Ilmuwan berhasil melakukan teleportasi informasi kuantum antar foton, membuka jalan menuju jaringan internet kuantum superaman.
Ringkasan
- Ilmuwan berhasil mentransfer informasi kuantum antar dua foton dari quantum dots berbeda.
- Terobosan ini membuka jalan bagi quantum repeater, komponen penting internet kuantum.
- Teknologi ini meningkatkan keamanan karena informasi kuantum tak bisa disadap tanpa terdeteksi.
TELEPORTASI mungkin masih terdengar seperti teknologi dunia Star Trek, tapi versi kuantumnya kini makin mendekati kenyataan.
Tim ilmuwan di Jerman berhasil mentransfer informasi kuantum antar dua foton yang berasal dari dua sumber cahaya berbeda, yakni quantum dots yang diproduksi secara terpisah.
Meskipun bukan teleportasi pertama di dunia, capaian ini menjadi lompatan penting dalam pengembangan quantum repeater, komponen yang dibutuhkan agar internet kuantum jarak jauh dapat terwujud.
Hasil studi tim ilmuwan dari University of Stuttgart, Saarland University, dan IFW Dresden itu diterbitkan di Nature Communications.
Quantum internet berbeda dari internet saat ini karena memakai prinsip mekanika kuantum, di mana informasi disimpan dalam keadaan foton seperti polaritas.
Keunggulannya, keamanan mutlak. Karena keadaan kuantum tak bisa diukur tanpa mengubahnya, penyadapan menjadi nyaris mustahil.
Namun justru karena rapuhnya keadaan kuantum, informasi kuantum tidak bisa diperkuat menggunakan repeater biasa. Jika dipaksa, keadaan kuantum akan hancur. Solusinya? Teleportasi kuantum.
Menurut peneliti Peter Michler dari University of Stuttgart, ini adalah pertama kalinya informasi kuantum berhasil ditransfer antar foton dari dua quantum dots berbeda.
Ini penting karena quantum dots bekerja layaknya “pulau” semikonduktor mikro dengan level energi yang mirip atom. Setiap quantum dot biasanya menghasilkan foton yang sedikit berbeda, warnanya, waktunya, sampai karakter kuantumnya.
Di sinilah tantangan besarnya: untuk teleportasi kuantum berhasil, dua foton harus benar-benar tak bisa dibedakan. Mereka harus seperti kembaran kuantum: warna sama, waktu sama, karakteristik sama.
Tim IFW Dresden berhasil merancang quantum dots yang hampir identik, sehingga bisa menghasilkan foton yang mendekati kembar.
Dalam eksperimen ini, satu quantum dot memproduksi satu foton tunggal, sementara quantum dot lain membuat sepasang foton.
Teleportasi terjadi berkat proses yang melibatkan frequency converters, alat yang menyamakan frekuensi antar foton agar bisa saling “berbicara” di dunia kuantum.
Tingkat keberhasilannya kini berada di sekitar 70 persen, angka yang sudah cukup mencengangkan.
Quantum repeater adalah penghalang besar yang selama puluhan tahun menghambat realisasi internet kuantum global.
Repeater ini harus mampu meneruskan informasi kuantum jarak jauh tanpa merusak keadaan kuantum itu sendiri. Dengan teleportasi yang makin efisien, hambatan ini semakin mengecil.
Internet kuantum bukan cuma tentang kecepatan, bahkan bukan itu fokus utamanya. Yang paling penting adalah keamanan data absolut, komunikasi antar riset sains besar, dan kemungkinan aplikasi komputasi kuantum jarak jauh.
Beberapa negara seperti AS, China, dan Belanda sudah membangun prototipe jaringan kuantum nasional menggunakan serat optik dan satelit.
Sebagai tambahan, riset lain yang dipublikasikan oleh Quantum Internet Alliance (2025) menunjukkan bahwa teleportasi kuantum lintas kota kini semakin stabil.
Bahkan hal itu sudah diuji dari Delft ke Den Haag menggunakan jaringan fiber optik biasa. Ini mendukung temuan studi ini, bahwa pemanfaatan infrastruktur internet modern mungkin tak memerlukan perubahan besar.
Dengan semua perkembangan ini, masa depan yang digambarkan fiksi ilmiah—di mana teleportasi informasi terjadi secara instan dan aman—perlahan bergeser menjadi sains nyata.
Disadur dari Popular Mechanics.
.jpg)
Posting Komentar