Ledakan Satelit Ancam Kualitas Citra Teleskop Antariksa

Lebih dari 500.000 satelit diproyeksikan mengorbit Bumi pada 2040 dan berpotensi merusak citra teleskop antariksa, menurut riset baru.


Sebuah gambar yang mensimulasikan kontaminasi dari jejak satelit dalam pengamatan oleh ARRAKIHS, teleskop Badan Antariksa Eropa yang direncanakan akan diluncurkan pada tahun 2030. Foto: NASA/Borlaff dkk/Nature via Smithsonian MagazineSebuah gambar yang mensimulasikan kontaminasi dari jejak satelit dalam pengamatan oleh ARRAKIHS, teleskop Badan Antariksa Eropa yang direncanakan akan diluncurkan pada tahun 2030. Foto: NASA/Borlaff dkk/Nature via Smithsonian Magazine


Ringkasan

  • Pada 2040, lebih dari 500.000 satelit diproyeksikan mengorbit Bumi dan mengganggu citra teleskop ruang angkasa.
  • Tiga teleskop, SPHEREx, ARRAKIHS, dan Xuntian, berpotensi mengalami jejak satelit pada lebih dari 96% citranya.
  • Upaya mitigasi ada, tetapi banyak ilmuwan menilai ketepatan orbit yang dibutuhkan terlalu sulit dicapai.


RUANG angkasa kini kian padat, dan itu kabar buruk bagi astronomi. 


Jika sebelumnya para peneliti memahami bahwa gangguan satelit terutama terjadi pada observatorium berbasis darat, kini studi terbaru yang dipimpin NASA mengungkapkan bahwa masalah itu ikut merambat ke teleskop luar angkasa. 


Empat teleskop, dua yang beroperasi dan dua yang direncanakan, diproyeksikan mengalami “fotobombing” berulang dari jejak cahaya satelit.


Riset yang terbit di Nature pada 3 Desember ini menunjukkan bahwa satelit akan meninggalkan jejak terang pada hampir semua citra dari tiga teleskop, SPHEREx, ARRAKIHS (ESA, 2030), dan Xuntian (Cina, 2026). 


SPHEREx diperkirakan mengalami sekitar enam jejak per gambar, ARRAKIHS sekitar 70, dan Xuntian sekitar 92. 


Hubble Space Telescope, berkat bidang pandang yang lebih sempit, masih akan terkena rata-rata dua jejak per citra dan 40 persen gambarnya akan terkontaminasi.


“Ketika teleskop menatap galaksi jauh, planet, dan asteroid, satelit terkadang melintas di depan kamera, meninggalkan jejak cahaya yang menghapus sinyal redup dari kosmos,” kata Alejandro Borlaff, astrofisikawan NASA, kepada Reuters.


Saat ini ada sekitar 15.000 satelit yang mengorbit Bumi. Namun pada 2040, jumlah itu diproyeksikan melonjak menjadi 560.000, mayoritas berasal dari rencana raksasa seperti Starlink milik SpaceX dan proyek serupa oleh Amazon


“Dalam empat tahun terakhir saja, kita meluncurkan lebih banyak satelit orbit rendah dibanding tujuh dekade penerbangan antariksa sebelumnya,” ujar Borlaff.


Untuk memahami dampaknya, tim menjalankan simulasi orbit satelit terhadap empat teleskop, Hubble, SPHEREx, Xuntian, dan ARRAKIHS. Hasilnya menggambarkan masa depan yang memprihatinkan bagi astronomi berbasis ruang.


Tidak semua ilmuwan setuju sepenuhnya. Rafael Guzmán dari konsorsium ARRAKIHS mengatakan kepada Science bahwa studi tersebut keliru mengasumsikan ARRAKIHS mengamati seluruh langit. 


Menurutnya, sebagian besar waktu teleskop itu akan mengarah menjauh dari Bumi, sehingga polusi cahaya satelit mungkin tidak separah yang diperkirakan. 


Analisis tim Guzmán menunjukkan bahwa meski 96 persen gambar akan kena jejak, bagian gambar yang terkontaminasi lebih kecil dari hasil studi NASA.


Masalah besar ini menimbulkan pertanyaan, bisa kah dampaknya dikurangi? 


Borlaff dan rekan-rekannya mengusulkan tiga langkah mitigasi, yakni membatasi ketinggian orbit satelit, membuat arsip lengkap orbit satelit dan debris, serta menghasilkan data orbit lebih presisi bagi operator konstelasi. 


Namun banyak astronom skeptis. Meredith Rawls dari University of Washington mengatakan bahwa teleskop seperti Hubble membutuhkan prediksi orbit satelit dengan ketepatan beberapa sentimeter, sesuatu yang dianggap “tidak realistis” secara fisik.


Mark McCaughrean dari Max Planck Institute for Astronomy bahkan lebih pesimistis, menyebut gagasan teleskop dapat menghindari satelit sebagai “sangat naif”. 


Menurutnya, terlalu sedikit orang yang memahami konsekuensi eksploitasi ruang angkasa secara berlebihan.


Isu ini juga bersinggungan dengan kekhawatiran lain terkait konstelasi satelit raksasa, seperti peningkatan risiko sampah antariksa, tabrakan berantai ala efek Kessler, dan berkurangnya kemampuan memonitor asteroid dekat Bumi. 


Laporan European Space Agency, 2024, juga menegaskan jumlah objek berbahaya di orbit terus meningkat, memperkuat urgensi regulasi global mengenai lalu lintas satelit.


Disadur dari Smithsonian Magazine.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama