AI yang Pintar Berpikir, Kita yang Makin Malas

AI yang kini lebih jago merangkai pikiran daripada manusia perlahan membuat otot nalar kita kendor, kata profesor media Petter Bae Brandtzæg.


AI yang kini lebih jago merangkai pikiran daripada manusia perlahan membuat otot nalar kita kendor, kata profesor media Petter Bae Brandtzæg.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • AI membuat manusia ketagihan kenyamanan dan lupa cara berpikir kritis.
  • Konsep AI-individualisme dan model power menunjukkan manusia makin bergantung pada AI dibanding komunitas sosial.
  • Banyak orang lebih percaya chatbot untuk curhat daripada profesional sungguhan.


TIGA tahun lalu, ChatGPT hanyalah nama yang terdengar seperti startup kopi kekinian. Kini 800 juta orang menggunakannya, lebih banyak dari jumlah orang yang rutin membaca buku. 


Kecepatan adopsinya memecahkan rekor, dan menurut Brandtzæg dari University of Oslo, kita sedang menyaksikan sejarah, bukan revolusi kecerdasan, tapi revolusi kemalasan berpikir manusia.


AI kini menempel di segala sudut kehidupan, mulai media sosial, Word, email, berita, pencarian, bahkan tempat-tempat yang sebelumnya merupakan “wilayah berbahaya” bagi manusia malas. 


“Kita semua jadi partner AI, suka atau tidak,” kata Brandtzæg. 


Penelitiannya dalam proyek “An AI-Powered Society”, bersama SINTEF, mencoba memahami bagaimana AI generatif diam-diam mengubah cara kita membaca, menulis, dan berpikir. 


Ia sendiri kaget bahwa Komisi Kebebasan Berekspresi Norwegia (2022) hampir tidak menyinggung hal itu sebelum ChatGPT datang.


Sejumlah studi menunjukkan AI perlahan menumpulkan kemampuan berpikir kritis manusia. 


Mengapa repot menganalisis sesuatu kalau AI bisa menjelaskannya dalam 2 paragraf yang “sangat meyakinkan,” meski kadang berisi karangan bebas? 


AI membentuk bahasa kita, cara kita memahami dunia, bahkan keputusan moral kita.


Dan sekarang, ke mana pun kita melirik, ada lapisan AI yang mengatur arus informasi. Cari sesuatu di Google? AI memberi rangkuman dulu sebelum kamu sempat bertanya apakah itu benar. 


Inilah yang disebut Brandtzæg sebagai model power, kekuasaan versi AI. Siapa yang punya model terbesar dan paling cerewet, dialah yang menang.


Penelitiannya memunculkan konsep baru: AI-individualisme. Dulu, teknologi membuat kita bebas membangun jaringan sosial lintas batas. Sekarang, AI memberi kebebasan baru: bebas tidak berinteraksi dengan manusia sama sekali.


Chatbot kini jadi teman, penasihat, tempat curhat, bahkan “pendamping emosional” yang tidak pernah capek, tidak drama, dan tidak minta balasan chat


Bagi sebagian orang, ini tentu lebih menguntungkan daripada manusia sungguhan.


Pendeknya, manusia makin mandiri—tapi makin jauh dari komunitas. Suatu bentuk evolusi sosial yang kalau dipikir-pikir, lebih mirip degradasi halus.


Dalam survei terhadap 166 siswa SMA, banyak yang memuji AI karena “jawabannya langsung ke inti” dan mereka “tidak perlu repot mencari.” Tentu saja, mencari informasi itu melelahkan. Lebih mudah menerima jawaban instan yang terlihat meyakinkan.


Lebih parah lagi, eksperimen lain menunjukkan lebih dari setengah responden lebih suka jawaban chatbot daripada profesional saat bertanya tentang kesehatan mental. 


Bayangkan psikolog tersertifikasi dikalahkan oleh algoritma yang tidak pernah tidur dan tidak punya gelar apa pun.


AI disebut “sosial,” padahal dialog dengannya hanyalah pseudo-dialog—percakapan palsu dengan mesin yang pandai meniru empati seperti aktor teater yang terlalu ambisius. Karena tampil meyakinkan, orang lalu percaya.


Contoh paling fatal, laporan palsu yang digunakan pemerintah kota Tromsø untuk rencana menutup delapan sekolah, semua berdasarkan referensi fiktif. AI tidak cuma halusinasi; AI optimis dengan kreativitas yang kelewat percaya diri.


Survei Nkom (2025) menunjukkan 91% orang takut AI menyebarkan informasi palsu. Ironisnya, sebagian besar dari kita tetap mengikuti sarannya.


Brandtzæg memperingatkan bahwa AI dibangun dengan data raksasa dari AS. Artinya, dunia memakai kacamata budaya Amerika, bahkan ketika sedang mencoba memahami persoalan setempat.


Disadur dari Tech Xplore.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama