Tubuh manusia tampak penuh lubang, tetapi menurut matematika topologi, jumlahnya jauh lebih sedikit dari dugaan awam.
Ringkasan
- Dalam topologi, lubang harus tembus dari satu sisi ke sisi lain, bukan sekadar cekungan.
- Sebagian besar bukaan tubuh manusia bukan lubang sejati karena bersifat buntu.
- Secara matematis, tubuh manusia memiliki tujuh lubang, atau delapan jika menghitung sistem reproduksi perempuan.
PERTANYAAN “berapa jumlah lubang pada tubuh manusia?” terdengar seperti lelucon biologi ringan. Namun, pertanyaan sederhana ini bisa jadi menjadi rumit, melibatkan matematika, khususnya cabang topologi.
Secara kasatmata, tubuh manusia memang memiliki banyak “lubang”: mulut, hidung, telinga, anus, uretra, pori-pori kulit, hingga saluran air mata.
Namun, sebelum mulai menghitung, para matematikawan mengajukan pertanyaan mendasar, 'apa sebenarnya yang dimaksud dengan “lubang”?'
Menurut Katie Steckles, dosen matematika di Manchester Metropolitan University, dalam topologi, “lubang” bukan sekadar cekungan atau bukaan.
Lubang adalah sesuatu yang menembus objek dari satu sisi ke sisi lain, seperti lubang pada donat. Jika sebuah lubang memiliki ujung buntu, tidak tembus ke mana pun, maka secara topologis ia bukan lubang sejati.
James Arthur, komunikator matematika asal Inggris, memberi analogi sederhana: dalam topologi, lubang adalah sesuatu yang memungkinkan kita “memasukkan jari dan keluar di sisi lain”.
Itulah sebabnya, perdebatan klasik tentang sedotan, apakah ia memiliki satu lubang atau dua, selalu berujung pada kebingungan. Bagi topolog, sedotan hanya punya satu lubang, karena lubangnya tembus dari ujung ke ujung.
Pendekatan ini penting ketika diterapkan pada tubuh manusia.
Jika kita mulai mendaftar semua bukaan tubuh, seperti mulut, hidung, telinga, uretra, anus, pori-pori, saluran air mata, jumlahnya bisa mencapai jutaan. Namun mayoritas bukaan itu tidak tembus.
Pori-pori, misalnya, hanya berupa “lubang buntu” tempat keringat keluar. Telinga pun tertutup gendang, sehingga tidak terhubung ke sistem rongga lain. Uretra dan saluran susu juga berakhir buntu secara topologis.
Agar sebuah bukaan dihitung sebagai lubang sejati, bayangkan kita memasukkan seutas benang supertipis ke dalamnya dan benang itu bisa keluar di tempat lain tanpa terputus.
Dengan kriteria ini, jumlahnya menyusut drastis.
Menurut Arthur, ada delapan bukaan yang saling terhubung: mulut, anus, dua lubang hidung, dan empat saluran air mata kecil (lacrimal puncta) di sudut mata.
Saluran air mata ini mengalirkan air mata ke rongga hidung, sehingga terhubung dengan sistem yang sama.
Namun, delapan bukaan bukan berarti delapan lubang. Dalam topologi, jika beberapa bukaan terhubung di bagian dalam, jumlah lubangnya justru berkurang satu.
Steckles memberi contoh pakaian dalam. Meskipun terlihat memiliki tiga bukaan (pinggang dan dua lubang kaki), secara topologis ia hanya memiliki dua lubang.
Dengan logika yang sama, delapan bukaan yang saling terhubung pada tubuh manusia membentuk tujuh lubang.
Masih ada satu kemungkinan tambahan. Pada tubuh perempuan, saluran reproduksi, yakni vagina, rahim, dan dua tuba falopi, memiliki ujung terbuka di dekat ovarium dan rongga peritoneum.
Penelitian menunjukkan bahwa sel telur dari satu ovarium bisa “ditangkap” oleh tuba falopi di sisi berlawanan, menandakan adanya jalur terbuka.
Secara teori, benang supertipis tadi bisa melewati sistem ini dan keluar kembali, sehingga membentuk satu lubang tambahan.
Kesimpulannya, menurut matematika topologi, manusia memiliki tujuh lubang, atau delapan jika menghitung sistem reproduksi perempuan sebagai lubang tembus.
Pertanyaan ini akhirnya bukan sekadar soal tubuh manusia, melainkan tentang cara kita memahami bentuk, koneksi, dan ruang.
Secara topologis, tubuh kita ternyata lebih mirip pakaian satu potong yang rumit ketimbang sepotong keju Swiss penuh lubang.
Disadur dari Live Science.

Posting Komentar