Penelitian baru menemukan delapan peta tubuh di otak visual yang membuat kita “merasa” apa yang kita lihat pada orang lain.
Ringkasan
- Film Inception dan The Social Network digunakan untuk memetakan cara otak mengubah visual menjadi sensasi tubuh.
- Peneliti menemukan delapan peta tubuh di otak visual, identik dengan peta pusat sentuhan.
- Temuan ini membuka peluang baru untuk riset autisme, BCI, dan pengembangan AI berbasis pengalaman tubuh.
KETIKA teman kita tak sengaja melukai jarinya saat memasak, kita spontan meringis, bahkan kadang ikut merasa sakit. Apa yang terjadi di otak kita di saat itu?
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa respons itu bukan sekadar empati emosional, melainkan aktivasi nyata pada pusat sentuhan otak.
Studi yang dipimpin University of Reading serta tim dari Netherlands Institute for Neuroscience dan Vrije Universiteit Amsterdam memetakan bagaimana otak menerjemahkan informasi visual menjadi sensasi fisik.
Penelitian yang diterbitkan di Nature pada November 2025 ini mengambil pendekatan yang tidak biasa.
Alih-alih memaparkan partisipan pada stimulus sederhana, para peneliti menyajikan potongan film Hollywood, seperti Inception dan The Social Network, saat mereka berada dalam pemindai fMRI.
Tujuannya adalah menangkap respons otak dalam situasi yang lebih menyerupai pengalaman nyata, penuh konteks sosial, emosi, dan interaksi tubuh.
Kunci dari penelitian ini adalah somatosensory cortex, wilayah otak yang memetakan sensasi tubuh dari ujung kepala hingga kaki. Di sana, terdapat peta tubuh yang memungkinkan otak mengetahui asal suatu sensasi.
Namun kejutan terbesarnya, tim peneliti menemukan delapan peta tubuh serupa di dalam otak visual, wilayah yang selama ini dianggap khusus memproses informasi penglihatan.
“Bukan satu atau dua, tapi delapan peta yang sangat mirip,” kata penulis studi, Tomas Knapen. “Temuan ini menunjukkan betapa kuatnya otak visual menggunakan bahasa sentuhan.”
Peta-peta itu tersusun persis seperti peta tubuh di pusat sentuhan, menandakan bahwa ketika kita melihat seseorang terluka, otak visual langsung memetakannya ke representasi tubuh kita sendiri.
Dengan kata lain, otak “meniru” apa yang dilihat seolah-olah kita yang merasakan.
Studi sebelumnya memang sudah menunjukkan keberadaan mirror neurons, neuron yang aktif ketika kita melakukan sebuah aksi maupun melihat orang lain melakukannya.
Namun penelitian terbaru ini menyempurnakan pemahaman tentang bagaimana visual bisa mengaktifkan sensasi fisik yang lebih spesifik melalui representasi tubuh yang lengkap.
Para peneliti menjelaskan bahwa setiap peta tubuh di otak visual memiliki fungsi khusus. Beberapa mengenali bagian tubuh, lainnya menilai lokasi tubuh dalam ruang.
Kombinasi fungsi tersebut memungkinkan kita memfokuskan pandangan pada bagian penting dari sebuah adegan, misalnya tangan seseorang saat melakukan tindakan yang berpotensi menyakitkan.
Temuan ini disebut penting untuk riset mengenai pemrosesan emosi dan gangguan seperti autisme. Banyak individu dalam spektrum autisme mengalami kesulitan memproses isyarat sosial dan representasi tubuh orang lain.
Dengan memahami peta visual-taktil ini, ilmuwan dapat mengembangkan terapi dan pendekatan yang lebih tepat.
Penelitian ini juga membuka peluang besar di bidang antarmuka otak-komputer (Brain-Computer Interface/BCI). Biasanya, pelatihan BCI mengandalkan instruksi seperti “bayangkan menggerakkan tangan”.
Namun jika peta tubuh dapat diaktifkan melalui stimulus visual, maka latihan bisa diperluas menjadi pengalaman sensorik yang lebih kaya.
Ini dapat membantu meningkatkan akurasi kontrol BCI, termasuk untuk teknologi prostetik canggih.
Knapen menambahkan bahwa temuan ini juga berpotensi mempercepat perkembangan AI. Saat ini, sebagian besar teknologi AI memproses teks dan video tanpa memahami dimensi tubuh.
Memasukkan “pengalaman tubuh” dapat membantu AI memahami konteks sosial dan sensorik secara lebih manusiawi.
“Ini peluang besar bagi pengembangan AI,” kata Knapen, menyebut kolaborasi antara neurosains dan kecerdasan buatan sebagai “sinergi yang indah”.
Disadur dari Interesting Engineering.

Posting Komentar