Frekuensi Buang Air Besar Bisa Tunjukkan Kesehatan Tubuh

Riset besar menunjukkan frekuensi buang air besar dapat menjadi indikator penting kesehatan tubuh secara keseluruhan.


Riset besar menunjukkan frekuensi buang air besar dapat menjadi indikator penting kesehatan tubuh secara keseluruhan.Ilustrasi: Alexa/Pixabay


Ringkasan 

  • Orang paling sehat cenderung BAB 1–2 kali sehari, menurut studi 1.425 peserta.
  • Konstipasi dan diare berkaitan dengan perubahan mikrobioma, toksin tubuh, dan biomarker kerusakan organ.
  • Pola makan tinggi serat, hidrasi cukup, dan olahraga mendukung frekuensi BAB sehat.


SEBERAPA sering kamu buang air besar mungkin terdengar seperti pertanyaan pribadi, tetapi ternyata jawabannya bisa mengungkap banyak hal tentang kondisi tubuh. 


Studi terbaru yang diterbitkan di Cell Reports Medicine meneliti kebiasaan buang air besar 1.425 orang dan membandingkannya dengan data genetik, mikrobioma usus, serta biomarker kesehatan lainnya. 


Hasilnya, orang paling sehat adalah mereka yang buang air besar sekali atau dua kali sehari zona ideal yang disebut para peneliti sebagai “Goldilocks zone”.


Studi ini dipimpin oleh tim dari Institute for Systems Biology (ISB) di AS. 


Menurut mikrobiolog ISB, Sean Gibbons, frekuensi BAB bukan hanya soal kenyamanan, tetapi dapat memengaruhi “semua sistem tubuh” dan berpotensi menjadi faktor risiko penyakit kronis jika tidak normal. 


Dengan kata lain, jadwal BAB bisa menjadi sinyal penting dari dalam tubuh, sebuah indikator sederhana yang bisa dibaca siapa saja.


Para peserta melaporkan sendiri seberapa sering mereka BAB, lalu dikelompokkan menjadi empat kategori:

  • Konstipasi: 1–2 kali per minggu
  • Low-normal: 3–6 kali per minggu
  • High-normal (paling sehat): 1–3 kali per hari
  • Diare: lebih dari 4 kali per hari


Peneliti kemudian menganalisis darah, genetik, mikroba usus, hingga faktor seperti usia dan jenis kelamin. Hasilnya menunjukkan pola menarik. Mereka yang BAB jarang cenderung perempuan, lebih muda, dan memiliki BMI lebih rendah. 


Namun bahkan setelah faktor-faktor itu diperhitungkan, kelompok konstipasi dan diare tetap menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan yang jelas.


Pada penderita diare, sampel tinja lebih banyak mengandung bakteri yang biasanya berada di saluran pencernaan bagian atas, tanda adanya ketidakseimbangan mikroba. Sementara darah mereka menunjukkan biomarker kerusakan hati.


Pada kelompok konstipasi, mikroba usus memfermentasi protein karena kekurangan serat. Proses ini menghasilkan toksin seperti indoxyl-sulfate, zat berbahaya yang menurut penelitian lain dapat merusak ginjal. 


Zat tersebut memang ditemukan meningkat di darah peserta dengan frekuensi BAB rendah.


Frekuensi BAB ternyata sangat erat dengan kesehatan mikrobioma usus. Mereka yang berada dalam zona paling sehat mengonsumsi lebih banyak serat, air, dan rutin berolahraga. 


Sampel tinja mereka juga kaya bakteri yang memfermentasi serat, menghasilkan asam lemak rantai pendek yang bermanfaat bagi usus.


Menariknya, penelitian tahun 2025 dari Jerman (pra-review) menemukan bahwa pola latihan resistance training dua hingga tiga kali seminggu dapat mengubah komposisi mikroba usus hanya dalam delapan minggu. 


Artinya, gaya hidup bisa memengaruhi kategori BAB seseorang, dari konstipasi atau diare menuju zona ideal.


Studi lain pada 2025 juga menunjukkan bahwa orang dengan mikroba penghasil metana lebih efisien mengubah serat menjadi nutrisi, sehingga respons tiap orang terhadap diet serat bisa berbeda.


Setiap orang tentu pernah mengalami perubahan ritme BAB akibat infeksi atau pola makan tertentu. Namun studi ini menyoroti pentingnya memperhatikan pola normal kita sehari-hari. 


“Normal” bagi tubuh kita bisa menjadi petunjuk masalah yang tidak kita sadari.


Dengan pemahaman yang semakin mendalam tentang mikrobioma dan metabolisme, kebiasaan sederhana seperti BAB dapat menjadi alat diagnosis awal yang murah, mudah, dan bermanfaat dalam manajemen kesehatan jangka panjang.


Disadur dari Science Alert.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama