Studi baru mengungkap manusia mungkin kehilangan kemampuan membuat vitamin C demi mengurangi risiko infeksi parasit mematikan.
Ringkasan
- Manusia kehilangan kemampuan membuat vitamin C karena mutasi gen GULO.
- Studi baru menunjukkan kondisi ini dapat menghambat reproduksi parasit schistosomiasis.
- Kehilangan vitamin C adalah kompromi evolusi antara risiko skorbut dan perlindungan dari parasit mematikan.
HAMPIR semua hewan di planet ini memiliki "pabrik" internal untuk memproduksi vitamin C. Seekor kambing, misalnya, dapat menghasilkan ribuan miligram askorbat dalam tubuhnya setiap hari.
Namun, manusia, bersama kera besar, kelelawar buah, dan babi guinea, justru harus bergantung sepenuhnya pada makanan seperti jeruk atau cabai untuk memenuhi kebutuhan nutrisi vital ini.
Jika kita kekurangan vitamin C, penyakit skorbut (scurvy) yang mengerikan siap mengintai, menyebabkan gusi berdarah hingga kematian. Lantas, mengapa alam membiarkan kita kehilangan kemampuan sepenting itu?
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) mungkin akhirnya memberikan jawaban yang selama ini dicari para ilmuwan.
Penelitian yang dipimpin oleh Gongwen Chen dari Universitas Fudan, China, mengusulkan teori bahwa kehilangan kemampuan memproduksi vitamin C adalah bentuk pertahanan diri terhadap parasit.
Fokus utama mereka adalah Schistosoma mansoni, cacing parasit penyebab skistosomiasis (demam keong), sebuah penyakit yang hingga kini masih menginfeksi lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia.
Cacing-cacing ini ternyata sangat haus akan vitamin C. Bukan untuk bertahan hidup, melainkan untuk memproduksi telur.
Para peneliti menemukan bahwa tanpa pasokan vitamin C yang melimpah dari inangnya, parasit ini tidak dapat berkembang biak.
Dengan kata lain, tubuh manusia yang "miskin" vitamin C menjadi lingkungan yang buruk bagi pertumbuhan populasi parasit tersebut.
Untuk menguji teori ini, tim peneliti membandingkan tikus normal (yang bisa memproduksi vitamin C) dengan tikus hasil rekayasa genetika yang kehilangan enzim GULO (seperti manusia).
Hasilnya sangat mencolok. Pada tikus yang memproduksi vitamin C sendiri, parasit berkembang biak dengan pesat dan membunuh sebagian besar tikus tersebut.
Namun, pada tikus yang "cacat" vitamin C, parasit gagal bertelur. Para peneliti kemudian mencoba pola makan musiman: memberikan banyak vitamin C selama beberapa waktu, lalu menghentikannya.
Hasilnya mengejutkan; tikus-tikus ini tidak terkena skorbut, tetapi kadar vitamin C mereka sempat turun cukup rendah untuk memutus siklus reproduksi cacing.
Dari 19 tikus yang menjalani siklus ini, hanya satu yang mati, sementara mayoritas tikus normal tewas akibat infeksi parasit.
Meskipun kehilangan kemampuan ini membantu melawan parasit, manusia harus membayar harga yang mahal di kemudian hari.
Mengutip dari BBC History, pada abad ke-18, skorbut membunuh lebih banyak pelaut Inggris daripada gabungan seluruh pertempuran laut yang mereka jalani.
Diperkirakan lebih dari dua juta pelaut tewas akibat penyakit ini antara abad ke-15 hingga ke-19.
Ironisnya, penelitian dari Journal of the Royal Society of Medicine juga mencatat bahwa sejarah skorbut sangat berkaitan dengan ketidakadilan sosial.
Di era perdagangan budak transatlantik, jumlah tawanan Afrika yang meninggal akibat skorbut jauh lebih besar daripada pelaut.
Mereka sering kali dijadikan subjek eksperimen pengobatan yang tidak manusiawi sebelum akhirnya jeruk nipis ditemukan sebagai obat yang efektif.
Evolusi sering kali merupakan soal "pilih yang paling sedikit mudaratnya." Di masa prasejarah, infeksi parasit mungkin jauh lebih mematikan daripada risiko kekurangan buah-buahan.
Nenek moyang kita memilih untuk berisiko terkena skorbut demi memastikan parasit dalam tubuh mereka tidak bisa mewariskan keturunan.
Kini, dengan adanya obat-obatan modern, kita tidak perlu lagi membatasi vitamin C untuk melawan parasit.
Namun, penelitian ini memberi kita perspektif baru yang luar biasa bahwa kerentanan tubuh kita saat ini mungkin adalah sisa-sisa "perang" biologis yang berhasil dimenangkan oleh nenek moyang kita jutaan tahun silam.
Disadur dari IFL Science.

Posting Komentar