Monyet capuchin berjanggut di Brasil berburu hewan kecil saat buah langka, memberikan petunjuk bagaimana nenek moyang manusia mulai makan daging.
Ringkasan
- Monyet capuchin yang biasanya vegetarian beralih memakan ular, tikus, iguana, dan kelelawar saat stok buah menipis di alam.
- Mereka memakan otak dan jeroan mangsa lebih dulu demi asupan gizi instan sebelum hasil buruan direbut kawanannya sendiri.
- Perilaku bertahan hidup kepepet ini diyakini mirip dengan fase awal nenek moyang manusia purba sebelum berevolusi menjadi pemburu hewan besar.
MONYET capuchin berjanggut (bearded capuchins) di wilayah timur laut Brasil dikenal dengan citra polos sebagai pemakan kacang palem dan buah-buahan.
Namun, sebuah studi di jurnal PLOS One mengungkap fakta yang cukup bikin merinding. Saat buah langka, primata ini berubah jadi predator oportunis.
Menu darurat mereka meliputi ular, iguana, posum, kelelawar, tikus, hingga bayi burung beserta telurnya. Sepertinya, komitmen pada "diet vegan" akan langsung runtuh ketika perut sudah keroncongan.
Penemuan ini tidak hanya menambah daftar panjang kecerdasan bertahan hidup monyet berumur panjang ini, tetapi juga membuka tabir evolusi diet manusia.
Mungkinkah nenek moyang kita juga mulai gemar makan daging murni karena kepepet?
Menurut Susana Carvalho, primatolog dari Taman Nasional Gorongosa dan rekan penulis studi, berburu mangsa kecil membantu capuchin menghadapi musim paceklik makanan nabati.
"Hal ini mungkin juga terjadi pada hominin (nenek moyang manusia)," ungkapnya kepada Science News sebagaimana dikutip oleh Smithsonian Magazine.
Penelitian ini awalnya hanya berniat mengamati kecerdasan capuchin dalam menggunakan alat.
Namun, dalam 5.000 jam observasi (2006-2010), para ilmuwan malah memergoki 446 insiden capuchin sedang asyik berpesta daging.
Perilaku ini memang lebih sering dilakukan oleh pejantan dewasa dan remaja, tetapi monyet betina dan anak-anak pun tak mau ketinggalan mencicipi 'barbekyu' mentah dadakan ini.
Bagian paling brutal sekaligus cerdik dari perburuan mereka? Begitu tangkapan didapat, capuchin langsung mengincar otak dan jeroan mangsanya terlebih dahulu.
"Ini memungkinkan mereka mendapat lemak kaya energi secara cepat, yang sangat menguntungkan sebelum mangsa itu direbut anggota kelompok lain," jelas Noemi Spagnoletti, ahli biologi konservasi dari Sapienza University of Rome.
Intinya, telan dulu bagian paling bergizi sebelum temanmu yang kelaparan ikut campur. Hukum rimba yang sangat praktis.
Meski simpanse sering mendapat sorotan utama sebagai kerabat dekat kita yang suka makan daging, capuchin membuktikan bahwa krisis lingkungan adalah pemicu insting karnivora yang ampuh.
Manusia modern memang satu-satunya primata yang rutin berburu hewan yang lebih besar dari tubuhnya sendiri, tetapi misteri tentang bagaimana awalnya kita melakukan itu perlahan terjawab.
Para peneliti berhipotesis bahwa ketika habitat Afrika timur menjadi semakin gersang pada akhir zaman Pliosen dan awal Pleistosen, tanaman tidak lagi bisa diandalkan sepanjang tahun.
Hewan-hewan kecil inilah yang menjadi "batu loncatan" bagi manusia purba sebelum mereka 'naik level' memburu mamalia raksasa.
Lagipula, berburu tikus dan kadal di musim kemarau jelas jauh lebih minim risiko ketimbang mati konyol terinjak mammoth, bukan?
Disadur dari Smithsonian Magazine - When Fruit Is Scarce, These Monkeys Hunt Animals. The Behavior May Offer Clues About the Origins of Humans’ Meat-Eating Habits yang diakses pada Agustus 2026.

إرسال تعليق