Bukan Pelafalan, Gerakan Kepala Bisa Membocorkan Aksen Asing Kamu

Riset terbaru menunjukkan gerak kepala dan wajah orang dewasa justru memperkuat aksen bahasa ibu saat berbicara bahasa asing.


Riset terbaru menunjukkan gerak kepala dan wajah orang dewasa justru memperkuat aksen bahasa ibu saat berbicara bahasa asing.

Ilustrasi: Freepik


Ringkasan 


SAAT orang dewasa berbicara dalam bahasa kedua, aksen sering kali mudah dikenali. Selama ini, penyebabnya dianggap terletak pada bunyi kata atau pelafalan. Namun, sangkaan itu tak selalu tepat.


Penelitian mengungkap fakta yang lebih subtil. Cara seseorang menggerakkan kepala, alis, dan wajah saat berbicara ternyata ikut “membocorkan” aksen asing mereka, bahkan ketika pilihan katanya sudah tepat.


Temuan tim peneliti yang dipimpin oleh Lieke van Maastricht dari Radboud University, Belanda, dan Núria Esteve-Gibert dari Universitat Oberta de Catalunya, Spanyol, itu terbit di jurnal Language Learning


Mereka menemukan gerak nonverbal orang dewasa tidak membantu menutupi kesalahan intonasi bahasa asing, tetapi justru memperkuat pola intonasi dari bahasa ibu.


Intonasi, naik-turun nada dalam kalimat, berperan besar dalam menyampaikan makna, penekanan, emosi, dan kontras informasi. Salah menekankan kata bisa membuat pesan berubah arti. 


Dalam bahasa Inggris, penekanan bisa muncul hampir di bagian mana pun dari kalimat. 


Sebaliknya, dalam bahasa seperti Spanyol atau Katalan, penekanan biasanya jatuh di akhir kalimat. Perbedaan inilah yang kerap menjebak pembelajar bahasa dewasa.


Selama ini, para ahli bahasa mengetahui bahwa orang dewasa sulit mempelajari intonasi baru, meskipun mereka berlatih intensif atau menggunakan aplikasi pembelajaran modern


Yang belum jelas adalah apakah tubuh, melalui gestur, dapat membantu menambal kekurangan suara. 


Pada anak-anak, gestur sering berfungsi sebagai “penyangga” makna. Mereka bisa mengangguk, menunjuk, atau mengerutkan alis untuk menekankan maksud, bahkan sebelum intonasi mereka matang.


Untuk menguji apakah hal serupa terjadi pada orang dewasa, para peneliti melibatkan penutur dewasa bahasa Katalan yang sedang belajar bahasa Inggris. 


Mereka diminta mengikuti tugas daring berupa permainan sederhana. Peserta harus memberi instruksi pada karakter fiktif bernama Anna untuk mengambil benda tertentu dari dalam tas. 


Dalam beberapa situasi, penekanan kata menjadi krusial, misalnya menekankan warna (kaus kaki KUNING) atau jenis benda (“kaus kaki kuning”).


Seluruh interaksi direkam dalam video. Peneliti menganalisis detail yang sangat rinci, yakni durasi kata, rentang nada suara, waktu puncak gerakan kepala, angkatan alis, hingga kedipan mata yang bersifat komunikatif. 


Hasilnya konsisten, peserta dewasa memang banyak menggunakan gerakan kepala, tetapi gerakan itu mengikuti pola bahasa ibu mereka, bukan bahasa Inggris.


Alih-alih memperbaiki intonasi, gestur justru “mengunci” kesalahan. Kata yang disertai gerakan kepala cenderung diucapkan lebih lama dan tetap mengikuti pola penekanan khas bahasa Katalan. 


Artinya, tubuh tidak menolong suara, melainkan mempertegasnya. Sistem gerak–ujar yang terbentuk sejak bahasa pertama ternyata sangat stabil dan sulit dipisahkan pada usia dewasa.


Inilah sebabnya mengapa penutur bahasa kedua yang sangat fasih sekalipun masih terdengar “asing” di telinga penutur asli. Kesalahan ini tidak selalu disadari, tetapi cukup untuk memengaruhi pemahaman dan kesan sosial. 


Studi lain menunjukkan bahwa intonasi yang keliru membuat ujaran terasa kurang alami dan lebih sulit dipahami.


Temuan ini membawa implikasi penting bagi pembelajaran bahasa. 


Menurut van Maastricht, pengajaran sering terlalu fokus pada tata bahasa dan kosakata, sementara intonasi dianggap pelengkap. Padahal, intonasi yang salah bisa menghambat komunikasi. 


Paparan intensif—seperti mendengarkan percakapan nyata, menonton film, atau interaksi langsung—tetap menjadi kunci.


Pada akhirnya, riset ini menegaskan satu hal: aksen tidak hanya hidup di suara, tetapi juga di seluruh tubuh. 


Cara kita mengangguk, memiringkan kepala, atau mengangkat alis saat berbicara adalah bagian dari bahasa—dan kebiasaan itu sulit dihapus begitu saja.


Disadur dari ZME Science Your Head Movements May Be Giving Away Your Foreign Accent


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama