Biar Anak Aman di Dunia Games, Biarkan Mereka Bermain dengan sang Kakak

Meski kontrol orang tua penting, interaksi dengan saudara dan temanlah yang sering membantu anak mengenali risiko seperti penipuan, perilaku antisosial, hingga roleplay dewasa yang tak pantas.


Meski kontrol orang tua penting, interaksi dengan saudara dan temanlah yang sering membantu anak mengenali risiko seperti penipuan, perilaku antisosial, hingga roleplay dewasa yang tak pantas.Foto Ilustrasi: Freepik 


Ringkasan 

  • Anak lebih sering berbagi pengalaman risiko online dengan kakak atau teman daripada orang tua.
  • Bahaya utama di game buatan pengguna (user-generated games/UGGs): penipuan, normalisasi kekerasan, dan roleplay dewasa.
  • Bermain bareng (co-play) bisa jadi cara efektif orang tua memahami risiko dan berdiskusi dengan anak.


RISET terbaru dari Penn State menemukan bahwa waktu main game online bersama kakak atau teman sebaya bisa jadi kunci menjaga anak tetap aman di platform populer seperti Roblox dan Minecraft


Game online seperti Roblox (100 juta pengguna aktif harian) dan Minecraft (25 juta pengguna) memang jadi dunia bermain sekaligus bereksperimen. Anak bisa membuat puzzle, simulasi, atau roleplay mereka sendiri lewat fitur UGGs (user-generated games)


Namun, kebebasan ini juga membuka celah bagi risiko serius, mulai dari penipuan yang mengincar uang saku digital, normalisasi kekerasan, hingga roleplay dewasa yang tidak pantas.


Menurut Zinan Zhang, peneliti dari Penn State, anak-anak cenderung enggan bercerita pada orang tua tentang pengalaman tidak aman di dunia maya. Sebaliknya, mereka lebih terbuka kepada kakak, sepupu, atau teman sebaya yang juga bermain game. 


“Mereka lebih nyaman berbagi cerita dengan yang dekat usia dan paham dunia game,” ujarnya dalam konferensi Interaction Design and Children 2025 di Reykjavik, Islandia.


Dalam studi tersebut, tim peneliti mewawancarai 26 anak usia 7–15 tahun bersama orang tua atau wali. Dari transkrip wawancara, terkumpul lebih dari 500 data poin mengenai risiko dan strategi aman. 


Tiga risiko utama yang muncul adalah:

  • Penipuan – baik antar-pemain maupun lewat game jebakan yang mencuri mata uang virtual.
  • Normalisasi perilaku antisosial – seperti kekerasan dan terorisme yang dianggap “biasa”.
  • Roleplay dewasa – termasuk konten seksual yang disamarkan dalam permainan.


Risiko ini mirip dengan masalah moderasi di media sosial. Bedanya, pada game buatan perusahaan besar seperti League of Legends, ada standar moderasi tertentu. 


Sementara UGGs di Roblox atau Minecraft bisa dibuat siapa saja, sehingga pengawasan jauh lebih sulit.


Untuk menghadapi hal ini, anak-anak mengembangkan cara bertahan sendiri. 


Misalnya, hanya menerima permintaan pertemanan dari kenalan nyata, berbagi pengalaman mencurigakan dengan saudara, atau memanfaatkan fitur keamanan bawaan seperti filter chat dan batasan usia. 


Menariknya, dukungan kakak atau teman sebaya terbukti lebih efektif dibanding hanya mengandalkan orang tua.


Contoh nyata datang dari seorang anak yang menceritakan game “murderer and sheriff” kepada peneliti, tapi buru-buru menambahkan bahwa ia tidak ingin ibunya tahu. 


Hal ini menunjukkan betapa sering anak-anak menyembunyikan pengalaman gaming mereka dari orang tua.


Karena itu, peneliti menyarankan agar orang tua mencoba co-play alias ikut bermain bersama anak. Dengan begitu, mereka bisa memahami aturan main, risiko, sekaligus menjadikan game sebagai ruang komunikasi keluarga. 


Seperti kata Yubo Kou, salah satu penulis riset, “Video game memberi kesempatan untuk menciptakan ruang bersama antara orang tua dan anak.”


Fenomena ini juga relevan dengan riset lain soal literasi digital anak. Misalnya, studi dari UNICEF (2021) menekankan pentingnya dukungan lingkungan sosial—tidak hanya keluarga inti, tetapi juga komunitas sebaya—untuk membangun keterampilan digital yang aman.


Jadi, menjaga anak tetap aman di dunia game online bukan hanya soal parental control, tapi juga soal kerja sama keluarga dan teman sebaya.


Disadur dari Tech Xplore


Post a Comment

أحدث أقدم