Dalam kasus langka, manusia terbukti mampu bertahan hidup meski suhu inti tubuhnya turun hingga kisaran ekstrem.
Ringkasan
- Hipotermia terjadi saat suhu inti tubuh turun di bawah 35°C dan bisa mengganggu fungsi vital.
- Dalam kondisi medis tertentu, hipotermia terinduksi justru melindungi otak dan organ penting.
- Rekor terendah suhu tubuh yang selamat tercatat sekitar 4,2°C pada prosedur medis tahun 1961.
TUBUH manusia dirancang untuk hidup dalam rentang suhu yang terbatas. Namun sejarah medis mencatat sejumlah kasus luar biasa, manusia yang selamat meski suhu inti tubuhnya turun jauh di bawah batas normal.
Nah, seberapa dingin tubuh manusia dapat bertahan, bagaimana hipotermia bekerja, serta kapan kondisi berbahaya ini justru dimanfaatkan untuk menyelamatkan nyawa.
Manusia adalah homeoterm, artinya suhu inti tubuh dijaga relatif stabil, sekitar 37 derajat Celsius (98,6 derajat Fahrenheit).
Ketika suhu lingkungan turun drastis, tubuh segera bereaksi: aliran darah ke kulit dikurangi, otot bergetar (menggigil) untuk menghasilkan panas, dan pori-pori kulit berkontraksi sehingga muncul “bulu kuduk berdiri”.
Mekanisme ini bertujuan mempertahankan panas di organ vital.
Namun dalam kondisi ekstrem, pertahanan alami itu bisa gagal. Ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius (95°F), seseorang secara medis dinyatakan mengalami hipotermia. Pada tahap ini, fungsi tubuh mulai terganggu.
Hipotermia ringan, sekitar 32–35 derajat Celsius, sering kali menimbulkan gejala samar, seperti rasa lapar, mual, kebingungan, serta kulit pucat dan kering.
Jika suhu terus turun di bawah 32 derajat Celsius, kondisi berkembang menjadi hipotermia sedang. Detak jantung dan pernapasan melambat, tubuh terasa sangat lelah, dan otak mulai “salah hitung”.
Dalam fase ini dapat muncul perilaku aneh seperti paradoxical undressing, yakni penderita justru melepas pakaian karena sensasi panas palsu.
Pada hipotermia berat, ketika suhu inti turun di bawah sekitar 28 derajat Celsius (82,4°F), tubuh mulai mematikan fungsi-fungsi penting. Tekanan darah merosot tajam, denyut jantung sangat lambat, dan risiko kematian meningkat drastis.
Meski berbahaya, hipotermia tidak selalu berakhir tragis. Dalam kondisi tertentu, penurunan suhu tubuh justru dimanfaatkan secara medis.
Niklas Nielsen, ahli anestesi dari Lund University, Swedia, menjelaskan bahwa efek protektif suhu rendah telah lama dikenal dunia medis, terutama untuk melindungi otak dan organ vital saat operasi jantung atau otak.
Dalam operasi jantung terbuka, misalnya, dokter menghentikan sementara detak jantung dengan cairan khusus (kardioplegia) yang sekaligus mendinginkan organ tersebut.
Pendinginan ini memperlambat metabolisme sel, sehingga jaringan lebih tahan terhadap kekurangan oksigen.
Rekor terendah suhu tubuh manusia yang berhasil diselamatkan melalui hipotermia terinduksi tercatat pada tahun 1961, sekitar 4,2 derajat Celsius (39,6°F).
Pasien tersebut selamat dengan fungsi otak tetap utuh, sebuah pencapaian medis yang hampir mustahil diulang dengan standar etika dan keselamatan modern.
Di luar ruang operasi, ada pula kisah hipotermia tidak disengaja yang berakhir selamat. Salah satu yang terkenal adalah kasus anak kecil bernama Adam yang bertahan hidup dengan suhu inti sekitar 11,8 derajat Celsius (53,2°F).
Kasus-kasus seperti ini sangat langka, tetapi menunjukkan bahwa tubuh manusia kadang mampu bertahan melampaui batas yang dianggap mustahil.
Namun para ahli menegaskan, hipotermia adalah pedang bermata dua. Pendinginan ekstrem meningkatkan risiko infeksi, gangguan pembekuan darah, hingga kerusakan ginjal.
Karena itu, kedokteran modern cenderung menurunkan suhu tubuh seminimal mungkin, hanya sejauh manfaatnya lebih besar dari risikonya.
Bagi kebanyakan orang, pelajarannya sederhana. meski tubuh manusia luar biasa tangguh, ia tetap memiliki batas.
Untuk makhluk homeoterm seperti kita, bermalam di tengah dingin ekstrem tanpa perlindungan bukanlah eksperimen yang layak dicoba.
Disadur dari Popular Science.

إرسال تعليق