Ilmuwan menciptakan baterai kertas yang aman ditelan untuk mentenagai perangkat medis dalam tubuh sebelum akhirnya hancur melebur secara alami.
Ringkasan
- Menggunakan elektroda magnesium dan molibdenum serta serat selulosa yang terinspirasi dari bungkus permen kertas beras.
- Berhasil menyalakan pemancar RFID dari dalam lambung dan memicu lonjakan hormon lapar (grelin) hingga 50 persen.
- Bekerja sekitar tiga hari di asam lambung dan terurai total dalam hitungan bulan tanpa meninggalkan sampah beracun.
DULU, menelan baterai adalah mimpi buruk bagi orang tua mana pun. Sekarang, para ilmuwan justru menyuruh kita "mengunyah" baterai demi memantau kesehatan dari dalam tubuh.
Tenang, baterai yang satu ini dijamin tidak akan membuat perut Anda meledak.
Dipublikasikan di jurnal Nature Chemical Engineering, tim peneliti yang dipimpin Giovanni Traverso, seorang insinyur mekanik MIT sekaligus dokter gastroenterologi, menciptakan baterai bioresorbable (dapat diserap tubuh).
Inovasi ini menjawab masalah sensor pencernaan yang selama ini mengandalkan baterai berkimia berbahaya atau pasokan daya nirkabel eksternal yang ribet.
Uniknya, material baterai ini diambil dari zat yang aman bagi tubuh: magnesium dan molibdenum sebagai elektroda, dua mineral yang memang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil.
Elektrolitnya menggunakan larutan garam cair yang terurai, sedangkan katodanya diikat serat selulosa. Desain berbasis kertas ini terinspirasi dari bungkus permen kertas beras yang bisa dimakan.
Agar tak keburu "lumat" dihantam asam lambung, baterai dibungkus lilin alami. Lapisan lilin ini bertugas mengontrol durasi pakai alat.
Baterai mampu bekerja normal di cairan asam selama tiga hari sebelum performanya menurun dan hancur total tanpa sisa dalam hitungan bulan.
Sejauh ini, teknologi baru diuji pada babi (karena sistem cernanya mirip manusia). Hasilnya impresif, baterai berhasil menyalakan tag RFID untuk mengirim data ke penerima sejauh 1,5 meter dari luar tubuh.
Selain itu, kapsul berdaya baterai ini memberi kejutan listrik halus selama 20 menit di lambung babi, yang memicu produksi hormon lapar (grelin) melonjak hingga 50 persen.
Pakar kimia komputasi King’s College London, Micaela Matta, menilai inovasi ini sebagai jalan keluar cerdas agar pasien tak perlu menjalani operasi invasif hanya demi memasang atau melepas alat medis.
Selain aman bagi tubuh manusia, baterai ini juga ramah lingkungan karena mudah terurai jika terbuang ke alam.
Jika uji klinis pada manusia nantinya terbukti aman, jangan kaget jika di masa depan menu "sarapan" kita mencakup sebutir baterai pemantau kesehatan.
Disadur dari Smithsonian Magazine - "Scientists Invent a Digestible, Paper-Based Battery That Can Power Swallowed or Implanted Medical Devices" yang diakses pada September 2026.

Posting Komentar