Pertambangan Ternyata Bisa Bikin Tekanan Darah Tinggi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi, menurut peneliti dari Jepang, berhubungan dengan pencemaran lingkungan.


Peneliti temukan hubungan antara hipertensi dan telurium, kontaminan yang ditemukan dalam berbagai makanan nabati. (Foto Ilustrasi: Seiya Maeda/Unsplash)
Peneliti temukan hubungan antara hipertensi dan telurium, kontaminan yang ditemukan dalam berbagai makanan nabati. (Foto Ilustrasi: Seiya Maeda/Unsplash)


ngarahNyaho - Risiko hipertensi kian meningkat seiring dengan tingginya kadar telurium, unsur kimia sebagai kontaminan yang berpindah dari aktivitas pertambangan dan manufaktur ke makanan.


Pengawasan ketat terhadap kadar telurium dalam makanan dapat membantu menurunkan tekanan darah tinggi pada masyarakat secara umum.


Demikian kesimpulan dari hasil studi yang meneliti hubungan paparan telurium dengan hipertensi. Makalah penelitian dipublikasikan di jurnal Environment International.


Penelitian ini dipimpin oleh Universitas Nagoya di Jepang. 


Menurut Takumi Kagawa, salah satu peneliti, paparan telurium dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah, yang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. 


“Hasilnya menunjukkan bahwa pola makan merupakan kontributor paling signifikan terhadap peningkatan kadar telurium urine," kata Kagawa seperti dikutip dari EurekAlert. 


Kondisi itu, lanjut dia, dibandingkan dengan faktor gaya hidup lainnya, seperti merokok dan status pekerjaan, serta faktor fisiologis, seperti usia dan jenis kelamin. 


"Asupan makanan, yang merupakan aspek penting dari gaya hidup kita, memainkan peran penting dalam meningkatkan konsentrasi telurium dalam urine,” Kagawa menjelaskan. 


Di Jepang, sereal dan kacang-kacangan, yang diwakili oleh nasi dan natto (kedelai yang difermentasi), merupakan pilihan makanan yang populer. 


Makanan tersebut kaya akan nutrisi penting, seperti karbohidrat berkualitas tinggi, vitamin, dan mineral, yang menunjang kesehatan seseorang.


Namun, telurium, suatu metaloid langka, juga bisa ditemukan dalam makanan ini. Aktivitas pertambangan dan manufaktur melepaskan debu, abu, dan terak yang menyebabkan keberadaan telurium di dalam tanah. 


Dalam kasus tertentu, dapat berpindah dari tanah ke tanaman pangan, seperti sereal, wortel, dan bawang putih. Akibatnya, orang terpapar telurium melalui makanan.


Penelitian yang dilakukan Profesor Masashi Kato, Takumi Kagawa, dan rekannya melibatkan 2.592 orang dewasa Jepang. 


Diungkapkan bahwa kadar telurium yang lebih tinggi dalam urine dikaitkan dengan tekanan darah tinggi dan lebih besarnya kejadian hipertensi. Hasilnya sama pada tikus dan manusia.


"Kami memberikan telurium pada tikus dalam jumlah yang setara dengan apa yang mungkin ditemui manusia setiap hari dan mengamati peningkatan tekanan darah,” jelas Tomoko Misawa. 


“Saat kami menghentikan paparan, tekanan darah dan kadar telurium dalam urin mereka menurun," lanjut Misawa yang merupakan penulis utama pada penelitian ini. 


"Hasil ini memberikan hubungan langsung antara paparan telurium dan peningkatan tekanan darah, membenarkan temuan pada manusia,” simpulnya.


Profesor Kato dan timnya juga mempelajari makanan yang meningkatkan kadar telurium dalam urine. 


Mereka menemukan, konsumsi sereal dan kacang-kacangan menyebabkan tingginya kadar telurium, namun pengujian lebih lanjut tidak menunjukkan hubungan langsung dengan tingkat tekanan darah tinggi.


“Kami menemukan bahwa meskipun kadar telurium dalam urine meningkat, asupan sereal/kacang-kacangan tidak secara langsung meningkatkan risiko hipertensi,” kata Kagawa. 


“Sereal/kacang-kacangan mungkin mengandung banyak nutrisi beragam yang dapat mengurangi risiko hipertensi meskipun kandungan teluriumnya tinggi." 


Hanya saja, ujar Kagawa, mengingat peningkatan paparan telurium merupakan faktor risiko laten hipertensi dan makanan berkontribusi terhadap hubungan ini.


Oleh sebab itu, pemantauan kadar telurium secara hati-hati dan terus menerus dalam setiap makanan mungkin menjadi sangat penting, urai Kagawa.


“Tingkat telurium dalam urine dalam penelitian ini sebanding dengan tingkat populasi umum di negara lain,” kata Profesor Kato. 


“Hasil kami menunjukkan peningkatan potensi risiko hipertensi akibat paparan telurium mungkin berlaku untuk populasi umum di seluruh dunia.” |


Sumber: EurekAlert


Post a Comment

أحدث أقدم