Ketahui Tanda-tanda Kematian Dini Mengintai dari Retina Mata

Melalui bantuan pembelajaran mesin, dokter kini bisa cepat mengenali tanda-tanda kematian dini yang terpancar dari mata. 

PEMINDAIAN bola mata di masa depan bisa jadi cara identifikasi penyakit. (Foto Ilustrasi: wirestock/Freepik)
PEMINDAIAN bola mata di masa depan bisa jadi cara identifikasi penyakit. (Foto Ilustrasi: wirestock/Freepik)  

ngarahNyaho! - Mata tak sekadar 'jendela dunia, organ penglihatan kita itu kini bisa jadi alat untuk mengetahui tanda-tanda kematian dini. 

Pemindaian bola mata manusia yang cepat dan tanpa rasa sakit suatu hari nanti dapat membantu dokter mengidentifikasi 'penuaan cepat' yang memiliki risiko lebih besar terhadap kematian dini.


Bertambahnya usia jelas berdampak pada tubuh setiap orang, namun hanya karena dua orang memiliki jumlah tahun yang sama tidak berarti penurunan fisik mereka terjadi pada tingkat yang sama.

Menatap mata seseorang bisa menjadi cara yang jauh lebih baik untuk mengukur usia biologis mereka yang sebenarnya. Ini bisa memberikan gambaran sekilas tentang kesehatan pasien di masa depan.

Pada tahun 2022, para peneliti mengungkapkan model pembelajaran mesin yang telah diajarkan untuk memprediksi tahun hidup seseorang hanya dengan melihat retinanya, yaitu jaringan di bagian belakang mata.

Algoritma ini sangat akurat sehingga dapat memprediksi usia hampir 47.000 orang dewasa paruh baya dan lanjut usia di Inggris dalam kurun waktu 3,5 tahun.

Misalnya, jika algoritma memperkirakan retina seseorang satu tahun lebih tua dari usia sebenarnya, risiko kematian akibat sebab apa pun dalam 11 tahun ke depan akan meningkat sebesar 2 persen. 

Pada saat yang sama, risiko kematian mereka yang disebabkan oleh hal lain selain penyakit kardiovaskular atau kanker meningkat sebesar 3 persen.

Temuan ini murni observasional, yang berarti kita masih belum mengetahui apa yang mendorong hubungan ini pada tingkat biologis.

Namun demikian, hasil ini mendukung semakin banyak bukti bahwa retina sangat sensitif terhadap kerusakan akibat penuaan. 

Karena jaringan yang terlihat ini menampung pembuluh darah dan saraf, jaringan ini dapat memberi kita informasi penting tentang kesehatan pembuluh darah dan otak seseorang.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sel-sel di bagian belakang mata manusia dapat membantu kita memprediksi timbulnya penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal, dan tanda-tanda penuaan lainnya. 

Namun penelitian ini merupakan penelitian pertama yang menyajikan 'kesenjangan usia retina' sebagai prediktor kuat terhadap kematian secara keseluruhan.

Para penulis studi ini mengatakan retina adalah 'jendela' penyakit neurologis.

Dasarnya, hubungan yang signifikan antara kesenjangan usia retina dan kematian non-kardiovaskular/non-kanker, bersama dengan semakin banyaknya bukti hubungan antara mata dan otak.

Karena hanya 20 orang dalam penelitian ini yang meninggal karena demensia, penulis tidak dapat menghubungkan kelainan otak spesifik ini dengan kesehatan retina.

Mereka juga menunjukkan bahwa kematian terkait kardiovaskular telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, karena obat-obatan terus mencegah kejadian yang dulunya bisa berakibat fatal.

Artinya, kesehatan retina masih dapat menjadi faktor penting dalam kesehatan kardiovaskular, meskipun faktanya hal tersebut tidak terkait dengan kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Penelitian sebelumnya, misalnya, menunjukkan foto retina dapat membantu memprediksi faktor risiko kardiovaskular.

“Penelitian ini mendukung hipotesis bahwa retina memainkan peran penting dalam proses penuaan dan sensitif terhadap kerusakan kumulatif akibat penuaan yang meningkatkan risiko kematian,” simpul peneliti.

Prediktor usia biologis lain yang ada, seperti neuroimaging, jam metilasi DNA, dan jam penuaan transkriptome, tidak seakurat kesenjangan usia retina. Metode-metode ini juga mahal, memakan waktu, dan invasif.

Sementara itu, retina dapat dipindai dengan mudah dalam waktu kurang dari 5 menit. 

Jika kita dapat mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana lapisan jaringan ini terhubung ke seluruh tubuh, para dokter dapat memiliki alat baru yang sangat baik.

Studi ini dipublikasikan di British Journal of Ophthalmology. | Sumber: Science Alert 

Post a Comment

أحدث أقدم