Ketika Otak Bekerja Keras, Kita Berkedip Lebih Jarang

Penelitian baru menunjukkan manusia berkedip lebih sedikit ketika otaknya bekerja lebih keras memahami ujaran di lingkungan bising.


Penelitian baru menunjukkan manusia berkedip lebih sedikit ketika otaknya bekerja lebih keras memahami ujaran di lingkungan bising.Ilustrasi: diana.grytsku/Freepik


Ringkasan 

  • Orang berkedip lebih sedikit saat otak bekerja keras memahami ucapan dalam kondisi bising.
  • Cahaya bukan faktor utama; beban kognitiflah yang mengatur pola kedipan.
  • Kedipan bisa menjadi indikator murah dan praktis untuk mengukur fokus dan beban mental.


KEDIPAN mata biasanya terjadi begitu saja, namun riset terbaru dari Concordia University mengungkap bahwa pola kedipan dapat menjadi jendela sederhana namun kuat untuk melihat seberapa keras otak bekerja. 


Temuannya, ketika kita berjuang memahami percakapan di ruangan ramai atau penuh gangguan suara, tubuh secara alami mengurangi frekuensi kedipan.


Riset yang dipublikasikan di jurnal Trends in Hearing ini menelaah bagaimana kedipan berkaitan dengan fungsi kognitif, khususnya upaya otak menyaring gangguan agar dapat fokus pada informasi penting. 


Dalam dua eksperimen yang dilakukan, para peneliti menemukan pola yang konsisten. Semakin sulit seseorang memahami ucapan, semakin jarang ia berkedip.


Pénélope Coupal, penulis utama studi dan mahasiswa Honors di Laboratory for Hearing and Cognition, mengatakan mereka ingin memahami apakah kedipan dipengaruhi faktor lingkungan atau terkait fungsi eksekutif otak. 


“Kami ingin tahu apakah orang menahan kedipan agar tidak melewatkan informasi penting,” ujarnya. 


Hasilnya, memang benar, kedipan tidak terjadi secara acak. “Kita berkedip secara sistematis lebih sedikit ketika informasi penting disampaikan,” kata Coupal.


Eksperimen pertama melibatkan hampir 50 peserta yang duduk di ruang kedap suara, memandang tanda silang di layar sambil mendengarkan kalimat pendek melalui headphone


Tingkat kebisingan (signal-to-noise ratio/SNR) sengaja diubah-ubah, dari kondisi tenang hingga sangat bising. Dengan kacamata pelacak mata, setiap kedipan direkam dengan presisi tinggi.


Hasilnya jelas, frekuensi kedipan turun drastis saat peserta sedang mendengarkan kalimat, dibandingkan sebelum dan sesudah kalimat diputar. 


Penurunan kedipan paling kuat muncul ketika kebisingan tinggi, ketika otak harus bekerja maksimal untuk membedakan ucapan dari keributan latar.


Eksperimen kedua menambahkan variabel baru, cahaya. Peserta diuji dalam kondisi gelap, sedang, dan terang. Ternyata pola yang sama muncul di semua pencahayaan. 


Artinya, bukan cahaya yang mengontrol kedipan, melainkan beban kognitif.


Menariknya, tingkat kedipan dasar antarindividu sangat bervariasi. Ada yang hanya 10 kali per menit, ada yang mencapai 70 kali. Namun tren umumnya tetap signifikan.


Selama ini banyak penelitian lebih menyoroti pelebaran pupil sebagai indikator beban kognitif. Kedipan cenderung dianggap gangguan yang harus „dibersihkan“ dari data. 


Studi baru ini justru berfokus pada kedipan, dan menemukan bahwa metrik sederhana ini bisa menjadi alat praktis mengukur fungsi kognitif di laboratorium maupun situasi nyata—tanpa perlengkapan rumit.


“Kedipan berkaitan dengan hilangnya informasi, baik visual maupun auditori,” ujar Mickael Deroche, rekan penulis dan profesor psikologi di Concordia. 


Karena itu, manusia cenderung menahan kedipan saat informasi penting masuk. 


Ia menambahkan, langkah berikutnya adalah memetakan secara detail bagaimana dan kapan informasi hilang selama kedipan berlangsung, studi lanjutan sedang dipimpin oleh peneliti pascadoktoral Charlotte Bigras.


Temuan ini semakin menarik ketika dikaitkan dengan penelitian lain mengenai beban kognitif. 


Misalnya, studi di jurnal Human Factors menemukan bahwa pengemudi yang berkonsentrasi tinggi pada kondisi lalu lintas rumit juga cenderung berkedip lebih sedikit. 


Sementara riset dari University of Rochester menunjukkan gamer kompetitif menahan kedipan saat menjalankan tugas visual yang intens. 


Jika digabungkan, pola ini menunjukkan bahwa kedipan dapat menjadi indikator universal untuk fokus mental, baik saat mendengarkan, mengemudi, bermain gim, atau memproses informasi kompleks lainnya.


Penelitian ini membuka kemungkinan baru, memahami kerja otak melalui perilaku sehari-hari yang sangat sederhana. 


Kedipan bukan sekadar gerakan kecil, tetapi cermin dari bagaimana otak memprioritaskan informasi. Dan semakin keras ia bekerja, semakin lama mata kita “bertahan” untuk tidak berkedip.


Disadur dari Medical Xpress.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama