Gelombang Sunyi di Teluk Suez Masih Mengoyak Benua

Teluk Suez ternyata masih retak perlahan, lima juta tahun setelah diyakini berhenti bergerak oleh para ilmuwan.


Teluk Suez ternyata masih retak perlahan, lima juta tahun setelah diyakini berhenti bergerak oleh para ilmuwan.Foto: Wikipedia


Ringkasan 

  • Teluk Suez ternyata masih terus meregang sekitar 0,5 mm per tahun, bukan berhenti 5 juta tahun lalu.
  • Bukti geologis, terumbu karang terangkat, gempa kecil, dan pola sungai menguatkan aktivitas rift yang masih berlangsung.
  • Temuan ini menantang teori lama tentang rift “gagal” dan dapat mengubah peta risiko gempa regional.


TELUK SUEZ, celah sempit yang memisahkan Afrika dan Asia, selama ini dianggap contoh sempurna dari rift gagal, sebuah retakan lempeng tektonik yang berhenti sebelum sempat menjadi samudra. 


Namun penelitian terbaru mengungkapkan kisah berbeda. Retakan itu ternyata tidak pernah benar-benar berhenti, hanya melambat. 


Temuan ini dipublikasikan pada 3 November 2025 di Geophysical Research Letters dan berpotensi mengubah cara ilmuwan memahami evolusi patahan Bumi.


Sekitar 28 juta tahun lalu, Lempeng Arab mulai menjauh dari Lempeng Afrika, membuka celah yang kini menjadi Teluk Suez. Kemudian, menurut teori klasik, proses itu berhenti sekitar 5 juta tahun lalu. 


Tapi riset terbaru yang dipimpin David Fernández-Blanco, geosaintis dari Chinese Academy of Sciences, menunjukkan rifting itu masih berlangsung—meski amat pelan, hanya 0,5 milimeter per tahun.


“Kami menunjukkan bahwa rift bisa melambat tanpa benar-benar gagal,”* kata Fernández-Blanco kepada Live Science


Ada sejumlah bukti kecil yang sejak lama membuat para ahli curiga:

  • Terumbu karang kuno yang terangkat puluhan meter di atas permukaan laut;
  • Gempa kecil yang masih mengguncang wilayah tersebut;
  • Patahan aktif yang mengangkat sebagian daratan.


Tim peneliti memeriksa bentang rift sepanjang 300 kilometer, termasuk aliran sungai yang memotong batuan tua, profil sungai yang “aneh” kadang menjadi bukti kuat adanya pengangkatan tektonik. 


Mereka juga memetakan terumbu karang purba yang seharusnya terbentuk di permukaan laut, tetapi kini terangkat hingga 18,5 meter.


Kumpulan bukti itu menunjukkan satu hal, rifting di Suez tidak mati, hanya bergeser dan melemah sejak jutaan tahun lalu ketika batas lempeng baru mulai berkembang di kawasan Laut Mati.


Menariknya, laju pembukaan Teluk Suez saat ini sebanding dengan proses ekstensi di Basin and Range Province, wilayah luas di Amerika Serikat bagian barat yang terkenal dengan pegunungan dan lembah memanjang akibat tarikan lempeng. 


“Kondisi batas lempeng yang berubah tak selalu mematikan rift,” ujar Fernández-Blanco. “Gaya pendorongnya lebih kompleks daripada sekadar pergerakan lempeng.”


Artinya, retakan yang dianggap “gagal” mungkin masih berdenyut, perlahan namun pasti.


Jika rifting Teluk Suez masih aktif, kawasan tersebut mungkin lebih rentan terhadap gempa signifikan daripada yang diperkirakan sebelumnya. 


Situasi ini menyerupai apa yang terjadi di beberapa rift tua lain di dunia yang diyakini telah mati tetapi ternyata masih bergerak.


Temuan ini juga membuka kemungkinan bahwa rift-rift lain di berbagai benua patut ditinjau ulang dengan teknologi pemetaan dan pengukuran modern.


“Bumi jauh lebih dinamis dan persisten daripada yang kita bayangkan,” kata Fernández-Blanco.


Para geolog menyebut studi ini sebagai dorongan untuk memetakan ulang sejarah tektonik, sekaligus mengingatkan bahwa apa yang tampak “tenang” di permukaan bisa saja menyimpan gerakan internal yang tak kasatmata.


Disadur dari Live Science


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama