Ilmuwan menemukan bagian batuan panjang pertama yang berasal dari mantel bumi, lapisan di bawah kerak bumi dan komponen terbesar planet ini.
Batuan dari mantel Bumi memiliki kemiripan yang lebih dekat dengan batuan yang ada di Bumi awal dibandingkan dengan batuan umum yang membentuk benua kita saat ini. (Foto: Profesor Johan Lissenberg/Cardiff University)
ngarahNyaho - Para peneliti menganggap temuan batuan dari mantel Bumi tersebut merupakan pencapaian terbesar dalam sejarah ilmu kebumian. Harapan untuk ungkap sejarah planet kita.
Batuan itu berada di hampir 1.268 meter di bawah kaki kita. Itu adalah penetrasi terdalam sejauh ini, mengalahkan lubang terdalam sebelumnya (200 meter) sebanyak lebih dari enam kali lipat.
Peneliti berpendapat bahwa batuan yang ditemukan dari mantel bumi memiliki kemiripan yang lebih dekat dengan batuan yang ada di bumi awal dibandingkan dengan batuan umum yang membentuk benua saat ini.
Batuan tersebut akan membantu menjelaskan peran mantel dalam asal usul kehidupan di Bumi, dan aktivitas vulkanik yang dihasilkan ketika mencair.
Menurut tim yang terdiri dari peneliti dari Universitas Cardiff, sampel tersebut juga akan membantu menjelaskan bagaimana mantel mendorong siklus global unsur-unsur penting seperti karbon dan hidrogen.
Batuan tersebut ditemukan dari jendela tektonik, bagian dasar laut tempat batuan dari mantel tersingkap di sepanjang Punggung Bukit Atlantik Tengah.
Para penelitu kala itu sedang melakukan ekspedisi bertajuk Expedition 399 “Building Blocks of Life, Atlantis Massif” dari kapal pengeboran laut Resolusi JOIDES pada Musim Semi 2023 .
“Ketika kami menemukan bebatuan tersebut tahun lalu, ini merupakan pencapaian besar dalam sejarah ilmu kebumian," kata penulis utama Profesor Johan Lissenberg dari Universitas Cardiff.
"Namun, lebih dari itu, nilainya terletak pada apa yang kami temukan. inti batuan mantel dapat memberi tahu kita tentang susunan dan evolusi planet kita," dia menambahkan.
“Studi kami dimulai dengan melihat komposisi mantel dengan mendokumentasikan mineralogi batuan yang ditemukan, serta susunan kimianya.”
Peneliti menginventarisasi batuan mantel yang ditemukan untuk memahami komposisi, struktur, dan konteksnya. (Foto: Profesor Johan Lissenberg/Cardiff University)
Upaya penelitian ini dimulai pada awal tahun 1960an dan dipimpin oleh International Ocean Discovery Program.
Itu adalah sebuah kelompok penelitian kelautan internasional yang beranggotakan lebih dari 20 negara yang mengambil inti – sampel silinder sedimen dan batuan – dari dasar laut untuk mempelajari sejarah bumi.
Sejak itu, tim ekspedisi telah menginventarisasi batuan mantel yang ditemukan.
Dipresentasikan dalam jurnal Science, temuan ini mengungkap sejarah pencairan batuan yang ditemukan lebih luas dari yang diperkirakan. “Hasil kami berbeda dari yang kami harapkan," kata Lissenberg.
“Mineral piroksen di dalam batuan jauh lebih sedikit, dan batuan tersebut memiliki konsentrasi magnesium yang sangat tinggi, yang keduanya dihasilkan dari jumlah pencairan yang jauh lebih tinggi daripada yang kita perkirakan.”
Pencairan ini terjadi saat mantel naik dari bagian bumi yang lebih dalam menuju permukaan.
Analisis lebih lanjut dapat mempunyai implikasi besar untuk memahami bagaimana magma terbentuk dan mengarah pada vulkanisme, saran para peneliti.
Studi ini juga memberikan hasil awal tentang bagaimana mineral melimpah di batuan mantel, yang disebut olivin, bereaksi dengan air laut.
Kondisi itu mengarah pada serangkaian reaksi kimia yang menghasilkan hidrogen dan molekul lain yang dapat menjadi bahan bakar kehidupan.
Para ilmuwan percaya ini mungkin salah satu proses yang mendasari asal usul kehidupan di Bumi.
“Batuan-batuan yang ada di awal Bumi memiliki kemiripan yang lebih dekat dengan yang kami temukan selama ekspedisi ini dibandingkan batuan umum yang membentuk benua kita saat ini," kata Susan Q Lang.
Lang adalah ilmuwan dari bidang Geologi dan Geofisika di Woods Hole Oceanographic Institution. Ia juga salah seorang kepala ilmuwan dalam ekspedisi ini.
Menurut dia, menganalisisnya memberi kita pandangan kritis terhadap lingkungan kimia dan fisik yang telah ada pada awal sejarah Bumi.
"Dan dapat menyediakan sumber bahan bakar yang konsisten serta kondisi yang menguntungkan dalam jangka waktu geologis yang panjang untuk menampung bentuk-bentuk kehidupan paling awal.” |
Sumber: Cardiff University


إرسال تعليق