Kulkas Raksasa Kutub Utara Bocor, Samudra Arktik Amankan Karbon Purba

Samudra Arktik mampu mengunci sebagian besar karbon dari permafrost yang mencair ke dalam sedimen dasar laut, alih-alih lepas ke udara.


Samudra Arktik mampu mengunci sebagian besar karbon dari permafrost yang mencair ke dalam sedimen dasar laut, alih-alih lepas ke udara.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Mikroorganisme laut hanya mengubah sekitar 10 persen karbon permafrost darat menjadi gas rumah kaca.
  • Bakteri dasar laut lebih suka melahap alga segar daripada "menyantap" karbon purba dari permafrost.
  • Meski karbon terkunci di dasar laut, lumpur erode tetap mengancam kehidupan laut karena menghalangi sinar matahari untuk fotosintesis.


BUMI sedang memanas, dan "kulkas raksasa" di Kutub Utara alias permafrost, yakni lapisan tanah yang membeku selama ribuan tahun, mulai mencair dengan kecepatan yang bikin khawatir. 


Selama ini, para ilmuwan mencemaskan lonjakan gas rumah kaca jika karbon purba yang terperangkap di permafrost terlepas ke atmosfer.


Namun, studi terbaru dari Alfred Wegener Institute (AWI) dan MARUM Universitas Bremen yang diterbitkan di jurnal Nature Geoscience membawa kabar yang lumayan melegakan. 


Berdasarkan analisis sedimen di pesisir Pulau Herschel (Qikiqtaruk), Kanada, mayoritas karbon terlarut ternyata tidak langsung terbang ke udara, melainkan terkunci rapat di dasar laut Samudra Arktik.


Bagaimana bisa karbon tersebut tidak langsung berubah menjadi CO₂ atau metana? Jawabannya ada pada selera makan mikroorganisme laut.


Dengan menganalisis isotop karbon (¹³C dan ¹⁴C) pada sedimen dan air pori (pore water), para peneliti melacak apa yang dikonsumsi oleh mikroba dasar laut. 


Hasilnya, mikroba di sana ternyata mirip "gourmet" atau pemilih makanan yang cukup elite. Mereka jauh lebih menyukai bangkai alga laut yang segar ketimbang karbon purba dari permafrost yang sudah lapuk dan keras.


Dari total karbon darat yang hanyut ke laut akibat erosi pesisir, yang diperkirakan mencapai 0,02 gigaton per tahun dan berpotensi melonjak hingga 150% pada tahun 2100, hanya sekitar 10 persen yang diubah oleh mikroba menjadi gas rumah kaca. 


Sisanya? Mengendap dan terkunci aman di dalam lumpur dasar laut.


Meskipun berita ini terdengar seperti napas lega bagi krisis iklim, bukan berarti kita bisa santai. Erusinya daratan Arktik membawa tumpukan lumpur dan material organik yang memperkeruh air laut pesisir.


Perubahan warna air ini menghalangi sinar matahari masuk ke dalam laut. Padahal, fitoplankton dan alga membutuhkan cahaya untuk berfotosintesis. 


Jika populasi alga terganggu, seluruh rantai makanan, mulai dari udang kecil, ikan, hingga anjing laut yang menjadi sumber pangan warga lokal Arktik, bisa ikut terdampak.


Para peneliti berencana menggali lebih dalam dampak ekologis ini melalui ekspedisi internasional Arctic Pulse pada tahun 2027 mendatang menggunakan kapal pemecah es Polarstern.


Disadur dari EurekAlert - The Arctic Ocean keeps permafrost carbon firmly locked yang diakses pada Agustus 2026.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama