature Communications pada 2023 menyebutkan bahwa frekuensi gelombang panas laut global telah meningkat lebih dari 50% dalam beberapa dekade terakhir.
Hal ini menjadi tantangan besar bagi sistem peringatan dini cuaca jarak jauh untuk membantu masyarakat bersiap menghadapi risiko kesehatan yang makin nyata.
Disadur dari Eos - Marine Heat Waves Can Exacerbate Heat and Humidity over Land.

Posting Komentar