Delusi psikotik kini dipahami sebagai upaya manusiawi otak untuk menerjemahkan emosi ekstrem dan gejolak fisik menjadi sebuah cerita yang nyata.
Ringkasan
- Delusi psikotik dapat tumbuh dari pengalaman emosional dan gejolak tubuh yang ekstrem.
- Metafora sehari-hari menjadi alat untuk menerjemahkan emosi menjadi keyakinan.
- Memahami makna emosional delusi dapat memperbaiki pendekatan perawatan psikosis.
SELAMA ini, delusi sering dianggap sebagai keyakinan aneh yang muncul tiba-tiba tanpa logika. Namun, sebuah penelitian memberikan perspektif yang berbeda.
Ternyata, delusi adalah cara seseorang "menghidupi" emosi yang sangat kuat secara real-time. Tubuh dan pikiran mereka bekerja keras untuk masuk akal di tengah pengalaman yang luar biasa berat.
Dalam pandangan ini, delusi bukanlah sekadar "eror" pada sistem otak. Ia adalah proses penciptaan makna di bawah tekanan mental yang ekstrem.
Studi kolaboratif antara University of Birmingham, University of Melbourne, dan University of York itu diterbitkan dalam jurnal The Lancet Psychiatry.
Pada penelitian ini, para ilmuwan melibatkan orang dewasa muda yang sedang menjalani perawatan dini psikosis melalui wawancara mendalam dan narasi kisah hidup.
Penelitian ini menantang asumsi lama bahwa delusi hanyalah kesalahan penalaran.
Para peneliti menemukan bahwa delusi sangat terikat dengan kondisi fisik. Partikel emosi yang meledak di dalam tubuh menciptakan sensasi yang nyata bagi penderitanya.
Rosa Ritunnano, psikiater konsultan dari University of Birmingham, menjelaskan bahwa delusi berakar pada pengalaman emosional yang melibatkan "kekacauan fisik" yang besar.
Ada dua kondisi yang dialami peserta:
- pertama, perasaan sangat kuat "di dalam" tubuh (seperti merasa sangat berkuasa atau terhubung dengan Tuhan);
- kedua, merasa terlepas dari tubuh (disembodiment), seperti merasa mati rasa atau tidak nyata.
Menariknya, perasaan yang memicu delusi seringkali muncul jauh sebelum serangan psikosis itu sendiri. Pengalaman traumatis, terutama rasa malu, menjadi pemicu yang sering berulang.
Seseorang yang sering diejek atau dipermalukan mungkin memiliki sensasi fisik yang menetap bahwa mereka selalu diawasi atau dihakimi.
Inilah yang kemudian berkembang menjadi "delusi rujukan" (reference delusions), di mana kejadian biasa di dunia luar terasa sengaja ditujukan kepada mereka.
Misalnya, seseorang merasa orang asing di jalan sedang membicarakan keburukannya, atau merasa pikirannya bisa didengar oleh orang lain (thought broadcasting).
Sisi lain yang unik dari riset ini adalah peran bahasa. Pasien sering menggunakan metafora untuk menjelaskan perasaan mereka.
Jeannette Littlemore, profesor linguistik di University of Birmingham, menyebutkan bahwa pasien psikosis "benar-benar hidup dalam metafora."
Sebagai contoh, jika seseorang merasa sangat bahagia hingga merasa bisa "menyentuh langit," pikiran mereka bisa menerjemahkannya secara harfiah menjadi delusi bahwa mereka bisa terbang.
Begitu pula perasaan "terkontaminasi" oleh rasa bersalah bisa berubah menjadi delusi bahwa tubuh mereka sedang diracuni oleh zat berbahaya.
Dengan memahami bahwa delusi adalah upaya "painfully human" (sangat manusiawi namun menyakitkan) untuk mencari keseimbangan emosional, pengobatan diharapkan tidak hanya terpaku pada obat-obatan, tetapi juga pada pemulihan rasa aman dan harga diri pasien.
Disadur dari Earth.com - Psychotic delusions may arise from intense emotional experiences.

إرسال تعليق