Ingatan Palsu: Saat Otak Mengarang Kenangan Sendiri

Psikolog menjelaskan bagaimana ingatan bisa menipu, dari logo fiktif hingga kenangan masa kecil yang tak pernah terjadi.


Psikolog menjelaskan bagaimana ingatan bisa menipu, dari logo fiktif hingga kenangan masa kecil yang tak pernah terjadi.Ilustrasi: cookie_studio/Freepik


Ringkasan 

  • Memori palsu adalah rekaman peristiwa dalam otak yang sebenarnya tidak pernah terjadi atau fakta yang tidak nyata.
  • Fenomena ini bisa terjadi secara massal (Efek Mandela) maupun personal melalui distorsi ingatan episodik dan semantik.
  • Para ahli menyebut bahwa ingatan manusia bersifat dinamis dan dapat berubah setiap kali kita mencoba memanggilnya kembali.


MUNGKIN kamu pernah merasa yakin bahwa logo pakaian Fruit of the Loom memiliki gambar keranjang buah (cornucopia). Atau mungkin kamu melihat Nelson Mandela meninggal di penjara pada tahun 1980-an.


Jika ya, kamu baru saja mengalami apa yang disebut sebagai Efek Mandela, sebuah memori palsu yang dipercayai oleh banyak orang secara kolektif.


Pakar psikologi menjelaskan bahwa memori manusia bukanlah rekaman video yang statis, melainkan sesuatu yang dibangun di atas "pasir yang bergeser". 


Memori palsu muncul ketika otak mencoba mengisi kekosongan informasi dengan detail yang kita anggap masuk akal, padahal detail tersebut hanyalah karangan otak semata.


Secara garis besar, memori kita terbagi menjadi dua, yakni episodik dan semantik. Memori episodik berkaitan dengan pengalaman pribadi, seperti apa yang kamu makan malam Jumat lalu. 


Sementara itu, memori semantik berhubungan dengan fakta umum atau pengetahuan luar, seperti logo merek atau sejarah dunia.


Menariknya, memori palsu bisa menyusup ke keduanya. Dalam sebuah studi, peneliti menggunakan foto yang dimanipulasi untuk meyakinkan partisipan bahwa mereka pernah naik balon udara saat kecil. Hasilnya? 


Banyak partisipan yang akhirnya "mengingat" kejadian itu dengan sangat detail, lengkap dengan perasaan mereka saat itu, padahal mereka tidak pernah menginjakkan kaki di balon udara tersebut.


Wilma Bainbridge, seorang psikolog dari University of Chicago, menjelaskan bahwa ingatan kita sebenarnya adalah versi ringkas dari pengalaman asli. 


"Saat kamu memanggil ingatan itu kembali, kamu sebenarnya sedang menarik versi yang sudah terkompresi," ujarnya.


Ada dua teori utama mengapa hal ini terjadi:


  1. Fuzzy Trace Theory (FTT): Teori ini menyebut otak menyimpan dua jenis memori—satu yang detail dan satu lagi yang hanya berupa "inti sari" (gist). Memori palsu biasanya muncul ketika kita kehilangan detail asli dan hanya bergantung pada inti sarinya saja.
  2. Activation-Monitoring Theory (AMT): Teori ini berpendapat bahwa ketika kita memikirkan satu kata atau kejadian, otak secara otomatis mengaktifkan ingatan lain yang terkait. Hal ini membuat batas antara kenyataan dan asosiasi pikiran menjadi kabur.


Selain mekanisme internal otak, faktor luar seperti kurang tidur, pertambahan usia, dan tekanan sosial (reputasi) juga memperbesar peluang terbentuknya memori palsu. 


Dalam konteks hukum, hal ini sering menjadi perdebatan sengit, terutama terkait akurasi kesaksian saksi mata di pengadilan.


Melansir Psychology Today, fenomena ini juga berkaitan dengan Source Monitoring Error, yaitu kondisi di mana seseorang ingat suatu informasi namun lupa dari mana sumbernya (apakah dari mimpi, film, atau kenyataan). 


Hal inilah yang sering membuat memori palsu terasa begitu nyata dan sulit dibedakan dari memori asli.


Meskipun terdengar menakutkan, para ahli menenangkan bahwa memori palsu yang bersifat total (benar-benar tidak terjadi) sebenarnya cukup jarang. 


Ingatan manusia memang tidak sempurna, namun ketidaksempurnaan itulah yang membuat otak kita efisien dalam menyaring informasi yang benar-benar penting untuk bertahan hidup.


Disadur dari Popular Science - What’s a false memory? Psychologists explain how your brain can lie.




Post a Comment

أحدث أقدم