Sebagian orang percaya kita harus jadi pemangsa atau buruan untuk bisa bertahan hidup. Ilmuwan menemukan 'sakelar' untuk dua 'mode' itu di dalam otak.
(Gambar Ilustrasi: vecstock/Freepik)
ngarahNyaho - Meskipun Homo sapiens atau manusia dapat memangsa mangsa berukuran besar, spesies kita juga rentan terhadap predator lainnya.
Kini, penelitian baru mengungkap bagaimana otak manusia beralih antara dua cara bertahan hidup, yakni menjadi predator atau mangsa. Jawabannya terletak pada hipotalamus.
Wilayah otak purba ini mendahului evolusi vertebrata dan dengan demikian muncul pada semua hewan vertebrata; wilayah otak serupa juga ada pada invertebrata.
Hipotalamus dikenal melakukan tugas-tugas kelangsungan hidup yang sangat mendasar, seperti mengatur suhu tubuh, memicu pelepasan hormon, mengatur ritme sirkadian, dan mengirimkan isyarat lapar.
Studi baru yang diterbitkan Kamis, 27 Juni 2024 di jurnal PLOS Biology menemukan bahwa hipotalamus juga mengatur perilaku bertahan hidup dengan beralih antara berburu dan diburu.
Hipotalamus sebelumnya telah terbukti melakukan tugas ini pada mamalia lain, seperti tikus.
Namun penelitian baru ini menandai pertama kalinya wilayah tersebut terbukti melakukan hal yang sama pada manusia, tulis penulis penelitian dalam makalah mereka.
Hipotalamus berukuran kecil, seukuran kacang polong, dan terdiri dari inti yang lebih kecil lagi yang terlalu kecil untuk teknik pemindaian otak, seperti pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI), hingga gambar.
Para peneliti menggunakan beberapa metode untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya melibatkan penentuan denyut cairan serebrospinal dan kemudian mengoreksi gerakan ini dalam data fMRI mereka.
Cairan serebrospinal adalah cairan bening yang mengalir di sekitar dan ke dalam celah di otak dan sumsum tulang belakang.
Para peneliti juga menggunakan jenis kecerdasan buatan yang disebut pembelajaran mendalam untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan pola aktivitas yang mungkin terlalu halus untuk ditangkap.
Hasilnya menunjukkan bahwa hipotalamus bertindak sebagai pusat kendali, memfasilitasi peralihan antara perilaku predator dan mangsa.
Hal ini dilakukan dengan berkomunikasi dengan serangkaian wilayah otak lainnya, termasuk amigdala dan prefrontal ventromedial.
Amigdala adalah wilayah yang dikenal untuk memproses rasa takut, sementara prefrontal ventromedial dikenal terlibat dalam tugas pengambilan keputusan, termasuk menilai risiko dalam situasi tertentu.
Peralihan ini melibatkan penekanan perilaku dari tugas sebelumnya. Hipotalamus terus mengoordinasikan perilaku baru setelah peralihan ini terjadi, dan tetap aktif sepanjang proses tersebut.
Seperti dikutip dari Live Science, peneliti menyatakan, temuan mereka itu memperluas pemahaman kita tentang hipotalamus manusia.
"Dari wilayah yang mengatur keadaan internal tubuh kita menjadi wilayah yang mengubah perilaku bertahan hidup dan mengoordinasikan perilaku strategis untuk bertahan hidup,” sebut peneliti. | Sumber: Live Science

إرسال تعليق