Peneliti memprediksi busur Gibraltar akan kembali aktif dan perlahan masuk ke Atlantik, memicu perubahan besar samudra dalam puluhan juta tahun.
Ringkasan
- Busur Gibraltar diprediksi kembali aktif dan bermigrasi ke Atlantik dalam ~20 juta tahun.
- Proses ini menandai awal fase penutupan Samudra Atlantik dalam siklus geologi jangka panjang.
- Dampaknya relevan bagi pemahaman gempa, subduksi, dan evolusi samudra global.
MIGRASI lempeng tektonik di Selat Gibraltar diprediksi akan mengubah Samudra Atlantik menjadi zona aktif yang memicu penutupan samudra tersebut.
Pernahkah kamu membayangkan bahwa peta dunia yang kita pelajari di sekolah sebenarnya tidaklah abadi?
Samudra Atlantik yang kini menjadi pemisah luas antara Benua Biru dan Amerika ternyata sedang berada dalam fase "hitung mundur" geologis.
Sebuah studi terbaru yang dipimpin oleh João C. Duarte dari Universitas Lisbon mengungkapkan, Busur Gibraltar, batas lempeng yang terletak di antara Spanyol dan Maroko, sedang bersiap untuk "menyerbu" Atlantik.
Busur Gibraltar selama ini dikenal dalam fase tenang atau lambat. Namun, penelitian yang diterbitkan di jurnal Geology ini menunjukkan bahwa kondisi tersebut hanyalah sementara.
Menggunakan simulasi 3D berbasis gravitasi, tim peneliti menemukan bahwa busur ini akan bergerak ke arah barat dan menembus kerak samudra yang lebih kuat dalam kurun waktu sekitar 20 juta tahun ke depan.
Duarte menjelaskan bahwa subduksi, yaitu proses di mana satu lempeng menukik ke bawah lempeng lainnya, adalah kunci dari perubahan besar ini.
"Simulasi kami menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa bentuk migrasi langsung ini dapat terjadi," ungkap Duarte.
Proses ini diibaratkan seperti engsel pintu yang sempat macet, namun kini mulai mendapatkan tenaga untuk berayun kembali.
Kelahiran dan Kematian Samudra
Dalam dunia geologi, ada istilah bernama Siklus Wilson. Konsep ini menjelaskan bahwa samudra memiliki siklus hidup.
Samudra-samudra itu lahir saat benua pecah, menua saat melebar, dan akhirnya "mati" atau menutup saat zona subduksi baru terbentuk untuk mendaur ulang dasar laut.
Invasi Busur Gibraltar ke Atlantik adalah tanda dimulainya fase penutupan tersebut. Saat ini, Atlantik masih tergolong samudra yang "tenang" karena minimnya zona subduksi.
Namun, jika Busur Gibraltar berhasil pindah, ia akan membentuk sistem subduksi baru yang luas. Hasilnya?
Atlantik masa depan mungkin akan memiliki "Cincin Api" (Ring of Fire) sendiri, lengkap dengan rangkaian gunung berapi dan gempa bumi yang sering, persis seperti yang terjadi di Samudra Pasifik saat ini.
Wilayah sekitar Gibraltar memang memiliki energi tektonik yang luar biasa meski pergerakannya lambat.
Menurut catatan sejarah dari National Geographic, gempa bumi Lisbon tahun 1755 adalah bukti nyata kekuatan wilayah ini. Gempa tersebut tidak hanya menghancurkan kota tetapi juga memicu tsunami lintas samudra.
Para peneliti menyebutkan adanya "interval perulangan" (recurrence interval) untuk gempa besar di wilayah yang pergerakannya lambat.
Karena jedanya bisa mencapai ratusan atau ribuan tahun, masyarakat sering kali terlena dan menganggap wilayah tersebut aman, padahal energi terus terkumpul di bawah permukaan.
Haruskah kita khawatir?
Tentu saja, kamu tidak perlu buru-buru mengubah rencana liburan ke pantai. Jam geologis berdetak dalam hitungan jutaan tahun, bukan dekade. Pergerakan benua ini hanya terjadi beberapa sentimeter saja per tahun.
Namun, penemuan ini sangat krusial bagi para ilmuwan untuk menyusun peta bahaya jangka panjang dan memahami bagaimana planet kita terus berevolusi.
Masa depan geologi menunjukkan bahwa Eropa dan Afrika mungkin akan kembali bersatu suatu hari nanti. Selat Gibraltar bukan sekadar perairan sempit, melainkan pintu gerbang yang akan menentukan nasib samudra terbesar kedua di dunia tersebut.
Disadur dari Earth.com.

إرسال تعليق