'Ngasuh' Cucu Bisa Bikin Otak Nenek-Kakek Tetap Tajam

Studi menunjukkan keterlibatan kakek-nenek dalam mengasuh cucu berkaitan dengan fungsi kognitif yang lebih terjaga di usia lanjut.


Studi menunjukkan keterlibatan kakek-nenek dalam mengasuh cucu berkaitan dengan fungsi kognitif yang lebih terjaga di usia lanjut.Ilustrasi: Freepik


Ringkasan

  • Kakek-nenek yang membantu mengasuh cucu menunjukkan penurunan kognitif yang lebih lambat.
  • Manfaatnya tidak bergantung pada frekuensi atau jenis pengasuhan, tetapi pada keterlibatan itu sendiri.
  • Lingkungan keluarga yang suportif penting agar dampak pengasuhan bersifat positif.


MENGHABISKAN waktu bersama cucu ternyata bukan hanya soal melepas rindu atau sekadar membantu anak yang sedang sibuk bekerja. 


Studi terbaru yang diterbitkan American Psychological Association, aktivitas mengasuh cucu ternyata memiliki "efek samping" yang luar biasa bagi kesehatan otak kakek dan nenek.


Para peneliti menemukan bahwa lansia yang terlibat dalam pengasuhan cucu memiliki skor yang lebih tinggi dalam tes memori dan keterampilan verbal dibandingkan mereka yang tidak terlibat. 


Temuan ini memberikan harapan baru dalam upaya menjaga kebugaran mental di usia senja.


Hal yang paling menarik dari penelitian ini adalah frekuensi atau jenis aktivitas yang dilakukan ternyata tidak terlalu berpengaruh besar. 


Artinya, kakek atau nenek tidak perlu menjaga cucu setiap hari selama 24 jam untuk mendapatkan manfaat kognitif ini.


Pemimpin penelitian, Chereches, menjelaskan bahwa faktor yang paling menonjol adalah "pengalaman menjadi pengasuh" itu sendiri. 


Terlepas dari apakah mereka membantu sesekali atau secara rutin, keterlibatan emosional dan tanggung jawab dalam mengasuh memberikan stimulan yang cukup bagi otak untuk tetap aktif bekerja.


Bagi para nenek, efek ini bahkan lebih terlihat secara jangka panjang. 


Mereka yang membantu merawat cucu mengalami penurunan kognitif yang jauh lebih lambat seiring bertambahnya usia dibandingkan mereka yang tidak memiliki peran pengasuhan sama sekali.


Namun, perlu dicatat bahwa menjaga cucu bisa menjadi pedang bermata dua. Chereches menekankan bahwa dinamika keluarga memainkan peran krusial. 


Efek positif ini muncul paling kuat ketika aktivitas mengasuh dilakukan secara sukarela dan dalam lingkungan keluarga yang mendukung.


Jika pengasuhan dilakukan karena terpaksa, merasa tidak didukung, atau dianggap sebagai beban yang berat, hal tersebut justru bisa memicu stres yang berdampak buruk bagi kesehatan. 


Oleh karena itu, komunikasi antara anak dan orang tua (kakek-nenek) sangat penting untuk memastikan peran ini dijalani dengan bahagia.


Melansir dari laman Harvard Health Publishing, interaksi sosial yang intens saat menjaga cucu membantu melepaskan hormon oksitosin (hormon cinta) yang dapat mengurangi stres dan peradangan pada otak. 


Aktivitas seperti membacakan buku untuk cucu atau sekadar mengobrol memaksa otak untuk memproses informasi baru dan menjaga jaringan saraf tetap terhubung.


Selain itu, menurut Mayo Clinic, tetap aktif secara sosial di masa tua adalah salah satu pilar utama pencegahan demensia dan penyakit Alzheimer


Dengan menjaga cucu, lansia merasa memiliki tujuan hidup (sense of purpose) yang kuat, yang secara psikologis merupakan bahan bakar utama bagi kesehatan mental yang berkelanjutan.


Jadi, bagi para orang tua muda, memberikan kesempatan bagi kakek dan nenek untuk bermain dan merawat cucu bukan hanya membantu pekerjaan rumah, tapi juga merupakan bentuk investasi kesehatan bagi otak mereka.


Disadur dari Science Daily - Helping with grandkids may slow cognitive decline.



Post a Comment

أحدث أقدم