Parasit Kotoran Kucing Berpotensi Sembuhkan Alzheimer dan Parkinson

Toxoplasma gondii yang direkayasa berhasil mengirimkan protein terapeutik ke sel-sel otak, menandai terobosan signifikan dalam mengatasi penghalang darah-otak.


Peneliti kembangkan obat dari parasit yang biasa ditemukan di kotoran kucing. (Foto Ilustrasi: Tranmautritam/Pexels)
Peneliti kembangkan obat dari parasit yang biasa ditemukan di kotoran kucing. (Foto Ilustrasi: Tranmautritam/Pexels)


ngarahNyaho - Sebuah penelitian mengungkapkan, parasit umum yang ditemukan di kotoran kucing dapat menjadi terobosan dalam pengobatan gangguan neurologis seperti Alzheimer dan Parkinson.


Pendekatan inovatif ini, yang melibatkan strain Toxoplasma gondii yang direkayasa, menjanjikan metode baru untuk mengirimkan protein terapeutik langsung ke otak.


Meski masih dalam tahap awal, penelitian ini menawarkan pandangan sekilas yang penuh harapan untuk mengatasi salah satu hambatan paling menantang dalam pengobatan neurologis.


Rekayasa parasit 


Tantangan dalam memberikan pengobatan yang ditargetkan melintasi sawar darah-otak dan ke neuron tertentu telah lama menjadi kendala dalam perawatan kesehatan neurologis.


Toxoplasma gondii, parasit yang sering dikaitkan dengan kotoran kucing, telah menunjukkan kemampuan luar biasa untuk melewati penghalang ini. 


Parasit ini secara alami berpindah dari sistem pencernaan ke otak, tempat ia mengeluarkan protein ke dalam neuron.


Tim peneliti yang dipimpin oleh Universitas Glasgow, bekerja sama dengan Universitas Tel Aviv, memanfaatkan sifat ini dengan merekayasa strain Toxoplasma gondii untuk menghasilkan protein terapeutik. 


Teknik baru ini mengatasi kesulitan yang sudah berlangsung lama dalam menargetkan sel-sel otak yang terkena penyakit, yang sangat penting untuk mengobati penyakit seperti Alzheimer, Parkinson, dan Sindrom Rett.


Tim tersebut berfokus pada penyediaan protein MeCP2, yang dikenal karena potensinya sebagai target terapi untuk Sindrom Rett—kelainan neurologis parah yang disebabkan oleh mutasi pada gen MECP2. 


Parasit yang direkayasa berhasil memproduksi dan mengirimkan protein MeCP2 ke lokasi seluler yang benar pada organoid otak dan model tikus.


Parasit tersebut berhasil menghasilkan protein, dan kemudian mengirimkan protein tersebut ke lokasi sel target di organoid otak dan pada model tikus, kata tim peneliti. 


Hal ini menandai tonggak penting dalam menunjukkan potensi parasit sebagai sarana pengiriman perawatan neurologis.


Penelitian lebih lanjut


Meskipun pendekatan ini revolusioner, penerapan praktisnya masih memerlukan beberapa tahun lagi. 


Para peneliti berencana untuk melakukan percobaan lebih lanjut untuk memastikan parasit tersebut direkayasa untuk mati setelah mengirimkan muatannya, sehingga meminimalkan potensi bahaya. 


Langkah ini penting untuk menghindari kerusakan sel tambahan dan memastikan keamanan pengobatan.


Studi ini menghadirkan konsep perintis dalam ilmu kedokteran, yang menunjukkan bahwa organisme yang berevolusi untuk memanipulasi otak dapat digunakan kembali untuk penggunaan terapeutik.


Dalam siaran persnya, seperti dikutip ngarahNyaho dari Interesting Engineering, Profesor Oded Rechavi dari Universitas Tel Aviv mengomentari sifat inovatif dari penelitian ini, dengan mengatakan: 


“Evolusi telah 'menemukan' organisme yang dapat memanipulasi otak kita. Saya pikir alih-alih menciptakan kembali roda, kita bisa belajar dari mereka dan gunakan kemampuan mereka.”


Profesor Lilach Sheiner, salah satu penulis utama studi dari Fakultas Infeksi dan Imunitas Universitas Glasgow, menyadari tantangan nuntuk pengembangan penelitian selanjutnya.


“Konsep ini bukannya tanpa tantangan, mengingat bahaya yang ditimbulkan oleh infeksi Toksoplasma," kata Sheiner. 


"Agar upaya kami dapat mewujudkan pengobatan, diperlukan penelitian dan pengembangan yang cermat selama bertahun-tahun untuk meningkatkan efisiensi dan keamanan.”


Penelitian bertajuk Engineering a Brain Parasite for Intraseluler Delivery of Proteins to the Central Nervous System ini telah dipublikasikan di Nature Microbiology. |


Sumber: Interesting Engineering


Post a Comment

أحدث أقدم