"Berhentilah menganggap kita melakukan hal-hal yang tidak ada," ujar seorang ahli saraf yang bekerja di Universitas Stanford, Robert Sapolsky.
Seorang ahli dari Universitas Standford menyatakan manusia tak memiliki kehendak bebas. (Gambar ilustrasi dibuat oleh AI/Designer)
ngarahNyaho - Konsep kehendak bebas atau free will begitu mengakar, terutama, dalam kehidupan 'dunia barat'. Namun Robert Sapolsky dalam bukunya menyatakan manusia tak memiliki kehendak bebas.
"Kita tidak memiliki kehendak bebas. Berhentilah menganggap kita melakukan hal-hal yang tidak ada," demikian Sapolsky tegaskan seperti dikutip ngarahNyaho dari Earth.com.
Buku terbaru Sapolsky berjudul "Determined: A Science of Life Without Free Will." Di dalamnya, ia menyelami interaksi rumit antara biologi, lingkungan, dan psikologi.
Dia pun menantang pemahaman konvensional tentang otonomi dan mendorong pembaca untuk mempertimbangkan kembali hakikat agensi manusia.
Menurut Earth, buku ini mengajak pembaca untuk mempertanyakan dasar-dasar bagaimana kita memandang diri kita sendiri dan pilihan-pilihan kita di dunia yang semakin kompleks.
Temuan Sapolsky menunjukkan bahwa semua yang kita lakukan, baik itu keputusan yang paling sepele atau pilihan yang memiliki konsekuensi transformatif, bukanlah masalah pilihan pribadi.
Sebaliknya, tindakan kita dapat dibentuk dan dipengaruhi oleh proses neurologis yang kompleks dan faktor lingkungan yang beroperasi di bawah kesadaran kita.
Hal ini menjadikan kita hanya pengamat dalam kehidupan kita sendiri.
Genetika membatasi kehendak bebas
Tak sedikit yang menganggap kehendak bebas sebagai realitas yang tidak dapat disangkal. Mereka percaya bahwa individu memiliki kekuatan untuk membuat pilihan yang membentuk takdir mereka.
Perspektif ini memperjuangkan gagasan bahwa agensi pribadi dan pengambilan keputusan merupakan hal mendasar bagi pengalaman manusia.
Sebaliknya, sudut pandang yang diutarakan oleh Sapolsky menunjukkan bahwa tindakan kita bukan semata-mata merupakan hasil dari kemauan kita sendiri.
Hal tersebut melainkan hasil dari tarian rumit genetika, kondisi lingkungan, dan neurokimia.
Perspektif ini menyatakan bahwa faktor-faktor seperti susunan genetik kita, keadaan asuhan kita, dan bahkan reaksi kimia yang terjadi di dalam otak kita secara signifikan memengaruhi keputusan dan perilaku kita.
Akibatnya, kegagalan dan keberhasilan kita tampak kurang seperti pencapaian atau kekurangan yang kita lakukan sendiri dan lebih seperti produk sampingan dari elemen-elemen eksternal ini.
Hal itu menantang gagasan tentang tanggung jawab pribadi dan mendorong refleksi yang lebih dalam tentang kompleksitas perilaku manusia.
Bukunya, membahas bagaimana faktor genetik, lingkungan, dan sosial saling terkait, berkolaborasi untuk mengarahkan tindakan kita dengan cara yang bahkan mungkin tidak kita sadari secara sadar.
Sapolsky mengajak para pembaca untuk merenungkan kompleksitas perilaku manusia dan berbagai pengaruh yang membimbing kita setiap hari.
Pandangan Sapolky ini mengguncang prinsip-prinsip dasar moralitas dan keadilan bagi orang-orang di 'dunia barat'. Itu mempertanyakan fondasi yang mendasari sistem hukum dan etika mereka.
Jika pilihan dan tindakan indivisu tidak benar-benar berada dalam kendalinya, bagaimana masyarakat dapat secara adil meminta pertanggungjawaban individu atas pilihan dan tindakan tersebut?
Dilema ini menimbulkan pertanyaan mendalam tentang tanggung jawab dan akuntabilitas.
Filsuf Gregg Caruso, anggota fakultas di SUNY Corning, sependapat dengan Sapolsky.
Caruso menyatakan bahwa mengakui kurangnya kendali atas tindakan indivisu pada akhirnya dapat menghasilkan sistem peradilan yang lebih adil dan setara.
"Siapa diri kita dan apa yang kita lakukan pada akhirnya merupakan hasil dari faktor-faktor yang berada di luar kendali kita," kata Caruso seperti dikutip dari Earth.
"Dan karena itu, kita tidak pernah bertanggung jawab secara moral atas tindakan kita dalam artian yang membuat kita benar-benar layak menerima pujian dan celaan, hukuman dan penghargaan."
Visinya tentang keadilan menyoroti perlunya mencegah bahaya di masa mendatang alih-alih hanya menyalahkan atau memberikan hukuman.
Dengan berfokus pada rehabilitasi dan mengeksplorasi akar penyebab perilaku, Caruso mendukung sistem yang memprioritaskan keselamatan masyarakat dan pertumbuhan pribadi daripada balas dendam.
Di sisi lain, Sapolsky menekankan pentingnya memahami batasan kendali pribadi kita sekaligus mengakui dampak kuat faktor eksternal terhadap kehidupan kita.
"Ini bukan tentang membiarkan orang lain lepas dari tanggung jawab; ini tentang mengakui kemanusiaan bersama yang menghubungkan kita semua," simpulnya.
Dia menggarisbawahi perlunya empati, terutama selama masa-masa sulit. |
Sumber: Earth

إرسال تعليق