Astronaut Bisa Jadi Tinggal di Igloo Saat Berada di Mars

Para ilmuwan meneliti kemungkinan membangun habitat astronaut di Mars menggunakan es untuk melindungi manusia dari radiasi ekstrem.


Para ilmuwan meneliti kemungkinan membangun habitat astronaut di Mars menggunakan es untuk melindungi manusia dari radiasi ekstrem.Ilustrasi dibuat oleh AI


Ringkasan

  • Peneliti mengeksplorasi penggunaan es murni sebagai alternatif bahan bangunan yang stabil dan ramah lingkungan untuk habitat di Mars.
  • Es memiliki keunggulan unik karena mampu menangkal radiasi berbahaya namun tetap membiarkan cahaya alami masuk ke dalam ruangan.
  • Teknologi distilasi vakum diusulkan untuk memurnikan es Mars dari debu agar struktur bangunan tetap kokoh dan transparan.


MEMBANGUN rumah di Bumi saja sudah menantang, apalagi di Mars. Planet Merah ini punya lingkungan yang sangat "galak": suhu yang bisa membekukan apa pun dan tekanan udara yang sangat rendah. 


Namun, sebuah riset terbaru yang dipimpin oleh Rafid Quayum dari Universitas Harvard mengajukan ide yang unik, bagaimana kalau kita membangun rumah dari es?


Ide ini sebenarnya terinspirasi dari kearifan lokal penduduk Bumi. Selama berabad-abad, orang Inuit di Kutub Utara telah menggunakan igloo sebagai tempat berlindung. 


Es terbukti mampu menahan panas di dalam ruangan dan melindungi dari cuaca ekstrem di luar. 


Di Mars, es menawarkan bonus tambahan yang tidak dimiliki oleh tanah Mars (regolit). Es bisa menyaring radiasi kosmik yang mematikan, tapi tetap membiarkan cahaya matahari masuk.


Mengapa cahaya matahari itu penting? Tinggal di dalam bunker bawah tanah yang gelap selama berbulan-bulan di Mars tentu tidak baik bagi kesehatan mental astronaut. 


"Kubah es memungkinkan cahaya alami masuk, yang sangat menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman dan kesejahteraan psikologis manusia," ujar Quayum.


Namun, tantangannya tidak mudah. Armin Kleinboehl dari Jet Propulsion Laboratory NASA mengingatkan bahwa mencari es di Mars itu sulit. 


Meskipun kutub Mars penuh es, cuaca di sana terlalu ekstrem untuk ditinggali. Para perencana misi lebih melirik area garis lintang tengah Mars, di mana es tersembunyi tepat di bawah permukaan tanah.


Karena atmosfer Mars sangat tipis, air tidak bisa mencair begitu saja, ia akan mendidih dan membeku hampir secara bersamaan. Untuk mengatasinya, tim peneliti mengusulkan teknik distilasi vakum. 


Es Mars yang kotor akan dipanaskan hingga menjadi uap, lalu dimurnikan dari debu dan regolit, sebelum akhirnya dibekukan kembali menjadi balok es kristal yang bening.


Berdasarkan model simulasi 3D, kubah es ini tetap stabil pada suhu rata-rata Mars sekitar -58°C. 


Untuk mencegah es meleleh dari dalam karena suhu ruangan manusia, peneliti menyisipkan lapisan isolasi aerogel dan segel khusus yang menjaga struktur tetap kokoh.


Melansir dari laman NASA Langley Research Center, konsep "Mars Ice Home" memang menjadi salah satu desain favorit karena air (es) kaya akan hidrogen. 


Hidrogen adalah material terbaik untuk memblokir sinar kosmik galaksi yang bisa memicu kanker pada astronaut. Jadi, rumah es ini bukan cuma soal estetika, tapi soal bertahan hidup.


Meski masih dalam tahap teori dan simulasi, tim peneliti berencana menguji konsep ini di tempat-tempat terekstrem di Bumi, seperti Antartika atau pegunungan Himalaya, sebelum benar-benar menerbangkannya ke planet tetangga. 


Jika berhasil, igloo modern mungkin akan menjadi pemandangan pertama saat manusia menjejakkan kaki secara permanen di Mars.


Disadur dari Eos.


Post a Comment

أحدث أقدم