Sistem pangan yang rakus memicu krisis kembar, yakni ledakan angka obesitas dan pemanasan global yang kian tak terkendali.
Ringkasan
- Sistem pangan global yang berorientasi laba menjadi biang keladi meningkatnya angka obesitas sekaligus mempercepat krisis iklim dunia.
- Ketergantungan pada makanan ultra-proses (UPF) dan produk hewani menyumbang emisi gas rumah kaca yang sangat besar.
- Para ahli mendesak pemerintah beralih dari solusi instan seperti obat diet ke perubahan sistemik seperti pajak makanan tidak sehat.
DUNIA kita sedang tidak baik-baik saja, baik dari segi kesehatan penduduknya maupun kesehatan planetnya.
Sebuah ulasan besar yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Science mengungkapkan sebuah kenyataan pahit: cara kita memproduksi dan mengonsumsi makanan saat ini adalah "senjata makan tuan".
Sistem pangan yang selama 40 tahun terakhir didorong oleh mengejar keuntungan semata telah menciptakan lingkungan yang memaksa kita makan lebih banyak kalori namun minim nutrisi.
Prof. Jeff Holly dari University of Bristol, Inggris, menjelaskan bahwa obesitas bukanlah sekadar masalah "kurang niat" untuk diet atau olahraga.
"Pemicu utamanya adalah transformasi sistem pangan yang didorong oleh konsumsi berlebih," ujarnya. Artinya, kita dikepung oleh makanan ultra-proses (UPF) yang murah, enak di lidah, tapi merusak tubuh dan bumi.
Tahukah kamu? Pada tahun 2035, diprediksi separuh penduduk dunia akan mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
Di sisi lain, krisis iklim sudah merenggut satu nyawa setiap menitnya. Produksi pangan menyumbang sepertiga dari total emisi gas rumah kaca dunia.
Daging merah, terutama sapi, menjadi sorotan utama karena menghasilkan emisi jauh lebih besar dibandingkan sumber nabati.
Bahkan, menurut data dari World Resources Institute, beralih ke pola makan rendah daging hewani dapat mengurangi jejak karbon individu hingga 50%.
Prof. Paul Behrens dari University of Oxford menegaskan, "Kita tidak bisa menyelesaikan krisis iklim tanpa mengubah apa yang kita makan dan bagaimana cara kita memproduksinya."
Obat Diet Bukan Jawaban Sakti
Saat ini, obat penurun berat badan memang sedang populer. Namun, para ahli memperingatkan bahwa obat-obatan tersebut hanyalah "plester" yang tidak menyembuhkan luka sistemik.
Obat tidak bisa memperbaiki kerusakan hutan akibat pembukaan lahan untuk peternakan, juga tidak bisa menurunkan suhu bumi.
Prof. Katherine Samaras dari Australia menambahkan bahwa kampanye pemasaran makanan yang agresif jauh lebih kuat daripada kemauan individu.
Anak-anak dan masyarakat berpenghasilan rendah adalah korban paling rentan dari gempuran iklan makanan tinggi kalori dan rendah serat.
Untuk mengatasi masalah ini, para peneliti mengusulkan langkah-langkah berani yang harus diambil pemerintah:
- Pajak Makanan Tidak Sehat: Menerapkan pajak tinggi pada minuman manis dan makanan ultra-proses.
- Subsidi Makanan Sehat: Uang hasil pajak digunakan untuk membuat sayur dan buah jadi lebih murah.
- Label Peringatan: Memberikan label peringatan keras pada kemasan makanan tidak sehat, mirip dengan peringatan pada bungkus rokok.
- Revolusi Kantin: Kebijakan makanan sekolah yang sehat dan bersumber dari petani lokal.
Data dari The Lancet juga mendukung hal ini, menyebutkan bahwa malnutrisi dalam segala bentuknya (termasuk obesitas) dan perubahan iklim adalah satu kesatuan masalah yang disebut Global Syndemic.
Mengobati sistem jauh lebih murah daripada mengobati penyakit. Pada 2019 saja, biaya terkait obesitas menelan 2% PDB global. Jika dibiarkan, angkanya bakal bengkak jadi lebih dari US$ 4 triliun pada 2035.
Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan individu dan mulai merombak sistem yang membuat kita, dan bumi, jatuh sakit.
Disadur dari Frontiers in Science.

إرسال تعليق