Remaja mudah terpapar misinformasi digital, namun riset menunjukkan mereka juga punya modal sosial dan kognitif untuk membangun ketahanan.
Ringkasan
- Remaja rentan karena emosi kuat, tekanan sosial, dan algoritma platform digital.
- Namun sensitivitas sosial, rasa ingin tahu, dan kemampuan berpikir kritis mereka bisa jadi kekuatan.
- Pendidikan literasi digital, peran orang tua, dan keterlibatan remaja sendiri sangat penting membangun ketahanan.
HIDUP di era ketika media sosial menyatu dengan kehidupan harian membuat remaja terhubung, terinformasi dan sekaligus lebih rentan. Menjadi “digital native” ternyata tidak otomatis membuat mereka kebal.
Penelitian Ili Ma, seorang psikolog perkembangan, yang dipublikasikan di Nature Human Behaviour, mengungkapkan bagaimana remaja dapat memperkuat diri menghadapi misinformasi digital.
Risetnya menekankan bahwa masa remaja, fase transisi menuju dewasa, merupakan periode kritis ketika perubahan sosial, emosional, dan kognitif memengaruhi cara seseorang menyaring dan memproses informasi.
Remaja mengikuti akun berbeda dari orang dewasa, memberi nilai tinggi pada opini teman atau influencer, dan ini membuat mereka mudah terpengaruh, sekaligus membuka peluang pembentukan ketahanan baru.
Pada masa remaja, identitas dan rasa memiliki menjadi pusat perhatian.
Konten viral di media sosial, sering kali sensasional, membentuk persepsi apa yang dianggap “normal”. Ketika informasi palsu datang dari teman atau figur yang mereka kagumi, dampaknya bisa lebih kuat.
Namun, sensitivitas sosial ini dapat berubah menjadi kekuatan. Jika norma kelompok mendorong akurasi dan kehati-hatian, remaja justru saling mengingatkan untuk berpikir lebih kritis.
Dalam laporan studinya, Ma menyebutkan, pendekatan berbasis kelompok dan peer-led learning terbukti kuat dalam mengubah perilaku digital.
Remaja memiliki respons emosional yang lebih intens dibanding orang dewasa. Misinformasi sering memanfaatkan emosi, ketakutan, kemarahan, keterkejutan—untuk menyebar cepat.
Di sisi lain, remaja juga tertarik pada konten positif dan inspiratif. Ini dapat mengurangi paparan mereka pada misinformasi berbasis ketakutan, meski membuat mereka lebih rentan pada “misinformasi positif.”
Sebut saja wellness hacks atau motivasi palsu yang tampak jinak tetapi menyesatkan.
Secara kognitif, remaja sedang belajar menimbang bukti, memeriksa logika, dan mengevaluasi sumber.
Karena kemampuan ini belum matang, mereka cenderung mengandalkan intuisi atau faktor familiaritas—informasi yang sering diulang terasa lebih benar.
Tetapi rasa ingin tahu mereka tinggi, sehingga pendidikan literasi digital sangat efektif diberikan pada usia ini.
Penelitian tambahan dari Stanford History Education Group dan laporan UNESCO tentang Media and Information Literacy menunjukkan bahwa latihan analisis sumber dan simulasi misinformasi meningkatkan kemampuan berpikir kritis remaja secara signifikan.
Penelitian tersebut menawarkan panduan nyata:
Pendidikan yang sesuai usia: Remaja butuh pendekatan yang menghargai otonomi mereka. Jelaskan cara kerja algoritma, sumber kredibel, dan manfaat skeptisisme sehat.
Berikan ruang suara bagi remaja: Program duta muda, diskusi kelas, dan proyek berbasis kelompok membuat keakuratan menjadi norma sosial.
Ajari manajemen perhatian: Tidak semua misinformasi perlu dibantah. Remaja bisa belajar mute, unfollow, atau mengatur batas layar.
Ungkap mekanisme manipulasi: Tunjukkan bagaimana emosi, klaim otoritas palsu, atau kredibilitas semu bekerja. Gunakan contoh dari platform yang mereka pakai sendiri.
Bangun kepercayaan pada jurnalisme: Ketahanan bukan hanya soal meragukan, tetapi mengenali sumber terpercaya.
Libatkan orang tua aktif: Percakapan terbuka, tanpa menghakimi, memperkuat ketahanan digital. Orang tua pun perlu melek digital.
Ko-kreasi dengan remaja: Libatkan mereka merancang modul atau kampanye literasi. Ketika didengar, mereka lebih punya rasa kepemilikan.
Melindungi remaja dari misinformasi bukan hanya soal membetulkan kesalahan faktual. Ini membangun empati, rasa ingin tahu, dan tanggung jawab digital.
Seperti kata Ili Ma, remaja bukan penerima pasif informasi, mereka aktor penting dalam menciptakan ekosistem digital yang lebih dapat dipercaya.
Disadur dari Phys.org.

Posting Komentar