Ketika otak bekerja lebih keras untuk memahami ucapan, terutama di tengah kebisingan, frekuensi kedipan mata manusia ternyata ikut menurun.
Ringkasan
- Kedipan mata berkurang ketika otak perlu fokus lebih tinggi, terutama saat mendengarkan di lingkungan bising.
- Penurunan kedipan paling jelas terjadi dalam kondisi kebisingan tinggi dan pencahayaan ekstrem.
- Laju kedipan berpotensi menjadi indikator sederhana untuk mengukur beban kognitif dan usaha mental.
SELAMA ini, berkedip dianggap sekadar mekanisme biologis untuk menjaga kelembapan dan ketajaman penglihatan. Namun, sebuah riset membuka fakta baru tentang kedipan ini.
Kedipan mata bisa menjadi penanda halus tentang bagaimana otak mengelola perhatian dan sumber dayanya.
Saat seseorang harus lebih fokus, misalnya ketika mendengarkan percakapan di lingkungan yang bising, maka kedipan matanya menjadi lebih berkurang.
Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Concordia University, Kanada, yang ingin mengetahui apakah berkedip hanya reaksi refleks, atau justru terkait dengan fungsi kognitif tingkat tinggi.
Para peneliti menduga bahwa kedipan mata bisa mencerminkan aktivitas otak, khususnya saat seseorang perlu menyaring informasi penting dari gangguan di sekitarnya.
“Kami ingin tahu apakah kedipan dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan bagaimana kaitannya dengan fungsi eksekutif otak,” ujar penulis utama penelitian, Pénélope Coupal.
Salah satu pertanyaan kuncinya, apakah manusia secara tidak sadar “mengatur” waktu berkedip agar tidak melewatkan informasi penting?
Untuk menjawabnya, para peneliti melakukan dua eksperimen terpisah.
Pada eksperimen pertama, 21 partisipan diminta mendengarkan 80 kalimat dengan tingkat kebisingan latar yang bervariasi, sementara pencahayaan ruangan dibuat konstan.
Pada eksperimen kedua, 28 partisipan mendengarkan 120 kalimat dengan dua tingkat kebisingan, sunyi dan bising, namun pencahayaan diubah-ubah, dari gelap, sedang, hingga sangat terang.
Seluruh peserta duduk di laboratorium yang senyap di Montreal, berjarak sekitar dua meter dari layar besar, dan mengenakan kacamata pelacak mata.
Setiap kedipan dicatat secara presisi, mulai dari waktu kelopak mata menutup hingga kembali terbuka. Dengan cara ini, kedipan mata diperlakukan sebagai “penanda mikro” dari perhatian.
Hasilnya konsisten: semakin sulit seseorang memahami ucapan, semakin jarang ia berkedip. Penurunan ini paling jelas terjadi saat kebisingan tinggi, ketika otak harus bekerja ekstra keras untuk menangkap makna kalimat.
Menariknya, efek ini juga dipengaruhi oleh pencahayaan. Dalam kondisi sangat terang atau sangat gelap, penurunan kedipan menjadi lebih tajam dibandingkan pencahayaan sedang.
“Kita tidak berkedip secara acak,” kata Coupal. “Kami menemukan bahwa manusia secara sistematis mengurangi kedipan ketika informasi penting disampaikan.”
Para peneliti juga mencatat bahwa orang berkedip jauh lebih sedikit saat kalimat sedang diperdengarkan, dibandingkan beberapa saat sebelum atau sesudahnya.
Meski frekuensi kedipan sangat bervariasi antarindividu, mulai dari sekitar 10 kali per menit hingga lebih dari 70 kali, polanya tetap sama, yakni fokus yang tinggi identik dengan kedipan yang lebih jarang.
Temuan ini memperluas pemahaman tentang hubungan antara mata dan otak. Studi-studi sebelumnya lebih sering memanfaatkan ukuran pupil sebagai indikator beban kognitif, sementara kedipan kerap diabaikan.
Padahal, menurut penulis studi, laju kedipan adalah indikator yang relatif mudah, murah, dan minim gangguan untuk mengukur usaha mental, baik di laboratorium maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Peneliti kini mendorong studi lanjutan untuk melihat bagaimana pola kedipan ini muncul dalam tugas yang lebih kompleks dan pada kelompok populasi yang berbeda, seperti lansia atau orang dengan gangguan pendengaran.
Mereka juga ingin mengetahui momen pasti ketika sebuah kedipan membuat kita “kehilangan” informasi visual atau auditori, sebuah jeda singkat yang ternyata punya dampak besar pada cara kita memahami dunia.
Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Trends in Hearing.
Disadur dari New Atlas.
.jpg)
Posting Komentar