Sebelumnya mungkin tak terbayangkan pelecehan bisa terjadi areal virtual, nyatanya dampaknya pun mengerikan.
Para peneliri menyoroti ancaman pelecehan di dunia virtual. (Foto Ilustrasi: kroshka__nastya/Freepik)ngarahNyaho - Peneliti dari sejumlah universitas di Australia untuk meneliti apa yang disebut sebagai 'metacrime',- serangan, kejahatan, atau aktivitas tidak pantas yang terjadi dalam lingkungan realitas virtual.
Hasil studi Ausma Bernot dari Griffith University dan rekan-rekannya dari Monash University, Charles Sturt University, dan University of Technology Sydney diterbitkan dalam Asian Journal of Criminology.
'Metaverse' mengacu pada dunia virtual. Pengguna headset VR dapat memilih avatar untuk mewakili diri mereka saat berinteraksi dengan avatar pengguna lain atau bergerak melalui ruang digital 3D lainnya.
Metaverse dapat digunakan untuk apa saja, seperti rapat, di mana kita akan merasa seolah-olah berada di ruangan yang sama dengan avatar orang lain alih-alih hanya melihatnya di layar.
Kita juga dapat menjelajahi taman nasional di seluruh dunia tanpa meninggalkan ruang tamu rumah. Bermain game sejauh ini merupakan penggunaan yang paling populer dalam metaverse.
“Menggunakan teknologi ini sangat menyenangkan dan sangat mendalam,” katan Bernot seperti dikutuip dari Tech Xplore.
“Anda bisa benar-benar tersesat dalam lingkungan tersebut. Sayangnya, meskipun lingkungan baru tersebut sangat menarik, namun juga berpotensi memungkinkan terjadinya kejahatan baru.
“Meskipun headset yang memungkinkan kita mendapatkan pengalaman ini belum umum dimiliki, namun popularitasnya semakin meningkat dan kita telah melihat laporan pelecehan atau penyerangan seksual terhadap orang dewasa dan anak-anak.”
Dalam laporan bulan Desember 2023, Komisioner eSafety Australia memperkirakan sekitar 680.000 orang dewasa di Australia terlibat dalam metaverse.
Hal ini menyusul survei yang dilakukan pada bulan November dan Desember 2022 oleh para peneliti dari Pusat Penanggulangan Kebencian Digital di Inggris.
Mereka melakukan rekaman interaksi pengguna selama 11 jam 30 menit pada headset Oculus Meta di VRChat yang populer.
Para peneliti menemukan sebagian besar pengguna telah dihadapkan dengan setidaknya satu pengalaman negatif di lingkungan virtual, di antaranya dipanggil dengan nama yang menyinggung.
Kemudian menerima pesan atau kontak berulang kali yang tidak diinginkan, diprovokasi untuk menanggapi sesuatu atau memulai pertengkaran.
Ada juga yang ditantang tentang identitas budaya atau dikirimi konten yang tidak diinginkan.
Sebelas persen telah terpapar pada ruang virtual yang bernuansa seksual dan sembilan persen telah disentuh (secara virtual) dengan cara yang tidak mereka sukai.
Dari responden tersebut, 49 persen mengatakan pengalaman tersebut mempunyai dampak sedang hingga ekstrem terhadap kesejahteraan mental dan emosional mereka.
Dengan dua kelompok pengguna terbesar adalah anak di bawah umur dan laki-laki, Bernot mengatakan penting bagi orang tua untuk memantau aktivitas anak-anak mereka.
Orang tua juga bahkan disarankan untuk mempertimbangkan untuk membatasi akses mereka ke permainan multi-pemain. “Anak di bawah umur lebih rentan terhadap perawatan dan pelecehan lainnya,” katanya.
You Zhou dari Universitas Monash mengatakan sudah ada banyak laporan perudapaksaan virtual, termasuk satu kasus di Inggris.
Polisi di Inggris meluncurkan kasus terhadap seorang gadis berusia 16 tahun yang avatarnya diserang, menyebabkan trauma psikologis dan emosional serupa dengan serangan di dunia fisik.
“Sebelum munculnya metaverse, kami tidak dapat membayangkan bagaimana rudapaksa bisa terjadi secara virtual,” kata Zhou.
“Ketika tenggelam dalam dunia realitas virtual ini, dan khususnya ketika menggunakan headset VR berkualitas lebih tinggi, pengguna tidak akan berhenti memikirkan apakah pengalaman tersebut adalah realitas atau virtualitas.
“Meskipun tidak ada kontak fisik, para korban—kebanyakan perempuan muda—dengan tegas mengklaim bahwa perasaan menjadi korban itu nyata.
"Tanpa tanda-tanda fisik pada tubuh, dan kecuali interaksi tersebut dicatat, hampir tidak mungkin untuk menunjukkan bukti dari pengalaman-pengalaman ini. "
Penggunaan metaverse diperkirakan akan tumbuh secara eksponensial di tahun-tahun mendatang.
Temuan tim peneliti menyoroti perlunya perusahaan metaverse untuk menerapkan kerangka peraturan yang jelas untuk lingkungan virtual mereka agar aman untuk dihuni semua orang. |
Sumber: Tech Xplore
إرسال تعليق