Pengorbanan Tragis Bayi Semut untuk Selamatkan Koloni

Bayi semut sakit melepaskan bau khusus yang memicu pekerja membunuhnya demi mencegah wabah di dalam koloni.


Semut pekerja mengeluarkan pupa yang terinfeksi fatal dari kepompongnya. Foto: Christopher D. Pull/ISTASemut pekerja mengeluarkan pupa yang terinfeksi fatal dari kepompongnya. Foto: Christopher D. Pull/ISTA


Ringkasan

  • Pupa semut sakit melepaskan aroma khusus yang memicu pekerja untuk membunuhnya demi mencegah wabah.
  • Asam format digunakan semut pekerja untuk mensterilkan dan menghentikan penyebaran patogen.
  • Hanya pupa pekerja yang mengeluarkan sinyal “find-me-and-eat-me,” sementara pupa ratu tidak, kemungkinan karena imunitas lebih kuat.


DALAM dunia serangga sosial, pengorbanan individu demi keselamatan kelompok bukan hal baru. Namun penelitian terbaru menunjukkan, perilaku “altruistik” ini bisa muncul bahkan sejak semut masih menjadi pupa, tahap bayi yang tak bisa bergerak. 


Studi dari Institute of Science and Technology Austria (ISTA), bekerja sama dengan ilmuwan dari University of Würzburg, mengungkap mekanisme mengejutkan.


Pupa semut yang terinfeksi memancarkan aroma tertentu yang memicu pekerja untuk membunuh dan mensterilkannya demi mencegah penyakit menyebar.


Ketika pupa terinfeksi penyakit yang tak dapat disembuhkan, mereka mengeluarkan molekul bau yang hanya terdeteksi pada permukaan kokon. Begitu semut pekerja mencium aroma ini, mereka segera bereaksi.


Semut membuka kokon, menggigit tubuh pupa hingga tercipta lubang kecil, lalu menyiramkan asam format, racun antimikroba yang diproduksi oleh tubuh mereka sendiri.


Asam format ini bekerja ganda: membunuh patogen sekaligus membunuh pupa yang terinfeksi. Dari luar terlihat seperti tindakan brutal, tetapi dari perspektif evolusi, ini adalah bentuk penyelamatan genetik.


“Sekilas tampak seperti pengorbanan diri, tetapi ini juga menguntungkan bagi pupa sebagai pemberi sinyal,” kata Erika Dawson, penulis utama studi tersebut. 


“Dengan memperingatkan koloni, pupa terminal melindungi saudara satu koloninya yang berbagi sebagian besar gen dengannya.”


Penelitian ini menguatkan gagasan bahwa koloni semut bekerja layaknya satu superorganisme


Individu dalam koloni berfungsi seperti sel dalam tubuh manusia, dan para pekerja diibaratkan sel imun yang menghancurkan sel sakit berdasarkan sinyal kimia yang disebut imunolog sebagai find-me-and-eat-me signal.


Untuk menguji apakah aroma ini memang menjadi pemicu, para peneliti memindahkan molekul bau dari pupa sakit ke kokon pupa sehat. Hasilnya konsisten. Semut pekerja segera merusak kokon sehat tersebut dan “mengeksekusi” pupa di dalamnya.


Menariknya, fenomena ini hanya terjadi pada pupa calon pekerja. Pupa calon ratu tidak memancarkan aroma tersebut, kemungkinan karena sistem imunnya jauh lebih kuat, sehingga mereka memiliki peluang bertahan dari infeksi.


Temuan ini sejalan dengan sejumlah perilaku “altruistik” semut lain yang telah terdeteksi sebelumnya:


  • Semut yang terinfeksi jamur mulai menjaga jarak dari anggota koloni lainnya, bahkan membangun pintu dan terowongan terpisah agar tidak menulari sesama.
  • Semut tua atau hampir mati secara sukarela meninggalkan sarang untuk mati di luar kolon, perilaku ini dikenal sebagai terminal altruism.


Studi terbaru ini memperluas pemahaman tentang cara koloni semut mempertahankan kesehatan kolektif. 


Bahkan pada tahap hidup paling awal, seleksi alam telah membentuk mekanisme untuk mendeteksi dan mengeliminasi ancaman penyakit dengan efisiensi tinggi.


Penemuan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications dengan judul Altruistic disease signaling in ant colonies,” memperkuat posisi semut sebagai salah satu organisme sosial dengan strategi pertahanan paling kompleks dan mengagumkan di alam.


Disadur dari New Atlas.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama