Para ilmuwan berhasil menyulap teleskop radio menjadi pemindai canggih untuk memantau satelit asing dan sampah antariksa yang membahayakan Bumi.
Ringkasan
- Radio teleskop dimanfaatkan sebagai penerima radar untuk meningkatkan kemampuan memantau satelit dan puing antariksa.
- Teknologi baru meningkatkan sensitivitas lebih dari 10 kali lipat, sehingga objek yang lebih kecil dan lebih jauh bisa terdeteksi.
- Pendekatan ini dinilai lebih cepat dan hemat biaya dibanding membangun fasilitas radar baru khusus.
LUAR angkasa di atas sana ternyata makin padat dan "bikin waswas". Ribuan satelit aktif, bangkai wahana antariksa, hingga serpihan sampah kecil melayang dengan kecepatan ribuan kilometer per jam.
Tanpa pengawasan yang ketat, benda-benda ini bisa saling bertabrakan atau bahkan mengancam satelit komunikasi dan navigasi yang kita gunakan sehari-hari di Bumi.
Guna mengatasi ancaman tersembunyi tersebut, tim peneliti internasional yang dipimpin oleh University of Birmingham menguji coba inovasi segar.
Mereka memfungsikan kembali teleskop radio riset dan antena komersial menjadi penerima radar independen.
Proyek bernama Long Baseline Multistatic Radar (LBMR) yang didanai oleh UK Space Agency ini terbukti mampu mendeteksi sasaran di orbit geostasioner (GEO)—wilayah sejauh 37.000 kilometer di atas permukaan Bumi.
Radar konvensional biasanya ngos-ngosan saat harus melacak objek kecil di jarak sejauh itu.
Namun, dengan menggabungkan raksasa teleskop radio seperti Lovell Telescope berdiameter 76 meter di Jodrell Bank, jaringan e-MERLIN, serta antena Goonhilly Earth Station, sensitivitas pemantauan meningkat hingga lebih dari sepuluh kali lipat!
Profesor Marco Martorella dari University of Birmingham menjelaskan bahwa keberhasilan demonstrasi LBMR menjadi langkah krusial untuk memantau satelit dan sampah luar angkasa secara operasional.
Menurutnya, teknologi ini penting untuk melindungi infrastruktur antariksa yang kritis agar penggunaan luar angkasa tetap aman dan berkelanjutan di masa depan.
Uji coba langsung yang digelar di fasilitas ESA ECSAT, Oxfordshire, menunjukkan bahwa sistem ini mampu mengolah data pantauan radar secara real-time.
Artinya, para operator satelit dan pihak keamanan bisa mengambil keputusan cepat jika ada potensi bahaya atau manuver mencurigakan dari satelit asing.
Orbit Geostasioner (GEO) adalah "real estat" paling berharga di luar angkasa. Di sinilah satelit cuaca, sistem navigasi, hingga komunikasi militer dan pemerintah beroperasi.
Mengingat posisinya yang bergerak seirama dengan rotasi Bumi, objek di sini seolah diam di satu titik. Jika ada bahaya tabrakan atau gangguan dari luar, dampaknya bisa melumpuhkan jaringan komunikasi global.
Melalui pendekatan inovatif LBMR, negara-negara sekutu tidak perlu menghabiskan dana astronomis untuk membangun fasilitas pemantau baru dari nol.
Memanfaatkan infrastruktur sains yang ada secara optimal terbukti menjadi jalan pintas yang cerdas, ekonomis, dan amat ampuh.
Disadur dari University of Birmingham – Scientists turn radio telescopes into space scanners – sharpening view of hidden orbital threats yang diakses pada Juli 2026.

Posting Komentar