Menumpuk Sejumlah Kebiasaan Buruk Bisa Lipatgandakan Risiko Depresi

Mereka yang menumpuk kebiasaan-kebiasaan buruk memiliki kemungkinan jauh lebih besar mengalami depresi.


Mereka yang menumpuk kebiasaan-kebiasaan buruk memiliki kemungkinan jauh lebih besar mengalami depresi.Foto Ilustrasi: Anemone123/Pixabay


Ringkasan 

  • Kombinasi lima kebiasaan tidak sehat (makan buruk, kurang gerak, tidur tak teratur, merokok, dan alkohol) berhubungan kuat dengan depresi.
  • Mereka dengan gaya hidup paling buruk hampir dua kali lebih mungkin mengalami depresi dibanding yang paling sehat.
  • Pola ini berlaku untuk semua kelompok umur, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan.


PENELITIAN terbaru menunjukkan bahwa depresi tidak hanya dipicu oleh satu kebiasaan buruk, tetapi oleh kombinasi dari beberapa gaya hidup tidak sehat.


Sejumlah gaya hidup itu di antaranya pola makan buruk, kurang olahraga, tidur tidak teratur, merokok, dan konsumsi alkohol berlebihan.


Penelitian yang diterbitkan di Journal of Affective Disorders itu dipimpin oleh Qian Tian dari Fudan University dan Shanghai University, Cina. 


Tim peneliti menggunakan data dari 21.854 peserta di Amerika Serikat yang dikumpulkan antara 1999 hingga 2018 melalui National Health and Nutrition Examination Survey


Usia rata-rata peserta adalah 46 tahun, dan 52% di antaranya laki-laki. 


Para peneliti menciptakan skor kebiasaan tidak sehat (Unhealthy Lifestyle Behaviors/ULB) berdasarkan lima aspek: pola makan, aktivitas fisik, tidur, merokok, dan konsumsi alkohol.


Hasilnya, sebanyak 7% peserta menunjukkan gejala depresi, dengan prevalensi lebih tinggi pada perempuan. 


Mereka yang memiliki skor ULB tertinggi. Artinya, mengumpulkan lebih banyak kebiasaan buruk. Mereka memiliki hampir dua kali lipat risiko depresi dibanding mereka yang hidup lebih sehat. 


Bkan hanya “punya atau tidak punya” depresi, semakin banyak kebiasaan buruk yang dikumpulkan, semakin parah pula gejala depresinya.


Menariknya, pola ini konsisten di seluruh kelompok usia dan jenis kelamin. 


Artinya, baik anak muda yang begadang sambil ngemil junk food, maupun orang dewasa yang duduk seharian tanpa olahraga, sama-sama berpotensi menjerumuskan diri dalam spiral suasana hati yang buruk.


Menurut Tian dan rekan-rekannya, hubungan antara gaya hidup buruk dan depresi terjadi lewat berbagai jalur biologis dan sosial. 


  • Pertama, gaya hidup tidak sehat sering berdampingan dengan penyakit kronis seperti hipertensi atau obesitas, yang bisa memperparah stres. 
  • Kedua, pola makan buruk dan tidur yang berantakan dapat mengubah struktur dan fungsi otak, terutama di wilayah yang mengatur emosi. 
  • Ketiga, kebiasaan ini sering menyebabkan isolasi sosial dan rendah diri—dua bahan bakar utama depresi.


Para peneliti menyarankan agar skor ULB digunakan dalam skrining kesehatan rutin, agar dokter bisa mendeteksi risiko depresi lebih dini. 


Misalnya, seseorang dengan pola hidup kurang sehat bisa langsung mendapatkan intervensi gaya hidup sebelum depresi berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.


Namun, studi ini punya batasan. Karena bersifat potong lintang (cross-sectional), penelitian ini tidak membuktikan sebab-akibat. Bisa jadi depresi justru mendorong seseorang untuk hidup tidak sehat, bukan sebaliknya. 


Selain itu, data bergantung pada laporan diri peserta, yang rentan bias (misalnya, orang cenderung menganggap tidurnya “cukup”, padahal tidak).


Meski begitu, temuan ini memperkuat pesan klasik yang sering kita abaikan. Kebiasaan kecil yang buruk jarang berdiri sendiri. Saat mereka berkumpul, efeknya bisa berlipat ganda terhadap kesehatan mental. 


Jadi, mungkin sudah waktunya kita berhenti menganggap tidur larut, makan asal, dan “minum sedikit saja” sebagai hal sepele karena ternyata, depresi bisa lahir dari kumpulan kebiasaan yang kita anggap ringan.


Disadur dari PsyPost

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama