Hubungan Mengejutkan Antara Gigi Copot dan Penurunan Daya Ingat

Kehilangan gigi ternyata bukan sekadar urusan estetika, karena riset terbaru mengungkap dampaknya yang bisa merusak sel otak dan daya ingat.


Kehilangan gigi ternyata bukan sekadar urusan estetika, karena riset terbaru mengungkap dampaknya yang bisa merusak sel otak dan daya ingat.Ilustrasi: senivpetro/Freepik


Ringkasan

  • Studi pada tikus menunjukkan bahwa kehilangan gigi dapat memicu stres pada otak dan peradangan di area hippocampus (pusat memori).
  • Penurunan daya ingat tetap terjadi meskipun subjek mendapatkan asupan protein yang cukup, menunjukkan dampak langsung pada saraf otak.
  • Kehilangan sinyal sensorik dari gigi ke saraf trigeminal diduga menjadi salah satu penyebab rusaknya sel-sel saraf memori.


BANYAK orang menganggap gigi ompong hanyalah bagian dari proses penuaan yang wajar. Namun, bagi para ilmuwan di Universitas Hiroshima, Jepang, urusannya jauh lebih serius. 


Lewat sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Oral Biology, mereka menemukan bahwa kehilangan gigi geraham dapat memicu masalah memori yang signifikan. 


Hal yang mengejutkan adalah kerusakan otak ini tetap terjadi meskipun kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi secara normal.


Selama ini, teori yang berkembang menyatakan bahwa orang yang kehilangan gigi mengalami penurunan kognitif karena mereka sulit mengunyah protein seperti daging atau ikan (malnutrisi). 


Namun, penelitian pada tikus ini membuktikan sebaliknya. Kehilangan gigi itu sendiri, bukan sekadar kurang gizi, yang menyerang kesehatan otak.


Dalam eksperimennya, para peneliti melacak tikus yang kehilangan gigi geraham atas mereka selama enam bulan. 


Tikus-tikus ini kemudian diuji melalui "Labirin Barnes", sebuah platform bundar dengan 20 lubang, di mana hanya satu lubang yang memiliki kotak pelarian.


Hasilnya cukup mencengangkan. Tikus yang kehilangan gigi butuh waktu lebih lama dan menempuh jalur yang berputar-putar untuk menemukan jalan keluar. Sebaliknya, tikus dengan gigi utuh belajar dengan cepat. 


Penurunan performa ini terjadi baik pada tikus yang diberi diet protein normal maupun diet rendah protein. Artinya, gigi yang hilang adalah faktor utama yang memprediksi kegagalan memori.


Ketika peneliti memeriksa jaringan otak, mereka menemukan tanda-tanda "badai" di dalam hippocampus, wilayah otak yang menyimpan kenangan baru. 


Mereka menemukan peningkatan molekul Bax, yang merupakan penanda kematian sel terprogram (apoptosis). Selain itu, ditemukan pula protein peradangan (neuroinflammation) yang tinggi. 


"Kami melihat lebih sedikit neuron atau sel saraf di wilayah kunci memori," lapor tim peneliti. 


Hilangnya gigi tampaknya memutus sinyal sensorik yang biasanya dikirim melalui saraf trigeminal (saraf terbesar di kepala) ke otak saat kita mengunyah. 


Tanpa stimulasi dari kunyahan, otak seolah kehilangan "latihan" harian yang menjaganya tetap aktif.


Melansir Journal of Prosthodontic Research, aktivitas mengunyah sebenarnya meningkatkan aliran darah ke korteks prefrontal dan hippocampus. 


Saat kita kehilangan kemampuan mengunyah secara alami, stimulasi ke saraf pusat berkurang drastis. 


Itulah sebabnya, menjaga kesehatan gigi sejak muda bukan hanya soal senyum yang indah, tapi juga investasi untuk otak yang tajam di masa tua.


Meskipun riset ini dilakukan pada tikus, temuan ini memberikan peringatan keras bagi manusia. Mencegah kehilangan gigi mungkin bisa menjadi salah satu strategi baru untuk menekan risiko demensia di masa depan. 


Jika gigi sudah terlanjur hilang, pertanyaan besarnya adalah, apakah pemasangan gigi palsu atau implan bisa memulihkan fungsi otak tersebut? 


Disadur dari StudyFinds.


Post a Comment

أحدث أقدم