Mikroba laut dalam dari Bumi ternyata mampu tumbuh dalam kondisi yang menyerupai lautan asin di bawah lapisan es Enceladus.
Ringkasan
- Mikroba penghasil metana tetap hidup dalam larutan yang dibuat menyerupai lingkungan laut Enceladus.
- Kondisinya sangat basa, dengan pH mencapai 11, tetapi mikroba masih mampu menyesuaikan metabolismenya.
- Hasil ini memperkuat dugaan bahwa Enceladus berpotensi layak huni, meski belum membuktikan adanya kehidupan di sana.
ENCELADUS selama bertahun-tahun menjadi salah satu kandidat paling menarik dalam pencarian kehidupan di luar Bumi.
Bulan Saturnus ini memang punya fitur yang membuat para ilmuwan sulit mengabaikannya, semburan air dan butiran es yang terus memancar dari wilayah kutub selatan.
Pengamatan wahana Cassini dan teleskop James Webb menunjukkan bahwa di bawah kerak es Enceladus terdapat lautan air asin yang sangat besar.
Dasarnya diduga bersentuhan dengan batuan dan memiliki ventilasi hidrotermal, mirip mata air panas di dasar laut Bumi.
Kini, William Orsi dari Ludwig-Maximilian University Munich dan timnya mencoba membuat “Enceladus mini” di laboratorium.
Mereka mencampurkan air, garam, karbonat, serta bubuk batuan untuk meniru reaksi antara air dan dasar laut berbatu bulan tersebut.
Hasilnya menghasilkan hidrogen, salah satu sumber energi yang diduga tersedia di lautan Enceladus.
Para peneliti kemudian memasukkan mikroba metanogen, organisme yang memperoleh energi dengan mengubah hidrogen dan karbon dioksida menjadi metana.
Mikroba tersebut berasal dari sekitar ventilasi hidrotermal di Okinawa Trough, kawasan laut dalam antara Jepang dan Taiwan. Hasilnya, mikroba tidak cuma bertahan, tetapi tumbuh dalam lingkungan simulasi tersebut.
Padahal, pH larutannya mencapai 11, kondisi yang jauh lebih basa daripada batas yang sebelumnya diketahui dapat ditoleransi organisme tersebut.
Mikroba juga mengubah metabolismenya untuk menghadapi rendahnya kadar karbon dioksida.
Temuan ini menghapus satu lagi penghalang dalam kemungkinan kehidupan mikroba di Enceladus.
Namun, ada catatan penting: percobaannya berlangsung hanya beberapa hari. Belum diketahui apakah mikroba serupa dapat bertahan selama bertahun-tahun, apalagi jutaan tahun.
Jadi, jangan buru-buru membayangkan paus alien berenang di bawah es Saturnus.
Yang ditunjukkan penelitian ini jauh lebih sederhana sekaligus penting: lingkungan Enceladus tampaknya memiliki kondisi kimia yang secara teori dapat menopang kehidupan mikroba.
Penelitian lain dalam edisi yang sama juga menemukan bahwa proses pembekuan dan pecahnya butiran es dalam semburan Enceladus dapat memusatkan material tertentu.
Jika suatu hari ada mikroba asing di lautan itu, sebagian kecil butiran es yang terlontar ke angkasa mungkin justru mengandung konsentrasi tanda-tanda kehidupan yang lebih tinggi, membuatnya lebih mudah dideteksi.
Itulah sebabnya Enceladus menjadi target penting dalam astrobiologi.
Tantangannya sekarang bukan sekadar bertanya “apakah bulan ini layak huni?”, melainkan mencari cara untuk memeriksa langsung apakah sesuatu memang hidup di sana.
Misi masa depan yang diusulkan Badan Antariksa Eropa akan mengorbit Saturnus dan menurunkan wahana ke Enceladus untuk mencari tanda-tanda biologis dari material yang keluar bersama semburannya.
Jika jadwal sekitar 2042 terealisasi, perjalanan menuju Saturnus baru akan mencapai tujuannya pada 2050-an.
Disadur dari The Guardian - "Earth microbes survive simulated conditions of Saturn moon’s ocean" yang diakses pada September 2026.

Posting Komentar