Keyakinan fundamental tentang dunia dapat meredam dampak psikologis trauma dan penyakit berat.
Ilustrasi: FreepikRingkasan
- Keyakinan dasar tentang apakah dunia aman, adil, atau dapat diperbaiki dapat meredam dampak psikologis penyakit berat dan trauma mendadak.
- Dua studi menunjukkan bahwa keyakinan positif membuat seseorang lebih tahan terhadap stres, bahkan dalam tragedi besar seperti penembakan massal.
- Trauma tidak mengubah keyakinan dunia; sebaliknya, keyakinan dunia-lah yang menentukan bagaimana seseorang memaknai trauma.
KETIKA dua orang mengalami tragedi yang sama, dampaknya bisa sangat berbeda, satu tenggelam dalam kecemasan, satu lagi tetap tegar.
Riset terbaru yang terbit di Journal of Personality menunjukkan bahwa salah satu penjelasan paling kuat justru terletak pada keyakinan paling dasar yang kita miliki tentang dunia.
Misalnya, apakah dunia aman, adil, dapat diperbaiki, atau cenderung pulih. Keyakinan-keyakinan ini, menurut studi , bekerja seperti “peredam kejut psikologis” yang menentukan seberapa dalam trauma memengaruhi kita.
Penelitian yang dipimpin oleh psikolog Jeremy Clifton dan Nicholas Kerry dari University of Vienna ini berfokus pada apa yang mereka sebut sebagai fundamental world beliefs, keyakinan dasar tentang sifat dunia.
Termasuk di dalamnya, apakah dunia aman atau berbahaya, adil atau tak adil, dapat diperbaiki atau stagnan, regeneratif atau makin memburuk, dan lain-lainnya.
Menurut Kerry, keyakinan ini sangat stabil. Jika seseorang merasa dunia aman hari ini, enam bulan lagi jawabannya kemungkinan tetap sama.
Dan keyakinan itu memengaruhi cara kita menafsirkan situasi baru, apakah ancaman besar atau kejadian biasa saja.
Dalam studi pertama, tim meneliti 1.052 responden, pasien kanker aktif, penyintas kanker, penderita cystic fibrosis, dan kelompok sehat. Mereka menjalani Primals Inventory, alat ukur keyakinan dunia, dan tes kecemasan serta depresi.
Temuannya, pada partisipan yang tidak percaya dunia adil, dapat diperbaiki, atau regeneratif, penyakit berat berkaitan dengan kecemasan dan depresi yang jauh lebih tinggi.
Tetapi pada mereka yang memiliki keyakinan positif, perbedaan emosional antara kelompok sakit dan sehat menghilang.
Dengan kata lain, penyakit berat tidak otomatis menyebabkan penderitaan psikologis, tergantung bagaimana seseorang memaknai dunia dan kemungkinan perbaikan di dalamnya.
Temuan ini sejalan dengan literatur tentang positive illusions, keyakinan optimistik tertentu yang dapat meningkatkan ketahanan psikologis (Taylor & Brown, Psychological Bulletin, 1988).
Studi kedua memanfaatkan data 'kebetulan'. yakni 152 mahasiswa yang sudah diikuti secara longitudinal mengalami peristiwa penembakan massal di kampus mereka.
Ini memberi peneliti kesempatan langka untuk melihat bagaimana keyakinan dunia memengaruhi respons terhadap trauma mendadak.
Hasilnya, mahasiswa yang percaya dunia berbahaya mengalami lonjakan stres besar segera setelah kejadian, dan stres itu bertahan hingga empat bulan kemudian.
Mahasiswa yang percaya dunia aman sebelum kejadian menunjukkan grafik datar, tidak ada peningkatan stres, bahkan setelah insiden mematikan.
Dan menariknya, peristiwa besar itu tidak mengubah keyakinan mereka. Trauma tidak otomatis mengguncang fondasi kepercayaan seseorang, memperkuat gagasan bahwa keyakinan dunia adalah sifat stabil, bukan reaksi sementara.
Studi ini membantu menjelaskan mengapa beberapa orang tampak “kebal” secara emosional, sementara yang lain mudah terpukul oleh kejadian serupa.
Seperti disimpulkan Kerry, keyakinan dunia bekerja seperti filter emosional. Mereka yang melihat dunia sebagai adil, aman, dan regeneratif tidak hanya lebih optimistis, tetapi secara statistik lebih terlindungi dari dampak mental trauma.
Penelitian lanjutan diharapkan menjawab pertanyaan penting, bisakah keyakinan dunia diubah melalui terapi? Jika ya, terapi kognitif dapat memasukkan intervensi untuk memodifikasi keyakinan dasar ini, bukan hanya pikiran harian.
Disadur dari PsyPost.
Posting Komentar