Mosaik Romawi langka di Inggris diduga menggambarkan kisah Perang Troya versi hilang, bukan Iliad karya Homer.
Panel pertama dari mosaik Ketton yang ditemukan pada tahun 2020. University of Leicester Archaeological ServicesRingkasan
- Mosaik Romawi di Inggris diduga menggambarkan kisah Perang Troya versi langka.
- Detail visualnya tidak sesuai dengan Iliad karya Homer, melainkan tragedi Phrygians karya Aeschylus.
- Temuan ini menunjukkan kuatnya jejaring budaya klasik di Britania Romawi.
SEBUAH mosaik Romawi yang ditemukan di sebuah lahan pertanian di Inggris tengah kembali menghebohkan dunia arkeologi. Awalnya, karya seni kuno ini diyakini menggambarkan adegan dari Iliad karya Homer.
Namun riset terbaru menunjukkan bahwa mosaik tersebut justru mungkin bersumber dari kisah Perang Troya versi lain yang kini hampir sepenuhnya hilang dari sejarah.
Penelitian yang dipublikasikan bulan ini dalam jurnal Britannia menyebutkan bahwa mosaik tersebut kemungkinan besar terinspirasi dari Phrygians, sebuah tragedi karya dramawan Athena, Aeschylus, yang ditulis pada abad ke-5 sebelum Masehi.
Sebagian besar naskah drama itu telah lenyap, menjadikan mosaik ini petunjuk visual langka atas cerita yang nyaris terlupakan.
Mosaik tersebut ditemukan pada 2020 oleh Jim Irvine saat berjalan di lahan pertanian milik ayahnya di desa Ketton. Ia melihat pecahan tembikar yang tampak tak biasa.
Temuan itu kemudian dilaporkan ke Dewan Kabupaten Leicestershire, yang segera melibatkan tim arkeolog dari University of Leicester.
Penggalian lanjutan mengungkap mosaik berwarna-warni sepanjang sekitar 11 meter, dikelilingi sisa-sisa vila Romawi besar yang dihuni pada abad ke-3 dan ke-4 Masehi, masa Romawi akhir di Britania.
“Ini jelas merupakan penemuan mosaik Romawi paling menarik di Inggris dalam satu abad terakhir,” ujar John Thomas, wakil direktur University of Leicester Archaeological Services, dalam pernyataan resmi pada 2021.
Konteks bangunan vila yang relatif utuh juga memberikan gambaran langka tentang kehidupan elite Romawi di wilayah tersebut.
Mosaik ini menampilkan tiga adegan yang berpusat pada dua tokoh legendaris Perang Troya, Achilles dari Yunani dan Hector dari Troya.
Panel pertama menunjukkan keduanya bertarung dengan kereta perang. Panel kedua menggambarkan Achilles menyeret jasad Hector di belakang keretanya, sementara Raja Priam, ayah Hector, memohon belas kasihan.
Panel ketiga memperlihatkan Priam menimbang emas sebagai tebusan untuk menebus jenazah putranya.
Rincian visual inilah yang membuat para sejarawan mulai meragukan keterkaitan mosaik dengan Iliad. Dalam epik Homer, Achilles dan Hector bertarung dengan berjalan kaki, bukan di atas kereta.
Tubuh Hector dalam Iliad juga dilindungi dewa Apollo dari kerusakan, sementara mosaik menunjukkan luka dan abrasi di tubuhnya.
Selain itu, Iliad tidak menggambarkan proses penimbangan emas, tebusan Priam berupa berbagai barang berharga, bukan emas yang ditimbang.
Menurut Jane Masséglia, sejarawan University of Leicester dan penulis utama studi ini, pilihan kisah tersebut sangat tidak lazim.
“Aeschylus bisa disamakan dengan Shakespeare dalam sastra Yunani kuno. Menggunakan versi cerita yang begitu ‘niche’ sangat jarang di Kekaisaran Romawi, dan belum pernah ditemukan di Britania,” ujarnya kepada BBC.
Bagaimana kisah dari Phrygians bisa sampai ke Inggris Romawi?
Para peneliti mengajukan tiga kemungkinan, mosaik ini dibuat berdasarkan naskah bergambar karya Aeschylus, melalui teks Romawi yang mengadaptasi ceritanya, atau lewat motif visual yang bertahan pada koin dan karya seni lain.
Opsi terakhir dinilai paling meyakinkan, menunjukkan bahwa kisah-kisah Yunani kuno menyebar tidak hanya lewat teks, tetapi juga melalui tradisi visual.
Bagi para ahli, mosaik Ketton ini membuka jendela baru tentang selera intelektual pemilik vila dan jaringan budaya Romawi di Britania.
“Penelitian ini mengurai bagaimana kisah Achilles dan Hector disebarkan melalui repertoar visual, dari tembikar hingga mosaik,” kata Hella Eckardt, arkeolog University of Reading yang tidak terlibat dalam studi tersebut.
Lebih dari sekadar karya seni, mosaik ini menegaskan bahwa Britania Romawi bukan wilayah pinggiran budaya, melainkan bagian aktif dari dunia klasik yang kosmopolitan.
Disadur dari Smithsonian Magazine.
إرسال تعليق