Mengumpat mampu meningkatkan kekuatan fisik dan ketahanan tubuh secara instan dengan cara mengurangi hambatan psikologis serta meningkatkan fokus.
Ringkasan
- Studi menunjukkan mengumpat dapat meningkatkan kekuatan dan daya tahan fisik secara singkat.
- Efek ini terkait dengan meningkatnya fokus, kepercayaan diri, dan kondisi flow.
- Makian bisa membantu, tetapi tetap harus mempertimbangkan konteks sosial.
PERNAHKAH kamu secara tidak sengaja meneriakkan kata kasar saat jari kaki terantuk meja atau ketika sedang mengangkat beban berat di pusat kebugaran?
Jangan buru-buru merasa bersalah.
Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal American Psychologist mengungkapkan bahwa mengeluarkan umpatan ternyata bisa memberikan suntikan kekuatan fisik dan stamina yang tak terduga.
Richard Stephens, seorang psikolog dari Keele University di Inggris, menjelaskan, dalam banyak situasi, manusia sering kali menahan diri, baik secara sadar maupun tidak, untuk tidak menggunakan kekuatan penuh mereka.
"Mengumpat adalah cara mudah yang tersedia untuk membantu kamu merasa fokus, percaya diri, tidak mudah teralihkan, dan lebih berani untuk 'tancap gas'," ujar Stephens.
Studi ini melibatkan 182 peserta untuk melakukan tes kekuatan yang cukup menantang, chair pushups. Peserta diminta menahan berat badan mereka sendiri menggunakan lengan di atas kursi selama mungkin.
Hasilnya, saat peserta mengulang kata umpatan setiap dua detik, mereka mampu bertahan rata-rata selama 28 detik. Namun, saat mereka hanya mengucapkan kata-kata netral, daya tahan mereka turun menjadi sekitar 25,4 detik.
Secara psikologis, mengumpat memicu kondisi yang disebut para ilmuwan sebagai "disinhibisi" atau hilangnya hambatan diri.
Ketika seseorang mengeluarkan kata-kata kasar, mereka cenderung melepaskan kesadaran diri yang berlebihan dan bertindak lebih bebas.
Hal ini menciptakan kondisi psychological flow atau keadaan di mana seseorang benar-benar terhanyut dalam aktivitasnya, biasa disebut dengan istilah "masuk ke dalam zona" (in the zone).
Selain kekuatan fisik, penelitian sebelumnya juga telah mengaitkan kebiasaan mengumpat dengan peningkatan toleransi terhadap rasa sakit.
Menariknya, mengumpat juga ditemukan dapat mengurangi "rasa sakit sosial" akibat penolakan atau dikucilkan dari lingkungan.
Nicholas Washmuth, fisioterapis dari University of Alabama yang juga rekan penulis studi ini, menambahkan, timnya sedang menjajaki apakah mengumpat di dalam hati memiliki efek yang sama kuatnya dengan mengucapkannya dengan lantang.
Hal ini penting karena secara sosial, mengumpat sering dianggap tidak sopan.
"Kami ingin tahu apakah mengumpat bisa membantu dalam situasi di mana orang sering meragukan diri mereka sendiri, seperti saat berbicara di depan umum atau mendekati seseorang yang disukai," tambah Washmuth.
Jika penelitian ini terus membuahkan hasil positif, bukan tidak mungkin di masa depan dokter akan "meresepkan" aktivitas mengumpat dalam konteks medis tertentu.
Dari laman Healthline, mengumpat sering dianggap sebagai bentuk katarsis, pelepasan emosi yang terpendam.
Saat kita mengumpat, sistem saraf simpatik kita teraktivasi, yang memicu respons fight-or-flight (lawan atau lari). Hal ini menyebabkan lonjakan adrenalin yang secara alami meningkatkan kinerja otot.
Namun, Richard Stephens tetap mengingatkan agar kita bijak dalam menggunakan "obat alami" ini.
"Kamu harus tahu siapa audiens dan siapa yang ada di sekitarmu. Mengumpat secara tidak tepat justru bisa menjerumuskan kamu ke dalam masalah besar," pungkasnya.
Jadi, lain kali Anda sedang berjuang menyelesaikan repetisi terakhir di gym, mungkin sedikit umpatan (dengan suara rendah) adalah rahasia yang kamu butuhkan untuk mencapai target.
Disadur dari Smithsonian Magazine.

Posting Komentar