Memori Manusia Ditulis Lewat Kode Kimia Rahasia

Memori dan kesadaran mungkin tidak hanya bergantung pada sinyal antarsel saraf, tetapi juga pada kode kimia di sekitar neuron.


Memori dan kesadaran mungkin tidak hanya bergantung pada sinyal antarsel saraf, tetapi juga pada kode kimia di sekitar neuron.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Peneliti Gerard Marx dan Chaim Gilon mengusulkan mekanisme memori yang melibatkan neuron, astrosit, dan matriks ekstraseluler otak.
  • Ion logam serta neurotransmiter diduga membentuk semacam “kode kimia” yang menyimpan informasi sekaligus nuansa emosinya.
  • Gagasan ini masih berupa hipotesis dan belum dibuktikan melalui eksperimen yang secara langsung menguji mekanismenya.


PERNAH mendengar lagu lama lalu mendadak teringat kenangan masa lalu lengkap dengan rasa sesaknya?


Begitu intro-nya muncul, bukan cuma nadanya yang kembali. Tiba-tiba kita bisa teringat sebuah ruangan, seseorang, bahkan perasaan yang menyertainya. 


Komputer tercanggih memang bisa membuka berkas puluhan tahun lalu dalam sekejap, tetapi ia tetap dingin dan tak merasakan apa-apa.


Menurut ahli kimia Gerard Marx dan Chaim Gilon, perbedaan tersebut mungkin berkaitan dengan cara otak menyimpan informasi secara kimiawi. 


Mereka mengusulkan, penelitian tentang memori selama ini terlalu berfokus pada neuron dan hubungan antarneuron, sementara lingkungan tempat neuron berada juga kemungkinan memainkan peran penting.


Neuron tidak hidup sendirian. Sel-sel ini dikelilingi jaringan padat yang disebut matriks ekstraseluler saraf, sekaligus berinteraksi dengan sel berbentuk bintang bernama astrosit.


Astrosit dulu lebih sering dianggap sebagai semacam “petugas kebersihan dan pemeliharaan” otak. 


Namun penelitian beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa mereka turut memengaruhi komunikasi antarneuron, plastisitas sinaps, pembentukan dan penguatan memori. 


Bahkan, penelitian terbaru mulai membahas kemungkinan adanya astroengram, kelompok astrosit yang ikut menyimpan jejak memori. 


Marx dan Gilon melangkah lebih jauh. Mereka mengusulkan mekanisme tripartit yang melibatkan neuron, matriks ekstraseluler, serta berbagai ion logam jejak. 


Dalam model mereka, kombinasi unsur-unsur tersebut dapat membentuk unit informasi biologis yang berfungsi seperti “bit” pada komputer. 


Yang menarik, model ini tidak berhenti pada penyimpanan informasi.


Neurotransmiter, molekul yang membantu komunikasi sel saraf, diduga ikut memberi “label emosional” pada memori. 


Karena itu, kenangan tentang liburan, kehilangan, atau pengalaman menakutkan bukan sekadar kumpulan data. Ada sensasi dan emosi yang melekat di dalamnya.


Dalam gambaran ini, otak bukan sekadar komputer biologis dengan kabel yang lebih rumit. Informasi disimpan dalam lingkungan kimia yang dinamis. 


Dan tentu saja, kalau benar demikian, otak manusia ternyata lebih mirip laboratorium kimia yang sangat sibuk daripada komputer yang kebetulan suka overthinking.


Bagian terpentingnya, ini masih hipotesis.


Marx dan Gilon telah mengembangkan gagasan tersebut selama lebih dari satu dekade, tetapi mekanisme yang mereka usulkan belum mendapatkan pembuktian eksperimental langsung. 


Artinya, belum ada bukti bahwa memori manusia benar-benar ditulis dan dibaca melalui pola kimia seperti yang mereka gambarkan.


Yang sudah semakin kuat adalah bukti bahwa astrosit dan lingkungan di sekitar neuron memang berperan dalam pemrosesan informasi dan memori. 


Namun, apakah seluruh kesadaran dapat dijelaskan melalui “kode kimia” tersebut masih menjadi pertanyaan besar. 


Disadur dari Earth.com - Human consciousness: Memory may be written in a secret chemical code yang diakses pada September 2026.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama