Serigala dapat mengadopsi anak dari kawanan rival demi memperkuat kelompok dan menjaga keberlanjutan genetik.
Ilustrasi: vladimircech/FreepikRingkasan
- Serigala dapat mengadopsi anak dari kawanan rival, terutama ketika pejantan dominan berganti.
- Adopsi menguntungkan kawanan karena bisa menambah ukuran kelompok, memperkuat posisi, dan meningkatkan keragaman genetik.
- Hormon prolaktin dan struktur keluarga serigala membuat perilaku pengasuhan kolektif sangat kuat, hingga dimanfaatkan dalam konservasi.
DI ALAM LIAR, perebutan kekuasaan biasanya berarti bencana bagi anak hewan. Bahkan pada manusia pun, statistik menunjukkan pasangan baru lebih berisiko mencelakakan anak ketimbang orangtua biologis.
Namun serigala, hewan yang reputasinya sering digambarkan sebagai simbol kekejaman, justru menunjukkan perilaku sebaliknya. Hewan ini kadang mengadopsi anak dari kawanan pesaing.
Jeremy SunderRaj, teknisi biologi di Yellowstone Wolf Project, mengatakan kepada IFL Science bahwa serigala menerima anak asing ketika pejantan dominan mati atau digulingkan pejantan lain.
Pejantan baru itu biasanya mengadopsi anak-anak kawanan tersebut. “Itu memang terjadi, meski jarang,” katanya.
Yang membuatnya mengejutkan: anak hasil adopsi tidak diperlakukan sebagai “kelas dua”. “Semua anak, baik adopsi maupun bukan, sama,” ujarnya.
Ilmu modern telah membongkar mitos bahwa dalam kawanan serigala selalu ada hierarki kaku ala “alpha–beta”. Faktanya, kawanan serigala lebih mirip keluarga.
“Alpha” hanyalah ayah dan ibu, dan anggota kawanan lain adalah anak atau saudara. Perawatan anak dilakukan bersama—bukan hanya oleh induk, tapi juga oleh anggota dewasa lain yang membawa makanan, menjaga, hingga mengajari berburu.
Menurut Giselle Narváez Rivera dari International Wolf Center, bentuk perawatan kolektif ini, atau alloparental care, sangat penting bagi kelangsungan kawanan.
Lebih besar jumlah anggota, lebih kuat pula posisi sosial dan peluang menang dalam perebutan teritori. Di Yellowstone, perkelahian wilayah adalah penyebab kematian terbesar serigala.
Faktor inilah yang membuat adopsi anak asing bisa masuk akal. Selain menambah kekuatan, memasukkan anak dari luar membantu menyegarkan keragaman genetik karena serigala menghindari perkawinan sedarah.
Tidak seperti singa, serigala hanya kawin sekali setahun, biasanya pada Februari. Itu berarti membunuh anak saingan tidak memberi keuntungan reproduktif.
Sebaliknya, memelihara anak itu malah memberikan kekuatan baru bagi kawanan serta peluang genetik jangka panjang.
Narváez Rivera menambahkan bahwa hormon prolaktin, yang memuncak pada musim pengasuhan anak, membuat semua anggota kawanan terdorong merawat anak, bahkan yang bukan milik mereka.
Fenomena adopsi lintas kawanan ini dimanfaatkan oleh konservasionis melalui metode cross-fostering.
Anak serigala hasil penangkaran dimasukkan ke dalam liang kawanan liar sebelum berusia 10 hari. Dengan persiapan yang tepat, kawanan akan menerima anak itu sebagai bagian keluarga.
Hasilnya, anak belajar hidup liar dengan benar, sementara kawanan mendapatkan tambahan jumlah dan variasi gen.
Jim Devos dari Arizona Game and Fish Department pernah mengatakan, “Saat Anda menaruh anak itu dalam liang dan berjalan pergi, Anda tahu Anda sudah melakukan sesuatu yang penting bagi konservasi serigala Meksiko.”
Meski jarang hingga hampir mustahil melihat serigala mengadopsi spesies lain, sejarah mencatat sejumlah legenda, bahkan beberapa laporan nyata, tentang manusia yang dibesarkan oleh serigala. Namun bagi para ahli Yellowstone, adopsi antargatun tetap sangat tidak mungkin.
Di tengah reputasi sebagai pemburu ganas, serigala membuktikan bahwa kekuatan sosial mereka justru lahir dari naluri pengasuhan. “Serigala punya insting pengasuhan yang kuat. Dan itu berhasil,” tutur SunderRaj.
Disadur dari IFL Science.
Posting Komentar